Bogor-Keuskupan : Hari Pangan Sedunia (HPS) adalah gerakan bersama mendunia untuk mengembangkan kesadaran pemerintah dan rakyat akan pangan yang cukup, sehat dan bermutu bagi semua orang. Hari Pangan Sedunia (HPS) yang diperingati setiap tanggal 16 oktober ini diprakarsai oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) saat konferensi umum ke-20 di Roma, Italia dan ditetapkan sebagai World Food Day melalui Resolusi PBB Nomor 1 tahun 1979, dan idenya dicetuskan oleh delegasi Hongaria yang dipimpin Menteri Pertanian dan Pangan Hongaria Dr Pal Romany.img-20160925-wa008
Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia yang ke 36, Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dan Seksi Keluarga Paroki Santo Ignatius Loyola Semplak Bogor mengadakan berbagai kegiatan yaitu seminar, lomba masak pangan sehat (9/10) dan bazaar (9/10) dengan tema “Mewujudkan Keluarga Sehat melalui Pangan Lokal”.
Rangkaian kegiatan ini diawali dengan Seminar Pangan Sehat pada hari Minggu (25/9) dari pukul 10.30wib sampai dengan pukul 13.30wib bertempat di halaman samping gereja. Dibuka dengan kata sambutan oleh Pastor Paroki Santo Ignatius Loyola Semplak Bogor, pastor RD. Antonius Dwi Haryanto.
Dan mengundang dua orang nara sumber yaitu Prof. Dr. Ir. Fransiska Rungkat Zakaria, MSc ( Ahli Gizi ) dari Katedral Bogor dan Irma Arlini Dewi, STP., MSc dari Kantor Ketahanan Pangan kota Bogor.
Adolf Parhusip, Ketua Seksi Keluarga yang juga MC dalam acara tersebut menyatakan “Seminar ini bertujuan untuk menyadarkan dan mengedukasi seluruh umat katolik di paroki Santo Ignatius Loyola Semplak, untuk membiasakan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang.”img-20160925-wa006
Senada dengan Adolf Parhusip di ungkapkan oleh Agnes Pinky, Ketua Seksi PSE, yang juga penyelenggara acara ini. Seminar ini seharusnya dihadiri oleh 72 umat sebagai perwakilan dari 14 lingkungan dan kategorial. “Sangat disayangkan ada beberapa lingkungan yang tidak mengirimkan wakilnya untuk menghadiri seminar ini, padahal seminar ini penting, selain sebagai tambahan pengetahuan kita akan menerapkan pola hidup sehat di jaman yang serba instant ini, juga sebagai bekal para peserta lomba masak dalam menentukan menu masakan yang akan dilombakan,” ungkap Agnes Pinky.
Acara ini ditutup dengan penyerahan sertifikat dan penghargaan kepada dua nara sumber. Dan makan siang yang unik, nasi langgi yang dibungkus dengan daun pisang, sebelumnya dibuka dengan snack rebusan yang dibungkus juga dengan daun pisang, untuk mengurangi limbah plastic. (ari-pse)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *