​Kelahiran dan Pertumbuhan Iman akan Kebangkitan ( Lk 24, 13-35 )

​KELAHIRAN DAN PERTUMBUHAN
IMAN AKAN KEBANGKITAN
( Lk 24, 13-35 )

Iman akan kebangkitan tidak otomatis

Perayaan Paska tidak menjamin kelahiran atau kemunculan iman akan kebangkitan, pertumbuhan atau perkembangan, serta daya efektif dan operatifnya. Dengan dilaksanakan atau diselesaikannya perayaan (yang barangkali sangat meriah), iman yang demikian itu belum tentu dapat secara langsung dan tiba-tiba atau dengan sendirinya ada, tumbuh, serta menghasilkan atau mengerjakan sesuatu. Iman akan kebangkitan itu tidak otomatis. Atau, kalaupun iman seperti itu telah ada, iman itu belum sungguh-sungguh hidup (viva), eksplisit (explicita), dan operatif (operosa) (kan. 773).
Dua murid yang berjalan pulang dari Yerusalem ke Emaus adalah contohnya. Pada diri mereka sepertinya belum tumbuh atau mungkin bahkan mungkin belum ada akan kebangkitan itu. Sangat jelas, meyakinkan, dan pasti bahwa dalam diri mereka terdapat iman kepada Tuhan tetapi bukan iman akan kebangkitan Tuhan. Kenyataan bahwa mereka disebut sebagai murid-murid menunjukkan hal itu. Mereka beriman kepada Tuhan seperti umumnya orang Yahudi. Sangat mungkin mereka sebenarnya lebih dari itu karena merupakan murid-murid Yesus.
​Dua murid itu pulang dalam keadaan yang tidak berbeda dengan sewaktu mereka berangkat. Bahkan, lebih buruk daripada itu. Pesta, kebaktian, dan terutama perayaan iman yang di dalammnya mereka terlibat dan mengambil bagian tidak membuat mereka berbeda. Peristiwa iman itu sama sekali tidak mempunyai pengaruh pada cara berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak mereka. Mereka tetap sama. Pikiran, kata-kata, sikap, dan tindakannya tak berbeda dengan sebelumnya. Iman dan perayaannya itu tidak hanya tidak permormatif tetapi informatif pun tidak (Benedictus XVI, dalam Spe Salvi). ​

Harapan yang kandas

​Sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan, dua murid itu mempunyai harapan. Harapan mereka sangat jelas, kuat, dan mantap, yaitu: setelah Perayaan Paska akan terjadi perubahan dalam kehidupan. Sekalipun mereka menyadari bahwa tidak tahu persis bentuk dan proses terjadinya, mereka sungguh-sungguh meyakini bahwa akan terjadi perubahan yang besar. Perubahan yang dimaksud pastilah meliputi kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang sifatnya personal dan komunal.
​Paska usai dan ternyata tidak terjadi apa pun. Peristiwa yang mereka temukan dan alami justru menunjukkan yang sebaliknya. Tanda-tanda terjadinya perubahan sama sekali tidak tampak. Satu-satunya orang yang mereka harapkan akan menjadi tokoh atau pelaku utama perubahan justru ditangkap dengan kasar, dihakimi secara tidak adil, dijatuhi hukuman mati tanpa alasan memadai, dan akhirnya dibunuh secara keji.
Yang sungguh-sungguh terjadi, pelaku perubahan (the agent of change) yang diharapkan malah terkulai mati sebelum dapat memulai melakukan sesuatu. Lebih dari itu, Ia yang semula tampak luar biasa itu harus mati sebagai manusia biasa. Bahkan, Ia mati seperti seorang penjahat. Ia tergantung tak berdaya di kayu salib. Ia rebah terkulai di pangkuan Maria, IbuNya. Semuanya berakhir sebelum perubahan itu sungguh-sungguh mulai. Benih harapan yang dikehendaki tumbuh justru layu dan mati. Tak ada apa pun yang Ia tinggalkan. Yang tersisa dalam hati mereka hanyalah kesunyian, kegelapan, kekecewaan, dan kepahitan.

Iman lama tak berfungsi

Kesedihan yang dialami dua murid itu begitu kuat dan dalam. Kekecewaan mereka sangat berat. Keputusasaan mereka amat parah. Akibatnya, indera tidak dapat menangkap sebagaimana mestinya. Akal-budi tidak sanggup berpikir dan mengerti apa pun seperti yang senyatanya. Hati tidak mampu merasa secara yang seharusnya. Yesus yang hadir dan berjalan bersama mereka pun lepas dari perhatian mereka. Bahkan, Yesus yang dengan sangat fasih dan meyakinkan berbicara tentang Kitab Suci pun tidak mereka kenal. Bagi mereka dan pada saat itu, Yesus hanyalah sosok manusia asing yang kebetulan berada dan berbicara di situ. Kehadiran dan kata-kataNya terasa sama sekali tidak ada arti dan fungsi bagi mereka.
Akibat tidak hanya berhenti di situ. Kabar atau warta bahwa batu penutup kubur Yesus telah bergeser, kubur kosong, jenasah tidak ada, dan makhluk gaib yang mengatakan Yesus hidup, tidak punya daya apa pun yang dapat mengubah keadaan mereka. Iman yang selama ini mereka miliki (dan mereka pelihara) tidak berpengaruh apa pun pada diri mereka. Iman terasa benar-benar sia-sia. Iman terasa tidak relevan apalagi signifikan terhadap keadaan. Iman itu mati (bdk. Yak . 2, 17), kabur (bdk. 1Tim 1, 4; 2Tim 4, 4; Ef 4, 14), dan tak berdaya (bdk. Fil 2, 13; Ibr 13, 21).
Kabar atau warta itu betul-betul hanya berhenti sebagai informasi. Fungsinya hanyalah memberi, menyampaikan, atau menambah pengetahuan. Kabar atau warta itu tidak membangkitkan dan menumbuhkan keyakinan, kepercayaan, atau iman. Seperti cerita atau berita lain yang sampai pada pikiran, tetapi tidak menyentuh, tidak menggerakkan, atau tidak memberikan kesan yang berarti. Pada saat itu, kesan mengenai tragedi yang terjadi pada Yesus rupanya terlalu kuat untuk dapat digeser, dihapus, dan kemudian digantikan oleh kabar atau warta itu.

Lahirnya iman akan kebangkitan

Allah tidak membiarkan dua murid itu terus berada dalam kebuntuan atau ketidak-berdayaan karena iman mereka tidak berfungsi. Melalui Yesus Allah mengambil prakarsa. Berikut adalah cara yang ditempuh oleh Yesus agar lahir dalam diri mereka iman yang baru, iman akan kebangkitan. Cara itu mengambil bentuk yang berupa: sentakan atau hentakan, penjelasan mengenai Kitab Suci, dan pemecahan roti.
Sentakan atau hentakan. Kata-kata keras diucapkan dan ditujukan langsung kepada dua murid itu. Yesus berkata, “Hai kamu orang bodoh!”. Melalui kata-kata itu Ia hendak menyatakan bahwa telah lama dua murid itu beriman dan berharap akan Mesias. Sudah sering juga mereka mendengar atau diberitahu bahwa Mesias akan mengalami penderitaan. Tetapi, mereka tidak mau mengerti. Mungkin mereka pernah mendengar, tapi mereka tidak pernah sungguh-sungguh mau belajar mengenai hal itu. Mereka hanya sibuk mengenai gambarannya sendiri mengenai Mesias.
​Kata-kata keras yang mengikuti yang pertama adalah, “Betapa lamban hatimu”. Sudah lama dan mungkin cukup sering dua murid itu mendengar tentang kebangkitan tapi mereka tidak segera sampai pada keyakinan itu. Terlalu banyak waktu mereka sia-siakan, terbuang, atau dibiarkan lewat percuma. Usia mereka telah dewasa tapi iman mereka akan kebangkitan masih tetap sangat kanak-kanak atau bahkan belum lahir sehingga belum ada.
​Penjelasan Kitab Suci. Setelah gertakan dilakukan, Yesus menguaraikan Kitab Suci. Dalam hal ini Yesus menjelaskan tempat atau peran Mesias dalam rencana Allah. Lebih daripada itu, Ia menjelaskan berbagai hal yang mesti dialami Mesias, termasuk penderitaanNya. Semua itu tidak hanya disampaikan tetapi sekaligus diterangkan kepada mereka. Dengan penjelasan itu, mereka diajak oleh Yesus untuk mendasarkan iman terutama pada Kitab Suci.
​Pemecahan roti. Setelah masuk ke rumah dua murid itu dan duduk makan bersama mereka, Yesus mengambil (menerima) roti, mengucap berkat, memecah-mecahkan, dan memberikannya kepada mereka. Yesus tidak hanya menyampaikan apa yang tertulis tentang Dia, tetapi melakukan apa yang Ia sendiri katakan mengenai diriNya. Ia melakukan apa yang Ia pesankan kepada para rasulNya. Setelah itu, Ia menghilang dan tidak tampak lagi oleh mata dua murid itu.
.
Iman terasa mulai powerful

​Setelah iman akan kebangkitan itu lahir dan bertumbuh, selanjutnya iman itu mulai menunjukkan dayanya. Iman itu mulai mencipta (kreatif). Iman itu juga mulai membentuk (formatif) dan mengerjakan sesuatu (operatif). Tanpa menyadari apa yang sesungguhnya terjadi, dua murid itu perlahan-lahan terlepas dari dominasi kesedihan, kekecewaan, dan keputusasaan mereka. Mereka menjadi bersemangat. Mereka menjadi sangat antusias dan intensif mendengarkan dan merenungkan Sabda. Hati mereka menyala. Perjalanan rupanya tidak terlalu terasa melelahkan. Dengan demikian mereka segera sampai pada tujuan.
Selain itu, orang yang semula asing itu tidak lagi asing bagi mereka. Daya iman mereka dengan halus menjadikanNya bagian dari mereka. Mulai terpikir dalam benak mereka keadaan dan kebutuhannya. Lebih dari itu, mereka berusaha melakukan sesuatu untuk memenuhinya. Tumbuh dalam hati mereka kesediaan untuk berbagi tempat, makanan, dan minuman. Bahkan, mereka mendesak agar orang yang semula asing itu mau menerima kebaikan mereka.
​Akhirnya, iman akan kebangkitan itu mengubah mereka menjadi pribadi-pribadi yang berani. Malam tidak lagi menjadi halangan. Keadaan gelap bukan lagi hambatan. Bahaya yang mungkin terjadi karena malam dan gelap tidak lagi mereka takuti. Mereka tidak menunggu sampai esok hari tetapi segera bergegas kembali ke Yerusalem. Mereka siap menjadi saksi atas apa yang baru saja mereka alami (iman akan kebangkitan). Mereka siap pergi dan mendatangi orang lain untuk berwarta. Mereka menjadi orang-orang yang berbeda. Mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. Mereka menjadi manusia-manusia Paskah!

BUONA PASQUA!

Faith in the Risen Christ makes all things possible,
(Iman akan Kristus yang bangkit membuat segalanya mungkin)
Hope in Him makes all things work,
(Harapan kepadaNya membuat segalanya jalan)
Love in Him makes all things beautiful …!
(Cinta kepadaNya membuat segalanya indah)

Bogor, 27 April 2011 dan diperbarui 7 April 2015

RD. Y. Driyanto​

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *