Acies Komisium Bintang Timur – Bogor

Pagi itu, Minggu, 23 Maret 2014, hujan turun cukup deras di kawasan Bogor bagian barat, namun hal tersebut tak menyurutkan semangat para legioner untuk menghadiri Acies Komisium Bintang Timur, yang tahun ini diadakan di komplek Sekolah Marsudirini, Telaga Kahuripan, Kemang-Bogor. Beberapa presidium yang datang dari luar Bogor sempat tersesat di kawasan perumahan, akan tetapi puji Tuhan, mereka semua dapat tiba tepat waktu di Kapel Hati Kudus Yesus. Bahkan sebagian legioner dapat beristirahat sejenak di kantin Marsudirini, sambil menikmati snack yang telah disediakan oleh panitia.

Wajah para legioner terlihat dipenuhi sukacita, karena inilah hari yang paling dinantikan oleh mereka. Hari ini, para legioner berkumpul untuk memperbaharui janji kepada Bunda Maria, serta untuk menerima kekuatan dan berkat sebagai bekal untuk pertempuran melawan kekuatan jahat selama setahun ke depan. Kata Acies sendiri berasal dari kata Latin yang berarti “pasukan yang siap bertempur”. Para legioner, baik anggota aktif, maupun anggota auxilier adalah para serdadu Maria yang ditugaskan untuk menghancurkan kepala ular dan meluaskan Kerajaan Kristus. Ini adalah tugas yang tidak ringan. Oleh karena itu, Acies yang diadakan setahun sekali, berdekatan dengan Hari Raya Kabar Sukacita (25 Maret), adalah kesempatan untuk mengisi kembali semangat dan kesetiaan para legioner.

Ada yang istimewa pada Acies Komisium Bintang Timur kali ini. Uskup Keuskupan Bogor yang baru, yakni Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, berkenan untuk hadir dan memimpin Perayaan Ekaristi. Kehadiran beliau tentu saja semakin menambah kebahagiaan dan kebanggan di hati para legioner. Para legioner pun bersyukur atas kehadiran para Pemimpin Rohani dalam Acies ini, yakni RD. Agustinus Deddy Budiawan (Pemimpin Rohani (PR) Komisium Bintang Timur), RD. Jimmy Jackson Rampengan (mantan PR Komisium, kini menjadi PR Presidium Ratu Para Rasul-Sukabumi), dan RD. Hieronimus Hilarion Hendrik Arief (PR Presidium Ratu Yang Diangkat ke Surga-Sukasari). Tak ketinggalan, koor dari Seminari Stella Maris dan para Suster Novis FMM membuat suasana Perayaan Ekaristi menjadi semakin berkesan.

Tepat pukul 09.30, hujan reda. Para pembawa vandel mengawali perarakan masuk ke dalam kapel, diikuti oleh para petugas liturgi, para imam konselebran, dan Bapa Uskup sebagai selebran. Perayaan Ekaristi diawali dengan Doa Tesera yang dipimpin oleh Sr. Mariani, OSF, didampingi oleh Ibu Erna yang bertugas untuk memimpin lima puluhan doa rosario suci.

Mgr. Paskalis membuka homilinya dengan kutipan dari bacaan Injil hari itu, yakni : “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” (Yoh 4:42). Kalimat itu adalah kesimpulan yang dinyatakan oleh orang-orang Samaria, setelah mereka mendengar kesaksian wanita Samaria yang bercakap-cakap dengan Yesus. Wanita itu menyampaikan kepada mereka, bahwa ada seorang Mesias yang mengenal seluruh hidupnya. Kalimat itu pun merupakan ungkapan komitmen yang tegas dari orang-orang Samaria yang mengalami Yesus dan mengakui bahwa Yesus benar-benar juruselamat manusia.

Bapa Uskup kemudian menyampaikan kebahagiaan hati beliau karena bisa merayakan Acies ini bersama-sama dengan legioner Keuskupan Bogor. Beliau yakin bahwa para legioner tidak menjadi legioner dengan berat hati atau karena paksaan. Memang masih ada semacam ketakutan bagi umat Katolik untuk bergabung dalam Legio Maria karena ada sistem-sistem yang teratur. Namun itulah Legio Maria. Dan sekali lagi beliau mengungkapkan bahwa beliau amat senang bisa menyaksikan bahwa ada banyak orang yang memiliki komitmen untuk mengikuti Kristus dan menerima spirit Bunda Maria. Dengan menyerahkan diri kepada Bunda Maria, para legioner menyatakan bahwa mereka adalah milik Bunda Maria. Ini adalah salah satu kekhasan dalam Gereja Katolik, yakni adanya penghormatan (devosi) kepada Bunda Maria. Kekhasan ini sering sekali dirongrong oleh pihak-pihak di luar Gereja Katolik. Maka, para legioner haruslah menjadi yang pertama dalam membela tradisi ini, dengan cara semakin yakin atas apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, dan menjadi misionaris seperti wanita Samaria dalam bacaan Injil. Beliau juga menyampaikan sebuah kalimat Latin yang begitu terkenal : “Per Mariam Ad Jesum”, yang berarti melalui Maria kita mau percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat kita.

Kalimat “Aku adalah milikmu”, menunjukkan bahwa para legioner mau mengabdi kepada Tuhan seperti Bunda Maria sendiri. Para legioner harus selalu mengingat spirit Bunda Maria sendiri, yang ia ungkapkan dalam perkataan “Terjadilah padaku menurut perkataanMu.” Ini haruslah menjadi spirit kita semua. Kemudian beliau juga menjelaskan makna dari perarakan vandel yang dilakukan pada bagian awal perayaan Ekaristi. Di Eropa pada abad pertengahan, vandel adalah lambang bagi pasukan yang siap bertempur. Bagi para legioner, simbol ini hendaklah mengingatkan kita semua agar bersama-sama membangun semangat mengikuti Kristus.

Lebih lanjut beliau menyampaikan rasa syukurnya, bahwa Keuskupan Bogor memiliki orang-orang yang militan, memiliki semangat militer. Legio Maria adalah serdadu Bunda Maria, maka bersama Bunda, hendaklah para legioner mengabdikan hidupnya kepada Tuhan. Bunda Maria diminta untuk menjadi Bunda Tuhan. Ia terbuka terhadap rencana Allah itu, meskipun pada awalnya ia tidak mengerti. Dalam ketaatannya dan keterbukaan hati kepada Allah, ia berkata “Aku ini hamba Tuhan”, dan kemudian ia bersukacita karena Tuhan, seperti yang dapat kita dengarkan dalam Kidung Maria (magnificat).

Seperti orang-orang Samaria yang menjadi percaya karena mereka mengalami perjumpaan dengan Yesus, maka para legioner pun pasti memiliki pengalaman pribadi yang meneguhkan, hingga akhirnya sampai pada iman bahwa Tuhan adalah Juruselamat. Dan inilah yang membuat para legioner mau menggabungkan diri dalam kelompok militan Legio Maria. Legioner harus berkobar-kobar menyampaikan bahwa “Saya telah melihat Tuhan”, seperti yang disampaikan oleh para orang-orang Samaria. Dalam Injil Yohanes, kita mendengar bahwa Yesus meminta air pada perempuan Samaria. Injil menegaskan bahwa kita telah diberi air kehidupan oleh Tuhan melalui pembaptisan. Air adalah lambang kehidupan, dan air begitu erat dalam tradisi Gereja Katolik, yakni dalam pembaptisan. Tuhan telah mengalirkan air dan Roh kehidupan. Roh inilah yang membuat kita berkobar-kobar untuk percaya kepada Dia yang telah memberikan kehidupan. Dengan keyakinan ini, para legioner akan terus memiliki kekuatan yang berkobar-kobar. Saat kita dibaptis, kita mengatakan kepercayaan kita kepada Tuhan, lalu kepercayaan itu ditegaskan kembali dalam organisasi Legio Maria, dimana para legioner bertekad untuk percaya, dan mau diutus untuk mewartakan kebaikan Tuhan.

Pada akhir homilinya, Bapa Uskup mengharapkan agar semangat para legioner janganlah hanya suam-suam kuku, namun setiap legioner harus mau berkorban dari hatinya untuk menyampaikan, bahwa mereka telah menemukan Tuhan yang mahabaik, memperhatikan, mengampuni, berbelas kasih, dan Tuhan yang selalu meminta untuk berbuat baik. Dengan masuk dalam Legio Maria, hendaknya para legioner semakin yakin bahwa mereka telah menemukan saudara dan saudari untuk bersama-sama memajukan iman dan menemukan Tuhan, sehingga para legioner bisa mengalahkan kekuatan setan dan kejahatan. Tak lupa, dengan memperbaharui janji kesetiaan kepada Kristus, kita semua diharapkan untuk semakin setia hidup bersama dalam persekutuan Gereja Katolik. Semoga Legio Maria semakin bertumbuh, berkembang, dan mencari anggota yang lain , sehingga pada Acies tahun depan ada pertambahan jumlah legioner.

Usai homili, Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan pengucapan janji penyerahan diri, yang diawali oleh Mgr. Paskalis, dan diikuti oleh para imam konselebran, para petugas liturgi, para perwira komisium, serta para legioner, dan umat yang hadir. Sambil berlutut di depan veksilum besar, semuanya mengucapkan dengan lantang : “Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanMu.” Setalah penyerahan diri secara pribadi, maka dilanjutkan dengan penyerahan diri secara bersama-sama.

Sebelum berkat penutup, disampaikan sambutan-sambutan, yakni dari Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM; RD. Agustinus Deddy Budiawan; Sdr. Stefanus Sugiarto selaku ketua panitia; serta Sdr. Stephanus Prabowo sebagai Ketua Komisium Bintang Timur. Dalam sambutannya, Bapa Uskup menyampaikan terima kasih beliau kepada para pemimpin rohani yang telah mendampingi para legioner selama ini. Beliau kemudian menyebutkan paroki-paroki di Keuskupan Bogor, dan meminta para legioner dari paroki yang beliau sebutkan itu untuk berdiri. Tindakan beliau ini mendapat sambutan meriah dari para legioner. Setiap ada nama paroki yang disebut, selalu ada tepuk tangan dan sorak gembira. Melalui proses ini, beliau ingin tahu paroki mana saja yang belum memiliki dan belum tumbuh Legio Marianya. Sekali lagi beliau mengungkapkan kebahagiaannya atas para legioner sebagai orang-orang yang setia pada Kristus dan tradisi Gereja. Tak ketinggalan, beliau juga menyampaikan fokus pastoral Keuskupan Bogor yang terdiri dari lima hal. Fokus yang pertama adalah “Keluarga Katolik yang Sejati”. Legioner hendaknya ikut pula memperhatikan kehidupan keluarga, dan mau ambil bagian dalam kegiatan yang diadakan oleh Komisi Keluarga dan PCC (Pastoral Counseling Center). Legioner juga diharapkan mau membuka diri bagi orang-orang yang mau berbicara dengannya, mengembangkan pastoral keramah-tamahan, dan menjadi manusia yang bersukacita seperti Bunda Maria. Fokus pastoral yang kedua adalah “Pastoral Generasi Muda”, atau yang dikenal sebagai OMK (Orang Muda Katolik), ini terkait dengan keprihatinan bahwa angka perkawinan beda agama di Keuskupan Bogor adalah yang tertinggi se-Indonesia. Maka legioner harus dapat menarik orang muda kita. Fokus yang berikutnya adalah “Sekolah dan Pendidikan”, karena di sekolah inilah para remaja menghabiskan waktunya, sehingga sekolah adalah tempat yang tepat untuk menanamkan iman Katolik. Fokus yang keempat adalah “Gereja Politis”, namun bukan berarti bahwa legioner harus masuk ke dalam partai politik. Legioner harus memperhatikan apa yang bisa disumbangkan bagi masyarakat dengan masuk ke dalam jenjang pengatur kebijakan, dan tidak tuli terhadap masalah masyarakat. Fokus pastoral yang terakhir adalah “Manusia-Manusia yang Bermutu dalam Gereja Katolik”. Para legioner diharapkan dapat ikut ambil bagian untuk mewartakan lima fokus pastoral ini kepada umat Keuskupan Bogor, sambil mendoakannya dan mohon pertolongan Bunda Maria.

Sedangkan Romo Deddy dalam sambutannya mengatakan bahwa Bunda Maria adalah sang inspirator. Dengan mau menjawab “Ya”, ia memberi teladan untuk memahami dan menjalankan apa yang dipahami, serta memahami apa yang dijalankan. Seperti Bunda Maria yang sunggguh-sungguh, para legioner pun harus sungguh-sungguh menyadari apa yang diucap dan janjikan, dan senantiasa berjuang untuk menjadi legioner yang selalu meneladani Maria, sang inspirator.

Bapak Stefanus Sugiarto, Ketua Presidium Ratu Segala Bangsa-Parung, sekaligus Ketua Panitia Acies 2014, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Bapa Uskup, para Pemimpin Rohani, Komisium, presidium, serta para suster OSF di Sekolah Marsudirini. Beliau menyampaikan kebanggaannya karena Bunda telah banyak menjaring generasi muda pada Acies hari ini, yakni para seminaris dari Stella Maris, dan para siswa yang tinggal di asrama. Hampir setahun berlalu sejak Presidium Ratu Segala Bangsa ditunjuk menjadi panitia penyelenggara Acies 2014. Perjalanan panjang dan berliku harus mereka lalui agar acara ini dapat terselenggara dengan baik. Salah satunya adalah Acies tidak dapat diselenggarakan di “gereja” (bangunan semi permanen yang selama ini digunakan umat untuk merayakan Ekaristi) di Paroki St. Joannes Baptista-Parung, karena kondisinya yang kurang kondusif. Akan tetapi, kondisi ini tidak menyurutkan semangat para panitia. Dengan bantuan dan kebaikan hati para suster OSF dan para donatur, akhirnya para legioner dapat melaksanakan acara tahunan ini di komplek Sekolah Marsudirini. Tercatat ada sekitar 200 orang hadir dalam acara istimewa ini.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Sdr. Bowo, selaku Ketua Komisium Bintang Timur. Sdr. Bowo menyampaikan sukacita para legioner karena Bapa Uskup berkenan memimpin Acies. Ia pun berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, juga menyampaikan selamat kepada para legioner yang telah memperbaharui janjinya. Tak lupa ia menyampaikan bahwa untuk Acies 2015 akan diadakan di Kapel St. Maria Fatima, Bondongan, dengan panitia dari Presidium Perawan Yang Setia-Bondongan dan Presidium Ratu Yang Diangkat ke Surga-Sukasari.

Setelah berkat penutup, acara dilanjutkan di kantin Marsudirini, yang diisi dengan acara ramah-tamah. Sambil menikmati makan siang, para legioner dihibur oleh penampilan dari Presidium Yunior Ratu Para Orang Kudus-Jonggol yang menyanyikan dua buah lagu yang begitu menginspirasi para legioner. Kemudian Presidium Puteri Kerahiman Sejati-Gunung Putri menggetarkan panggung dengan menarikan poco-poco. Mereka berhasil mencairkan suasana dengan mengajak Bapa Uskup dan para Romo untuk ikut berpoco-poco. Hingga akhirnya panggung betul-betul meriah karena banyak legioner yang ikut menari poco-poco bersama mereka, bahkan karena begitu meriah, tarian dilakukan hingga dua putaran lagu.

Acara Acies diakhiri dengan foto masing-masing presidium bersama Bapa Uskup dan para Pemimpin Rohani. Para legioner begitu antusias dengan sesi foto ini, sehingga mereka rela menunggu hingga akhir acara. Apalagi Bapa Uskup dan para imam dengan ramah melayani para legioner yang menyalami mereka satu persatu. Ini betul-betul menambah sukacita dalam diri legioner karena bisa berinteraksi lebih dekat dengan mereka. Menjelang pk. 15.00, para legioner membubarkan diri dan meninggalkan komplek Sekolah Marsudirini.

Sampai jumpa pada Acies 2015 di Kapel Santa Maria Fatima, Bondongan!

(Ignatia Marina Sudiarta-Sekretaris I Komisium Bintang Timur-Bogor)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.