Haggai Institute National Leadership Training Programme

Hari Pertama

20140717_134022

Setelah pertemuan Komisi Kateketik Senin 7 Juli 2014 dengan Bapa Uskup, kami, Theresia Ratih Sawitridjati dan Petrus Dinar Subagyo ditawari untuk mengikuti Seminar Leadership yang diselenggarakan Haggai Institute Indonesia di Talita Bukit Raya Cipanas 14-16 Juli 2014. Sejujurnya saya ingin sekali mengatakan ‘ya, saya bersedia’ langsung, tapi berusaha menahan diri karena mesti meminta ijin pada suami dan anak-anak apalagi hari-hari itu sudah masuk masa sekolah di tahun ajaran baru bagi mereka.

 

Ternyata suami mendukung dan anak-anak mengijinkan, jadi berangkatlah saya. Singkat cerita, walaupun mengalami beberapa halangan karena kendaraan yang saya tumpangi mengalami kemacetan di beberapa tempat, saya tiba tepat pada jam makan siang. Selain kami, ada juga para Imam dan Frater yang dikirim Bapa Uskup untuk mengikuti seminar ini. Mereka adalah Romo Dwi Karyanto, Romo Jimmy Rampengan, Romo Untung, Romo Habel Jadera, Romo Hendrik, Romo Deddy dan Frater David. Begitu tiba di tempat seminar, kami disambut dengan sangat ramah oleh Ibu Francisca Gazali sebagai ketua panitia sekaligus pemilik Hotel Talita ini.

 

Sesi pertama dimulai sedikit bergeser dari waktu semula. Menurut jadwal yang telah dibuat seharusnya sesi pertama berupa icebreaker dimulai pada pukul 11.45, tetapi bergeser menjadi tepat pukul 12 siang. Acara ini dimulai dengan perkenalan peserta yang unik, kami tidak diminta memperkenalkan nama kami melainkan nama buah yang kami anggap dapat mewakili diri kami termasuk alasan pemilihan buah tersebut. Peserta terbanyak adalah dari kelompok Suster JMJ dari Manado, Makassar dan Jakarta beserta staf sekolah dan rumah sakit yang dikelolanya, kemudian kelompok Keuskupan Bogor dan aktivis Persekutuan Doa Shekinah dari Jakarta.

 

Acara perkenalan dilanjutkan langsung dengan acara pembukaan berisi sambutan dari ketua panitia, ketua Ikatan Alumni Haggai Institute di Indonesia dan penjelasan mengenai visi dari Haggai Institute. Visi Haggai Institute disampaikan oleh Bapak Christono Santoso sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Haggai Indonesia. Visinya adalah “Kabar Baik diberitakan khususnya bagi mereka yang belum terjangkau dalam kuasa Roh Kudus sesuai dengan konteks budaya Indonesia”. Visi ini hendak menjawab perintah Yesus sendiri sebelum naik ke Surga, seperti yang tertulis dalam Matius 28:19-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

 

Pak Chris menekankan bahwa kabar baik itu perlu disampaikan dengan cara yang sesuai dengan konteks budaya Indonesia. Sehingga dalam misinya dikatakan bahwa Haggai Institue Indonesia “memperlengkapi para pemimpin Kristen agar dapat memberitakan kabar baik bagi bangsa sendiri dan melatih pemimpin-pemimpin lain untuk melakukan hal yang sama”. Setiap murid Yesus, yang telah dibaptis mendapatkan perintah ini, dan diharapkan setelah mengikuti seminar ini kami dapat memberi dampak, tentu saja yang baik, bagi orang-orang di sekitar kami.

