Pada tanggal 11-16 September 2017, PSE KWI mengadakan Konpernas ke XXIV yang dilaksanakan di Whiz Prime Hotel Kelapa Gading. Konpernas PSE ke XXIV dengan tema “Menjaga dan Mengelola Hak Hidup Ekonomi Masyarakat Lokal”. Konpernas ini dihadiri oleh Ketua Komisi PSE Keuskupan, Staf Program Komisi PSE Keuskupan, Pengurus PSE KWI, peserta khusus (KKP, Komkep, Kerawam, dan SGPP), Nara Sumber/ Tim Ahli, peserta peninjau (KWI dan Karina), dan sekretariat Komisi PSE KWI.

Pada hari pertama,Konpernas dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Ketua KWI Mgr. Ign Suharyo, Ketua PSE KWI Mgr. John Saklil, dan Ketua Komkat KWI Mgr. Paskalis Bruno Syukur. Dalam homili Mgr. Suharyo mempertanyakan sebenarnya PSE itu mau berkarya dimana dan seperti apa? Karena di negara telah ada begitu banyak lembaga yang memperhatikan kepentingan rakyat? Tetapi Mgr. Suharyo memberikan penekanan lebih lanjut yaitu PSE seharusnya bergerak di dalam mempengaruhi moral dan sosial ke arah yang lebih baik.Setelah perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang dihadiri juga oleh Dirjen Bimas Katolik, Wakil WaliKota Jakarta Utara Bapak Junaedi, pengusaha Katolik, tokoh akademisi dan penggerak terkait.

Pada hari keduapertemuan dibuka dengan informasi agenda dan laporan badan pengurus. Karya kerasulan PSE KWI tahun 2014-2017 dengan tema “Kerasulan PSE Dalam Gerak pemberdayaan Rasuli”. “Kerasulan PSE dalam gerak pemberdayaan rasuli telah menghasilkan pembaharuan perutusan dalam hal a). Keberlanjutan kaderisasi kerasulan PSE bagi orang muda katolik, mahasiswa/i, para frater dan imam muda serta kelompok-kelompok kategorial yang lain b). Peningkatan perbaikan tata kelola gerakan APP dan HPS, dan c). Membangun kerja sama dan jejaring dalam ber kerasulan PSE. Pada akhirnya juga menjadikan para rasul PSE memiliki semangat visioner-profetis-profitis.

Setelah pemaparan agenda dan laporan dari badan pengurus, kemudian dilanjutkan oleh Mgr john Saklil berkaitan dengan pemaparan arah dasar gerak kerasulan PSE KWI 2017. Beliau memaparkan begitu banyak permasalahan yang menjadi keprihatinan bersama dan berharap itu menjadi gerak bersama pula di dalam mengatasinya.

Sesi kedua berkaitan dengan paparan hasil identifikasi Keuskupan-keuskupan. Realitas gerak dan keterlibatan Gereja katolik Indonesia. Beberapa hal yang disampaikan dalam identifikasi ini antara lain kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan pemanfaatan SDA, kasus-kasus kritis yang terjadi dalam pemanfaatan SDA bagi komunitas, reaksi kritis gereja katolik dalam menanggapi kasus-kasus yang muncul dan reaksi ideal yang harus dibuat Gereja dimasa yang akan datang.

Setelah itu para peserta diajak untuk mendiskusikan berkaitan dengan hasil kajian identifikasi tersebut berkaitan dengan siapa saja pihak-pihak yang dirugikan?apakah program PSE dengan tindakan ada hubungannya dengan tema yang saat ini diangkat untuk konpernas? siapa atau apa yang menyebabkan krisis ? dan apakah PSE sudah memadahi dan terintegrasi dalam merespon dengan tema Konpernas? itulah pertanyaan yang diberikan kepada peserta dan didiskusikan dalam kelompok yang dibagi ke dalam 10 kelompok kecil, setelah itu para kelompok diajak untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Pada hari kedua ini, di tutup dengan perayaan Ekaristi dan setelah itu dilanjutkan denga  santap malam.

Pada hari ketiga, sesi diisi oleh Bapak Yanuar Nugroho. Tema yang diangkat dalam pertemuan ini berkaitan dengan Kebijakan program NAWACITA dalam konteks besar pembangunan Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa melalui NAWACITA inilah Bapak Presiden Joko Widodo ingin menyejahterakan rakyatnya. Banyak tantangan yang harus dihadapi dan dilalui di dalam menjalankan program tersebut.Sesi selanjutnya dilanjutkan oleh Sdr. A. Maftuchan yang mengungkapkan tentang Memanfaatkan UU desa: peluang dan risikonya. Dalam pembicaraannya, beliau mengungkapkan tentang UU desa dan regulasi tentang desa, peluang dan tantangan menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui UU desa, resiko dan bahaya implementasi UU desa, peran organisasi sosial dan gereja dalam implementasi UU desa dan prioritas advokasi dan intervensi.

Pada hari ketiga ini juga ada pembicara yang memberikan kesaksian tentang pengalaman hidupnya di dalam menjalankan tugas-tugasnya. Kedua pembicara adalah Bupati Kulon Progo, Bapak Hasto Wardoyo sebagai tokoh dari pemerintahan dan Bapak Daeng Matteru sebagai tokoh masyarakat sipil. Bapak Daeng mengungkapkan tentang pengalamannya menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat supaya memanfaatkan segala sesuatu yang sudah ada di desa, supaya mempunyai nilai lebih dari hasil karyanya atau hasil yang ada di perkebunannya. Sedangkan Bapak Hasto mensharingkan tentang pengalamannya menjadi Bupati Kulon Progo. Beliau mengungkapkan bahwa ia berjuang untuk memberikan yang terbaik untuk rakyat. Beliau telah menanamkan ideologi yang baik bagi masyarakat. Masyarakat Kulon Progo mempunya selogan yaitu beli kulon progo dan bela Kulon Progo, artinya bahwa segala SDA dan SDM yang ada di kulon progo dimanfaatkan dengan baik untuk perkembangan masyarakat di kabupaten Kulon Progo.

Hari ketiga sesi ditutup oleh Mgr. Ign Suharyo, beliau membawakan tema yaitu gereja yang terlibat danbergerak seturut inspirasi kitab suci. Kitab suci akan mengalami perbedaan cara pandang didalam konteks yang berbeda. Kerangka refleksi yang dihadirkan ada tiga yaitu a). inspirasi “inspirasi berasal dari iman katolik”, b). Mediasi yang berarti iman mencari wujud seperti doa, liturgi dan lain-lain, c). Transformasi sosial yang berarti datangnya Kerajaan Allah di dalam dunia ini. Belaiu juga mengungkapkan tentang tiga unsur atau langkah yaitu unsur afektif, unsur intelektualitas dan dimensi gerakan.

Pada hari keempat sesi dibuka dengan resume dan review dari pertemuan sebelumnya berkaitan dengan Nawacita yang disampaikan oleh Pak Yanuar Nugroho, UU desa oleh Sdr. A. Maftuchan, testimoni praktik baik oleh Bupati Kulon Progo Bapak Hasto Wardoyo dan Bapak Daeng Matteru dan Gereja yang terlibat dari Mgr. Ign Suharyo. Setelah disampaikan resume dan review, peserta diajak untuk mendiskusikan beberapa hal untuk mendalami dan menecoba untuk melihat peluang yang dapat dilakukan dan harapan yang bisa dilakukan bersama.

Pada hari terakhir acara konpernas yaitu pemilihan badan pengurus baru dan pemaparan hasil Sidang Konpernas PSE KWI ke XXIV yang disampaikan oleh sekretaris KWI RD. Teguh Santosa.Sumber hak hidup masyarakat lokal harus dijaga dan dikelola secara mandiri untuk membangun dan mensejahterakan masyarakat, oleh karena dengan melindungi dan menjaga akan mampu mempertahankan banyak hal yang telah masyarakat miliki. Oleh karena itu, PSE harus mampu menjalin jejaring terhadap banyak pihak serta mampu menjadi mediasi demi masyarakat lokal.

Konpernas ditutup dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. John Saklil. Bertepatan dengan Perayaan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita, Mgr. Saklil mengungapkan bahwa sebagai rasul-rasul PSE harus mau menderita seperti Bunda Maria. Penderitaan itu menandakan bahwa kita mau berbuat baik kepada seseorang terutama yang membutuhkan. (RD.Gregorius)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *