Berfoto bersama Wanita Katolik RI

Berfoto bersama Wanita Katolik RI

Dialog buruh dengan Bapa Uskup yang sedianya direncanakan diadakan tanggal 1 Mei 2014 bertepatan dengan Hari Buruh, karena padatnya agenda Bapak Uskup, baru dapat dilaksanakan pada hari Minggu, 6 Juli 2014, bertempat di aula Paroki Kristus Raja Serang.

Acara Dialog dibuka dengan kata sambutan dari Pastor Paroki setempat yaitu RD. Adi Indiantono yang menyatakan bahwa Pekerja Katholik seyogyanya memikirkan apa yang mereka dapat perbuat  untuk Gereja. Sementara di lain pihak Gereja memberi kesempatan kepada para pekerja ini untuk berkarya nyata dalam Gereja. Rm Adi mengajak para pekerja Katholik untuk menjadi pengikut Yesus, karena sebagai Katholik, seseorang tidak otomatis menjadi pengikut Yesus. Hal ini dapat dilihat dari rajinnya orang tersebut berdoa tapi tidak melaksanakan karya perutusan.

Dalam prolognya, Bu Liest mengutarakan bahwa Paroki Serang terpilih sebagai tuan rumah dialog buruh karena di sini sangat potensial untuk pembinaan para buruh. Di bagian barat terdapat industri berat yang padat modal, sementara di wilayah timurnya berkembang industri padat karya dimana terdapat 30 ribu buruh yang 90%nya adalah perempuan dan Cikande tetap solid setelah ditinggal oleh KAJ sementara buruh-buruh di daerah lain yang dulunya sempat terorganisir dengan baik seperti Cibinong, mulai tak terdengar kiprahnya. Melihat banyaknya kaum buruh di seluruh keuskupan Bogor, membuat Bogor terlihat seksi untuk pendampingan buruh.

Acara Dialog dibagi menjadi 2 termin. Pada termin I dibuka dengan 3 pertanyaan

  1. Yanti : Bagaimana kiat berkolerasi dengan pekerja lain yang berbeda umur dan jabatan
  2. Supriatun : Bagaimana kesan Bapak Uskup terhadap gerakan para buruh selama ini
  3. Kusmiati : Para buruh berangan-angan memiliki paguyuban yang berdikari dan memiliki ruang sekretariat. Apakah gereja dapat memfasilitasi hal ini ?

Jawaban dari Bapak Uskup :

  1. Dalam berhubungan antar sesama pekerja, haruslah dijaga keharmonisannya, untuk itu perlu saling menghayati peran masing-masing dalam kontelasi perusahaan tersebut. Masing-msing harus menerima adanya perbedaan jenjang karir namun bukan berarti hanya melihat sebagai atasan dan bawahan yang membuat semangat kekatolikan hilang. Semangat katolik/gereja katolik adalah menghargai sesama dan mengupayakan keadilan. Maka masing-masing harus komit untuk memajukan perusahaan, yang dijajaran manajemen harus komit pula untuk membuat kebijakan yang berkeadilan.

 

  1. Keuskupan Bogor harus bertanggung jawab atas umatnya yang berkarya di keuskupannya.  Sejak Konsili Vatikan II dalam GS, Paus sangat mendukung kaum buruh karena beliau pun pernah menjadi buruh. Tokoh Buruh seperti Lech Wawensa bahkan bisa menjadi pemimpin Negara. Di Keuskupan ada PSE, ada Bu Liest yang menjadi tokoh buruh, ada Wanita Katolik RI yang berpakaian biru-biru itu, sengaja saya undang untuk menghadiri dialog ini sebagai tindak lanjut acara Talk-show pada peringatah HUT Wanita Katolik RI ke 90 yang dilaksanakan pada Sabtu, 28 Juni 2014. Dimana pada kesempatan tersebut saya mengajak para ibu yang tergabung dalam wadah organisasi Wanita Katolik RI kembali ke semangat awal terbentuknya organisasi ini, yaitu peduli terhadap hajat hidup kaum buruh. Karena sebagaimana kita ketahui bersama, Wanita Katolik RI terbentuk pada 26 Juli 1924 di Jogyakarta karena kepedulian para ibu terhadap buruh dengan mengajarkan membaca, menulis serta berbagai keterampilan kepada Ibu-ibu dan buruh wanita yang bekerja di pabrik rokok Negressco. Saya mengajak Wanita Katolik RI DPD Bogor untuk memancarkan diri di kaum buruh bahwa mereka mempunyai banyak saudara dengan meningkatkan perhatian. Mengacu pada Serang, bagaimana mendampingi kaum buruh yang sedang berjuang.