 

Setelah istirahat 15 menit yang benar-benar 15 menit kami langsung masuk ke materi mengenai Integrity. Ketepatan waktu merupakan salah satu cara untuk menghargai orang lain, selain juga menjadi bentuk disiplin diri. Materi tentang integritas ini diberikan oleh Bapak Adrian Permana. Setelah tanya jawab dengan peserta mengenai pemahaman kami mengenai integritas, Bapak Adrian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan integritas adalah keutuhan, kesempurnaan dan tidak ada cacat dalam hal ini untuk melaksanakan amanat agung yang tertera di Matius 28:19-20. Integritas juga berarti jujur, tulus dan benar, dipercaya karena konsistensi antara perkataan, karakter dan tindakan. Integritas bekerja dengan cara menjaga motif hati kita, hidup transparan dan memiliki kesaksian hidup yang tidak beraib, tidak bernoda dan tidak bercela. Seorang pemimpin diharapkan memiliki integritas karena integritas adalah karakteristik pertama yang paling kritis dari seorang pemimpin, juga merupakan fondasi untuk membangun rasa percaya.

 

Kita dapat melihat dan merasakan sendiri bagaimana jika pemimpin kita tidak memiliki integritas. Situasi dunia saat ini sungguh memprihatinkan karena kita melihat banyak pemimpin yang tidak menunjukkan integritas ini. Hal ini terjadi baik dari pemimpin pemerintahan maupun pemimpin rohani. Maka pertama kali kami diminta untuk benar-benar lahir baru menjadi manusia yang berintegritas.

 

Materi berikutnya adalah materi Biblical Mandate and Methods, diberikan oleh Bapak
Dr. Ir. Fu Xie. Masih berpedoman pada mandat Yesus sebelum diangkat ke Surga pada Matius 28:19-20.  Bapak Fu Xie mengingatkan akan empat unsur yang harus diperhatikan yaitu :

  1. Pemberi mandat yaitu Kristus sendiri
  2. Yang diberi mandat adalah kita semua murid-murid Kristus
  3. Isi mandat ada dua macam yaitu menjadikan semua bangsa murid Kristus dan  mengajarkan segala sesuatu yang Yesus perintahkan.
  4. Area mandat adalah seluruh dunia tetapi dimulai dari lingkungan kita yang dalam yaitu keluarga, teman kerja, teman sekolah, dan seterusnya.

Sikap kita dalam menerima mandat haruslah menganggapnya sebagai suatu anugerah, memiliki belas kasihan kepada jiwa-jiwa yang perlu ditolong dan diselamatkan. Sehingga dalam melaksanakan mandat kita dapat melakukannya dengan penuh sukacita.

 

Sebelum istirahat malam, Bapak Adrian membahas mengenai Pemimpin dan Rasa Aman juga Pemimpin dan Kekudusannya. Abraham Lincoln pernah berkata bahwa “bila ingin menguji karakter seseorang berilah dia kekuasaan”. Kekuasaan seringkali membuat seorang pemimpin lupa bahwa dia harus membawa organisasinya ke tingkat yang lebih tinggi dan dengan hasil yang lebih baik. Untuk itu harus ada komitmen dan integritas yang tinggi terhadap organisasinya. Rasa aman akan terancam jika seorang pemimpin mulai ingin mempertahankan kekuasaan maupun kedudukannya. Ia tidak lagi memfokuskan diri kepada Tuhan, melainkan sesuatu atau seseorang. Selain itu kekudusan pemimpin dapat mengalami pencobaan ketika dia dihadapkan pada pilihan dalam hidup. Seorang pemimpin yang berhasil adalah seorang yang berkenan dalam hati Tuhan, seorang yang bisa menjaga kekudusan (yang paling kritis adalah kehidupan seksual) dan hidup benar di hadapan Tuhan.

2 thoughts on “Haggai Institute National Leadership Training Programme

  1. John KH Roembiak says:

    sangat benar dan itulah yg harus dilakukan dan tak boleh berhenti

    Saya alumni haggai institute 2005 apakah bisa mendaftar? Tks.

  2. Pdt. Renold Gultom, S.Th says:

    Shalom Haggai Institute
    Saya Pelayan di Gereja GKPI di Siantar, kami bermohon agar kiranya bapak Pimpinan Haggai Institute kiranya bersedia memberi pelatihan di gereja kami.. trims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *