Hakikat Berpuasa : Pembaharuan Hidup untuk Keintiman Relasi dengan Tuhan

Renungan Senin, 21 Januari 2019

Peringatan Santa Agnes, Martir dan Perawan. 

Berbagai agama atau kepercayaan punya kebiasaan atau kewajiban berpuasa. Gereja Katolik punya tradisi berpuasa tersendiri. Minggu pertama bulan Maret nanti kita memasuki masa Prapaskah. Kata banyak orang, cara berpuasa orang Katolik itu sangat ringan, yakni makan kenyang cukup sekali sehari. Itu pun “diwajibkan” pada hari Rabu Abu dan  Jumat  Agung selama masa Prapaskah. Hari-hari lainnya silahkan berpantang. Karena sangat ringan, justru berat untuk dilakukan, bukan?

Walau tampaknya ringan, jika cara berpuasa hanya demi menjalankan ajaran atau ritualitas agama, maka kita tidak akan bisa memahami maknanya. Kita berpuasa tidak untuk pamer diri atau dapat pujian, tidak mencari kehormatan atau kemuliaan diri. Jika yang kita cari sebaliknya, maka kita seperti orang Yahudi, yang dikisahkan dalam Injil harian hari ini. Yesus menegur orang-orang Yahudi yang punya cara berpikir dan bertindak salah dalam memaknai puasa atau ajaran agama pada umumnya. Yesus menegaskan bahwa berpuasa harus jelas dan tepat tujuannya, ibarat anggur baru yang harus ditaruh pada kantong baru, bukan kantong lama.

Analogi perumpamaan yang dipakai Yesus itu hendak mengajarkan kepada kita bahwa sebagai umat beriman agar tidak terlalu terikat pada ritual ajaran atau rutinitas agamis. Menurut Yesus, berpuasa itu suatu sikap pembaharuan hidup yang terus menerus yang membawa kedekatan diri dengan Tuhan. Bukankah Yesus sendiri juga berpuasa, bukan untuk jadi orang sakti, tetapi untuk membangun relasi intim dengan Bapa-Nya agar mengerti dan mampu menjalankan tugas perutusan dan kehendak Allah Bapa. Bagaimana cara berpuasa anda selama ini? Have a blessing Monday. (Sabda di atas batu karang : Ibr 5:1-10, Mrk 2:18-22)

Penulis : Antonius P

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.