Kesejatian Keluarga Allah

Renungan Harian 

Selasa, 29 Januari 2019
Bacaan : Ibr 10:1-10, Mrk 3:31-35
HR St. Joseph Freinademets (Imam), St. Gildas yang Bijaksana (Pengaku Iman)

Sewaktu sekolah kita dipahamkan tentang aneka konsep keluarga. Yang mendasar keluarga itu kumpulan dua orang yang terikat dalam perkawinan, hidup bersama anak-anak yang dilahirkan atau adopsi. Itu keluarga inti. Jika ada kakek nenek, sanak kerabat sedarah lalu menjadi keluarga besar. Namun dalam perkembangannya, konsep keluarga tidak lagi dibatasi karena hubungan darah atau kekerabatan, tetapi sudah melampaui batasan suku, agama, ras, pendidikan, geografis, asal muasal, dll., bahkan waktu. Contohnya, keluarga besar alumni KEP adalah kumpulan dari mereka yang pernah ikut KEP dari angkatan awal sampai sekarang. Di antara mereka sebagian besar tidak ada hubungan saudara keturunan, bukan?

Injil hari ini menjelaskan konsep baru tentang keluarga dan persaudaraan. Dikisahkan, saat Yesus mengajar, ibu dan saudara-saudaraNya datang hendak menemuiNya. Tidak jelas maksud kedatangan mereka. Mereka menemui Yesus mau ikut mendengarkan ajaranNya atau mau mengambil Yesus untuk segera pulang, supaya Yesus beristirahat dulu dari bamyak aktivitas mengajar dan pelayananNya. Dari peristiwa kedatangan ibu dan saudara-saudaraNya, Yesus hendak menyatakan bahwa hidup sebagai orang beriman, janganlah kita terlalu mementingkan keluarga atau saudara sendiri. Menurut Yesus, konsep ikatan keluarga atau saudara bukanlah karena hubungan darah atau keturunan. Ikatan relasi demikian sering ada perpecahan, misalnya karena rebutan warisan.

Ajaran baru Yesus tentang keluarga atau persaudaraan berkaitan dengan konsepsi kelanggengan hidup abadi. Konsep-Nya itu adalah relasi personal yang intim dan hidup di antara anggota keluarga dan sanak saudara dalam persekutuan bersamaNya dengan Allah.
Relasi yang demikian mengandaikan suatu sikap yang mengerti dan sikap ketaatan diri dalam melaksanakan setiap kehendak Allah. Berkat Sakramen Baptis kita menyatakan diri sebagai anggota Keluarga Allah, menyebut diri sebagai saudara Kristus, atau anggota GerejaNya. Namun, adakah kita sungguh mengerti dan mampu melaksanakan kehendak Allah dalam hidup kita sehingga kita layak disebut ibu dan saudara-saudara Yesus?

Penulis : Antoni Purbi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.