 

  1. Mengenai sekretariat, kemarin Wanita Katolik RI juga meninta ruang sekretariat, mungkin bisa dimulai dari Paroki Serang. Untuk tingkat Keuskupan, mungkin bisa bekerja sama dulu dengan PSE yang memiiki ruangan di keuskupan, bila memang berkembang baik, dapat dipikirkan untuk memiliki sekretariat sendiri. Jadi personnya dulu dibentuk dengan baik, jangan nanti sudah punya sekretariat malah terbengkalai karena tidak ada yang komit untuk mengurus.

Bu Liest mempersilahkan Rm. Adi untuk menanggapi tentang kepedulian gereja terhadap pendampingan para buruh di Paroki Serang. Romo menyatakan bahwa dulu di Serang selalu ada frater atau pastor yang ditunjuk khusus untuk mendampini kaum buruh. Sejak Rm. Habel ditarik ke Katedral untuk menjadi Ketua Komkep, tidak ada lagi pendamping khusus kaum buruh. Namun pada setiap Jum’at ke 4 setelah misa ada pertemuan sambung rasa dengan para buruh di Cikande yang membahas bagaimana mereka tidak hanya katholik tetapi dapat sungguh menjadi pengikut Kristus. Romo juga menyatakan kegembiraannya bahwa ada KEP khusus kaum muda yang pesertanya banyak dari Cikande. Pada Jum’at ke 2 siang hari jadwal misa ke Kawasan Modern, sedangkan Indah Kiat mendapat jatah pada Jum’at ke 3. Sebulan sekali pada hari Kamis ke Anyer. Semua itu bentuk konkrit perhatian gereja terhadap kaum buruh.

Bu Liest menambahkan bahwa dulu pernah direncanakan ada seorang romo yang oleh Bapak Uskup Michael Angkur akan diberi tugas untuk secara khusus menjadi pendamping kaum buruh. Sejak frater sudah live-in selama 4 bulan di Cikande, tetapi setelah ditahbiskan ternyata malah dicemplungkan di paroki dan sekarang ditarik ke keuskupan. Orang itu adalah Rm. Hary yang kita kenal sebagai sekretaris Bapak Uskup.

Berkaitan dengan Centrum/Sekretariat untuk pusat kegiata buruh, Rm Tukiyo sebagai Ketua PSE Keuskupan menyampaikan bahwa PSE adalah pembantu uskup, dimana dalam salah satu bagiannya adalah memberi perhatian untuk kaum buruh, maka kantor PSE ada tersedia untuk para pemerhati buruh.

Termin ke 2 diajukan 3 pertanyaan

  1. Suripto : Bagaiman cara bersikap dan bekerja dalam serikat pekerja karena sering terjadi banyak benturan
  2. Marsimus : Bagaimana sikap gereja terhadap pemerintahan terkait soal  pekerja outsourching
  3. Bernadus Sitanggang : Meminta kepada Bu Liest sebagai pengurus Serikat Pekerja untuk menyadarkan para pengurus agar tidak bertarung sendiri karena ada kepentingan pribadi sehingga serikat hanya dipakai sebagai kendaraan politik. Tidak sepeeti Lech Wawensa yang dapat mempersatukan seluruh kaum buruh di Rusia sehingga dapat menjadi satu kekuatan besar yang dapat menggerakkan bangsa. Harus ada tolok ukur untuk kesejahteraan buruh, punya itikad baik untuk memperjuangkan buruh. Bagaimana buruh dapat duduk di pemerintahan Harus ada skala prioritas bagaimana buruh sebaiknya bersikap, tidak ada manajemennya.

Jawaban dari Bapak Uskup :

  1. Serikat seharusnya membantu membuka pikiran bahwa para buruh mempunyai hak berdasarkan UU. Serikat yang baik mengetahui mana yang hak mana yang merupakan kewajiban sehingga dapat menciptakan keadilan yang timbal balik. Kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah atau kebijakan serikat itu sendiri.

 

  1. Gereja berpandangan bahwa orang harus mendapatkan keadilan. Sedangkan pekerja Outsourching, dia mendapat upah yang tetap sama dari tahun ke tahun, sewaktu-waktu dapat diputus. Jelas orang ini tidak menerima keadilan tapi banyak yang mau menerima kondisi ini karena kurangnya lapangan pekerjaan. Kebanyakan masih memiliki mental yang mau bergantung pada pengusaha bermodal besar. Kurang berminat menciptakan lapangan kerja usaha kecil, sehiungga bisa diharapkan tidak lagi mencari pekerjaan tetapi menciptakan pekerjaan. Atau harus berani mencari penghasilan lain yang muncul dari kratifitasnya sendiri.

 

Jawaban dari Bu Liest :

Saya bukan pengurus Serikat Pekerja. Saya adalah Sekretaris Forum Pendamping Buruh Nasional. Ada beberapa keuskupan di Indonesai yang tergabung dalam Forum Pendamping Buruh ini. Forum Pendamping Buruh Nasional terbentuk Tahun 1998 yang salah satu inisatornya adalah Keuskupan Bogor. Pada waktu itu KWI melihat bahwa Gereja harus kritis melihat Serikat Pekerja dan orang-orang yang berada di dalam Serikat Pekerja. Kami mendampingi Serikat-serikat pekerja sebagai upaya memberdayakan mereka dengan memberikan pelatihan ERT, keterampilan membuat masakan yang layak jual, diberikan juga pendalaman rohani agar tidak terjadi kawin campur tetapi tidak ada respon positif dari para buruh katolik pada waktu itu, sehingga kami bergerak di Buruh Muslim. Sehingga ketika Great River tutup pada tahun 2004, mereka sangat berterima kasih karena sudah mempunyai kreatifitas untuk memperoleh pendapatan sendiri

 

Kami memnberi pencerahan kepada pengurus-pengurus serikat bahwa aksi turun ke jalan sudah tidak elegan tetapi bagaimana kita dapat lebih mengajukan bargaining power. UU 13 memang memnungkinkan terjadinya benturan-benturan diantara para buruh karena mudahnya membentuk Serikat Pekerja sehingga dalam satu perusahaan dimungkinkan terdapat lebih dari satu Serikat Pekerja. Saya tidak masuk dalam Serikat Pekerja sebagai pengurus tetapi sebagi pendamping mereka, mencoba menularkan nilai-nilai injil kedalam Serikat Pekerja. Untuk daerah sekitar Bogor sampai jalur Puncak, PSE Keuskupan sangat terkenal diantara Serikat Pekerja yang ada di sana.

 

Menutup penjelasannya Bu Liest menyatakan bahwa itulah buruh yaitu mereka yang mempunyai satu-satunya income berupa upah yang setiap bulan September – November harus berjuang mati-matian untuk kenaikan besarannya, Kontrak , Outsourching, jaminan yang hilang, seperti cuti haid, di banyak tempat ini sudah tidak diberlakukan, bukankah ini bentuk kekerasan terhadap perempuan. Operator perempuan harus berdiri sekian jam setiap hari yang memungkinkan mereka untuk terkena varises dimana berdampak serius terhadap kesehatan mereka. Mengetahui kondisi ini, Bu Ning sebagai Ketua Presidium DPD Bogor apa yang Wanita Katolik RI dapat perbuat ?

 

Bu Ning menuturkan bahwa mungkin dapat dijalin kerjasama dalam bentuk pelatihan-pelatihan ketrampilan, karena di Wanita Katolik RI ada program yang bernama PPUK. Nanti bisa diatur dengan DPC setempat dimana para buruh itu berada.

 

Bu Liest menyampaikan kepada para buruh untuk menyambut baik tawaran ini, namun memang perlu diingat bahwa mereka biasanya bekerja shif-shif-an sehingga agak sulit mengumpulkan mereka dalam waktu yang sama.

 

Bu Liest memberi kesempatan kepada Yanne untuk menyampaikan pendapat. Yanne mengatakan bahwa sebagai orang katolik, saya hanya berusaha menanam nilai kekatolikan ketika bekerja dan berhadapan dengan manajemen  maupun buruh bahwa rule is rule. Sebagai praktisi bidang HRD selama 15 tahun pada suatu pabrik di kawasan industri Cikarang, dimana terdapat Serikat Pekerja yang terkenal keras, sangat paham bagaimana susahnya mencapai kesepakatan dengan mereka.

Ketika berhadapan dengan pemegang saham yang mencoba bermain/melecehkan peraturan, saya mengatakan anda berinvestasi dan berusaha di Indonesia, dan itulah peraturan yang ada di sini, jadi hormatilah peraturan itu tidak bisa anda samakan dengan peraturan yang ada di negara anda.

Kepada para buruh selalu ditekankan bahwa anda tidak bisa selalu menuntut terus menerus. Semua orang pasti menginginkan upahnya terus bertambah besar tapi sebesar apapun pasti tidak pernah merasa puas dam cukup. Perlu diingat bahwa ketika kinerja anda membaik tentu ada penilaian karya dari atasan dan itu berdampak pada kenaikan upah, Jadi tunjukan bahwa anda memang layak untuk diberi lebih.

Kebetulan selain sebagai pengurus Wanita Katolik RI DPD Bogor, saya juga di Komisi Pelayanan Hukum membawahi bidang perburuhan. Maka bagi siapa saja yang memerlukan pencerahan/bantuan hukum, silahkan menghubungi kami di Keuskupan. Kami piket setiap hari minggu dari pagi sampai siang.

 

Berkaitan dengan Komisi Pelayanan Hukum, Bapak Uskup menyatakan bahwa sejalan dengan 5 sendi Keuskupan Bogor yaitu :

  1. Keluarga Katolik yang bermutu
  2. OMK
  3. Kepemilikan persekolahan
  4. Dimensi politis dalam hidup gereja
  5. SDM yang berkualitas

Maka Buruh diharapkan dapat menjadi SDM yang berkualitas dan Komisi Pelayanan Hukum dapat memberi pencerahan terhadap buruh tentang SDM berkualitas seperti apa.

 

Di akhir acara, Purwanto perwakilan dari Cileungsi menyampaikan bahwa setelah dilepas dari KAJ, paguyupan menjadi kacau. Untuk itu berharap Keuskupan Bogor komit memberikan pastor yang benar-benar peduli dengan buruh.

 

Perwakilan dari Cibinong menyampaikan bahwa di Cibinong masih berupa embrio, mau belajar dari Serang untuk bagaimana berkomunikasi membangun solidaritas pekerja dan gereja juga ikut berpartisipasi menyelesaikan permaslahan kaum buruh.

 

Bapak Uskup menggaris bawahi untuk membangun komitmen bersama antara Kekuskupan dan buruh dengan pastor yang mendampingi buruh, untuk membangun mimpi yang dikawal bersama PSE, Wanita Katolik, Paroki dan Komisi Pelayanan Hukum.

 

MC menyimpulkan bahwa  perlu :

Konsolidasi buruh di paroki masing-maing

Pendampingan buruh

Jambore buruh seperti yang dulu pernah dibuat dengan KAJ

 

Acara ditutup dengan pemberian kenangan2 dari PPKC kepada Bapak Uskup, foto bersama dan makan siang. Sayonara sampai ketemu di acara lainya.

 

Serang, 06 Juli 2014

Penulis : Yanne Marciana

 

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone
Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *