Sosialisasi Forum Masyarakat Katolik Indonesia

Foto 3 - Sebagian umat Paroki MBSB yang menghadiri acara   sosialisasi FMKI.

“Jangan biarkan orang lain mengambil keputusan mengenai nasibmu tanpa kamu terlibat di dalamnya.” Ucapan tersebut dilontarkan oleh Mgr. Soegijapranata SJ kepada IJ Kasimo. Soegijapranata adalah Vikaris Apostolik Semarang, yang kemudian menjadi Uskup Agung Semarang. Romo Soegija dikenal karena pendiriannya yang pro-nasionalis: “100% Katolik, 100% Indonesia”.

Sedang IJ Kasimo, lengkapnya Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahjono, merupakan pendiri Partai Katolik Indonesia. Kasimo pernah menjabat sebagai menteri. Ia memberi teladan penting bahwa berpolitik itu adalah pengorbanan tanpa pamrih dan harus dengan prinsip yang dipegang teguh.

Materi itulah, antara lain, yang menjadi catatan penting dalam sosialisasi tentang Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), Keuskupan Bogor, Minggu, 14 Juni 2015, jam 13.30-15.00 di Gedung Serba Guna, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) di Kota Wisata, Gunungputri, Bogor. Hadir dalam acara yang diselenggarakan seksi Kerasulan Awam tersebut Romo RD Benyamin Sudarto, Pastor Kepala Paroki MBSB yang juga pencetus berdirinya FMKI Keuskupan Bogor, Romo RD Yohanes Suradi, Frater Bartolomeus Wahyu, dan sejumlah umat paroki.

 

Sementara, dari FMKI Keuskupan Bogor dipimpin oleh Anton Sulis, Ketua FMKI Keuskupan Bogor, bersama beberapa anggotanya. Di antaranya, Jusuf Suroso aktivis politik yang pernah menjadi anggota DPR/MPR era Orde Baru dan External Affairs Soegeng Sarjadi Syndicate, dan Djadijono, mantan peneliti senior di CSIS dan aktivis Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi).

Apa itu FMKI?

FMKI adalah forum yang mewadahi keterlibatan umat Katolik dalam kegiatan politik. Lahirnya forum ini tak lepas dari keprihatinan Romo Mangunwijaya Pr. ketika melihat tak ada umat Katolik yang terlibat dalam kegiatan politik. Semuanya melempem. Padahal kita selalu terkena dampak dari setiap keputusan politik. Misalnya, kebijakan tentang pendidikan atau kenaikan harga BBM pasti akan berdampak ke masyarakat, termasuk umat Katolik. “Maka, lebih baik kita bersikap aktif ketimbang pasif,” kata Romo Ben dalam sambutan pembukaan sosialisasi FMKI.

Menurut Anton, tugas orang Katolik bukan hanya mengajak orang bertobat dan menjadi Katolik. “Bukan hanya itu. Tugas orang Katolik adalah menjadi saksi hidup dan mewartakan kehadiran Kristus. Di antaranya melalui kegiatan politik,” ungkap Anton.

 

Bahkan Paus Fransiscus mengatakan, “Seorang Katolik yang baik hendaknya terlibat dalam bidang politik dengan memberikan yang terbaik dari dirinya sendiri. Berpolitik sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja, merupakan salah satu bentuk tertinggi dari karya amal, karena melayani kepentingan umum.”

FMKI Keuskupan Bogor dibentuk pada 28 September 2013 dan dipimpin oleh Anton. Paparnya, “Nilai-nilai yang menjadi pegangan kami adalah nilai-nilai Kristiani, berpihak pada yang miskin dan lemah, konsisten dan independen.” Mengingat luasnya cakupan kegiatan politik, FMKI Keuskupan Bogor memiliki beberapa divisi. Di antaranya, divisi sosial politik, lingkungan hidup, media relation, perempuan, hukum dan keadilan, serta kerja sama lintas agama.

Anton mengungkapkan bahwa 60% visi Keuskupan Bogor adalah dalam bidang sosial politik. Katanya tegas, “Tapi, justru di situ kita paling lemah.”

Dalam menjalankan perannya, FMKI bergerak di tataran politik etis, bukan politik praktis. Salah satu misi FMKI adalah memilih orang-orang yang baik dan mendorongnya masuk ke dalam lingkungan politik, seperti di DPR. Untuk bisa merealisasikan misinya, FMKI memanfaatkan luasnya jejaring (network).

Selain itu FMKI juga berperan membantu penyelesaian berbagai masalah sosial, seperti penutupan gereja, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya. “Kami membantu penyelesaiannya tanpa harus melibatkan gereja. Sebab, FMKI bukan underbouw gereja. Kami independen,” kata Anton.

Dalam menjalankan perannya, banyak tantangan yang dihadapi FMKI. Misalnya, sesama umat Katolik terpecah karena ada yang mendukung calon A, ada yang memilih calon B. Atau, ada dua calon dari satu daerah pemilihan. Mana yang akan direkomendasi oleh FMKI untuk maju. Tantangan lain adalah apatisme politik. Banyak umat Katolik yang tidak peduli dengan urusan politik. “Mereka menganggap dunia politik itu kotor,” ungkap Anton.

Padahal, lebih banyak ruginya kalau umat Katolik hanya diam. “Kita harus ikut menentukan tujuan. Jangan hanya diam. Sebab kalau diam, kita hanya akan menjadi korban. Utamanya korban dari keputusan-keputusan politik yang salah. Jadi lebih baik aktif ketimbang pasif,” kata Anton.

 

Bahkan lebih dari itu, suara umat Katolik terbukti sangat strategis. Misalnya, suara tersebut pernah menjadi penentu dalam kemenangan pemilihan kepala daerah di suatu kota, yang hanya tipis selisih perolehan suaranya.

Foto 1 - Romo Benyamin Sudarto saat membuka sosialisasi   tentang FMKI      Jadi, FMKI mampu memainkan peran secara strategis. Dalam konteks itulah sosialisasi FMKI di Paroki MBSB menjadi penting setidak-tidaknya karena tiga hal. Pertama, pada akhir tahun 2015 akan dilangsungkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Salah satunya adalah Pilkada di Kabupaten Bogor.

Kedua, pada tahun depan Keuskupan Bogor akan menjadi tuan rumah dari pertemuan nasional FMKI se-Indonesia. Acara ini menjadi penting untuk konsolidasi FMKI.

Ketiga, itu tadi, masih tingginya apatisme umat Katolik di Keuskupan Bogor terhadap kegiatan politik. FMKI Keuskupan Bogor diharapkan mampu meretas masalah tersebut.

Kini beberapa tantangan sudah terbentang. “Apa yang mau dilakukan umat Paroki MBSB setelah tahu masalah ini?,” tantang Romo Ben. Ini adalah tantangan kita bersama. Maka, harus kita jawab secara bersama-sama pula.

JB. Soesetiyo

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

One thought on “Sosialisasi Forum Masyarakat Katolik Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *