Insan Pendidikan Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Kota Wisata Berefleksi bersama Bapak Uskup

Bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, pada 1 Mei 2014, para insan pendidik dan peduli pendidikan berkumpul untuk berefleksi bersama tentang pendidikan masa kini. Kegiatan ini menghadirkan nara sumber Bapak uskup Bogor, Mgr. Paskalis Syukur Bruno, OFM dan Romo Yohanes Driyanto, Pr. Didahului dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Bapak Uskup pukul 08.30 di gereja Maria Bunda Segala Bangsa.

Acara ini dihadiri oleh Pastor Paroki Yohanes Maria Ridwan Amo, Pr, sekitar 400 guru dan pemerhati pendidikan, dikemas dengan bentuk interaktif, tanya jawab sekitar pendidikan. Beberapa point menarik yang perlu untuk refleksi bersama yang disampaikan oleh Bapak Uskup dalam menjawab pertanyaan-pertanyan peserta antara lain:

Semangat Perjumpaan (Spiritualitas Encountership)
Semangat perjumpaan yang dialami oleh Bunda Maria ketika menerima tugas penting untuk mengandung Sang Juru Selamat, dijawab dengan semangat untuk selalu memuliakan Tuhan (Magnificat Anima Mea Dominum). Demikian juga perjumpaan Maria dan Elizabeth memberi semangat dalam tugas peutusan mereka. Keuskupan dalam menatap masa depan pun demikian, melaksanakan tugas yang dipercayakan Tuhan kepada kita dengan suatu martabat luhur bahwa Allah mempercayakan tugas kepada kita.

Spiritualitas Awam
Dalam konteks membangun kekatolikan Konsili Vatikan II menegaskan peran awam begitu besar. Guru atau pendidik memiliki peran yang cukup strategis di sekolah dalam mengajarkan kekatolikan kepada anak-anak. Perlu dibangun suatu disiplin dan dedikasi yang tinggi. Pada masa kini semangat tersebut dirasakan bekurang, mungkin karena para guru terlalu sibuk dengan kurikulum. Para guru tidak memiliki waktu lagi untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan pewartaan. Padahal pendidikan iman sangat membutuhkan keterlibatan para guru untuk bersama memikirkan masa depan anak-anak yang jumlahnya semakin banyak. Keprihatinan ini muncul karena banyak orang tua di paroki ini yang kerja seharian penuh.

Kembali kepada Kitab Suci
Dalam kehidupan sehari-hari acap kali umat kita tidak berani bicara tentang Kitab Suci. Alasan yang sering muncul adalah bahwa bagi orang Katolik, yang penting hidupnya baik. Hendaknya dipikirkan oleh sekolah-sekolah Katolik yang selama bertahun-tahun mendidik anak, namun outputnya masih belum berani untuk bicara tentang Yesus Kristus. Semangat untuk hidup baik hendaknya didasarkan pada sumber ajaran Yesus yang terdapat dalam Kitab Suci. Kita perlu refleksi bersama apakah kita pernah membaca Kitab Suci? Jika kita tidak pernah membaca Kitab Suci bagaimana kita dapat mengajari anak-anak kita untuk rajin membaca Kitab Suci? Jika kita mau menanamkan semangat untuk membaca Kitab Suci niscaya akan muncul kader-kader yang berani untuk masa depan. Dibutuhkan suatu metode yang cocok bisa diterapkan agar anak senang mempelajari Kitab Suci.

Peran Berbagai Pihak
Untuk mecapai tujuan membentuk kader-kader membutuhkan peran bebagai pihak dalam mendidik anak. Yang utama adalah orang tua hendaknya mampu meluangkan waktu untuk memberi kesempatan kepada anak membaca Kitab Suci. Sumber sangat mudah didapatkan sekarang, misalnya per tema: kejujuan, keadilan, kedisiplinan, bela rasa dan lain-lain dapat diperoleh melalui internet. Peran Pastor Paroki hendaknya mau bekerjasama dengan sekolah-sekolah di parokinya, mendampingi para pendidik, dan anak-anak. Karena sekolah merupakan strategis dalam memberikan penanaman iman katolik. Tokoh-tokoh pemerhati pendidikan katolik juga diberi tempat untuk berdialog, memberi masukan-masukan tentang pendidikan yang dibutuhkan zaman ini. Dan terakhir peran guru dan para pendamping kegiatan-kegiatan kategorial di gereja, mereka mempunyai peran yang amat penting dalam menanamkan pendidikan kekatolikan di kelas maupun di gereja.

Langkah ke Depan
Para pendidik hendaknya berani membuat langkah-langkah dan metode-metode baru. Banyak umat muda di sekolah maupun di kelompok-kelompok kategorial. Ke depan hendaknya kita tidak takut mendalami Kitab Suci, mengakrabkan anak dengan Kitab Suci. Anak-anak masuk dalam kegiatan-kegiatan di paroki (Legio Maria, Putera Altar, KEP, KTM dan sebagainya). Gereja Katolik sangat kaya dalam tradisinya, terutama kegiatan luturginya. Dalam tingkat keuskupan apakah dapat disatukan antar MPK dan Komdik. Di paroki sendiri diadakan komisi pendidikan, sehingga dapat menyatukan insane pendidikan di paroki baik yang bekerja di sekolah negeri maupun sekolah katolik atau kristen.

Dalam kata akhirnya Uskup memberikan peneguhan dan harapan: “Kita bisa dengan kemampuan kita untuk melakukan perubahan”.

Romo Driyanto menambahkan paparan Uskup, beberapa hal yang patut untuk dicermati dalam pendidikan penanaman iman zaman ini adalah:

  1. Anak hendaknya diberikan suatu teladan yang menyenangkan, karena jika guru atau orang tua memberikan teladan yang baik dan menyenangkan maka anak akan tertarik untuk menirunya.
  2. Iman harus berfungsi positif sehingga tidak mati. Maka dibutuhkan suatu katekese atau kotbah, yaitu menyampaikan suatu ajaran iman, moral, dan ajaran sosial gereja. Guru yang baik selalu belajar dari sikap dan tindakan anak. Melalui katekese dan kotbah, iman membawa serta perbuatan baik, iman menjadi eksplisit,dan iman menjadi operatif.
  3. Selain melalui katekese, kita hendanya berupaya melalui pengalaman hidup kristiani diri sendiri, orang lain dan orang kudus.
  4. Supaya iman hidup, eksplisit, dan operatif dibutuhkan pengajaran yang berkualitas, yaitu satu dari tiga kegiatan: berkeliling berbuat baik, menyembuhkan, dan mengajarkan pengetahuan, kerampilan, dan sikap.
  5. Pengajaran yang berkualitas karena adanya motivasi hati yang tergerak. Tujuannya adalah tahu diri, orang lain, Tuhan dan sesama.
  6. Identitas dan misi kita adalah garam mengasini dan cahaya menerangi.
  7. Penegasan prinsip adalah TIDAK terhadap materi, ketenaran, dan kekuasaan.
  8. Perlu membangun suatu komunitas dengan orang yang mau. Yesus dialami dalam hidup sehari-hari secara personal dna komunal.

Para peserta setia sampai akhir acara, meskipun direncanakan selesai pukul 15.00, tetapi karena permintaan peserta acara diundur sampai pukul 17.00. semoga kegiatan ini menjadi awal yang baik untuk kita tindak lanjuti dalam tugas pewartaan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.