Kunjungan Pastoral Uskup Bogor: Bangkit bersama Kristus Membangun Keuskupan Bogor

Sungguh luar biasa gambaran kasih Ilahi dalam dua minggu semenjak Tri Hari Suci, Minggu Kerahiman Ilahi, hingga pelaksanaan Kunjungan Pastoral Uskup Bogor pada Selasa, 29 April 2014. Secara resmi pertemuan dibuka sekitar jam 19:20 dengan Ibadat diawali kidung Hai Bangkit bagi Yesus yang dikomando Mas Gani. Ibadat dipimpin oleh Romo Dwi dengan memilih bacaan dari 1 Ptr 2:4-5 dengan inti bahwa kita semua adalah batu-batu hidup yang seharusnya bersuka hati dan dengan rela membiarkan Kuasa Ilahi berkarya menyusun kita menjadi bangunan rohani kecintaan Allah Bapa berkat perantaraan Yesus Kristus. Ibadat diakhiri dengan Doa Umat, Bapa Kami, dan Salam Maria.

Setelah mendapat siraman rohani, maka bersiaplah untuk santapan jasmani yang telah disiapkan Ibu-ibu WKRI. Doa sebelum makan oleh MC, dilanjutkan makan malam diiringi OMK’ Performance berupa band dan penyanyi. Seusai MC memimpin doa setelah makan dilanjutkan Foto Bersama serta Sambutan dari Ketua Panitia Bapak Yoseph Prakosa dan Romo Paroki.

Tibalah saat MC menyerahkan kendali acara pada Mas Gani selaku Moderator acara inti yang diawali Sharing Aktivitas DPP oleh Pak Raun Gultom. Aktivitas DDP mengacu kepada pilar utama Keuskupan yaitu Keluarga, Pemberdayaan Orang Muda Katolik, Pemberdayaan Sosial Ekonomi Umat, Validasi Pendataan Umat, dan Politik Kebangsaan.

Seksi Kerasulan Keluarga akan menyelenggarakan Misa Khusus Pasutri dan Family Gathering per Triwulan, periode April s.d. Juni akan dilaksanakan pada Sabtu, 28 Juni jam 07:00, Pendampingan (counseling) bagi keluarga yang membutuhkan, Kunjungan kepada Keluarga-keluarga di Lingkungan, Kursus Persiapan Perkawinan secara mandiri, yang perdana pada Sabtu, 9–Minggu, 10 Agustus 2014.

Sebagai wujud Pemberdayaan Orang Muda Katolik (OMK) maka pada Sabtu, 10 Mei jam 17:00 diselenggarakan Misa Khusus OMK yang perdana, selain itu akan dilaksanakan pendampingan (counseling) bagi OMK yang membutuhkan.

Dalam rangka Pemberdayaan Sosial Ekonomi Umat sudah digagas pemberian pelatihan/kursus wirausaha yang dibutuhkan umat seperti merangkai bunga, membuat kue, menjahit, dll. Seksi-seksi: Pendidikan, Pengembangan Sosial Ekonomi, Kerasulan Keluarga, Kepemudaan, serta Mitra Perempuan, Keadilan, dan Perdamaian berkolaborasi untuk mengundang narasumber yang berkompeten dan memiliki pengalaman nyata dalam bidang pengembangan ekonomi rumah tangga, psikologi, hukum, dan penataan ekonomi rumah tangga untuk membagikan wawasan pengetahuan kepada anggota keluarga besar Paroki St. Herkulanus dalam dua Talkshow: Minggu, 15 Juni dengan tema Pengembangan Ekonomi Rumah Tangga dan Minggu, 24 Agustus dengan tema Membangun dan Membina Rumah Tangga dari Perspektif Psikologi, Hukum, dan Ekonomi.

Dalam mengupayakan validasi pendataan umat maka Sensus Keluarga Katolik Paroki St. Herkulanus dilaksanakan pada Mei-Juli 2014, kepanitiaan telah dibentuk dalam rapat pada Minggu, 26 April.

Diskusi Kebangsaan telah dilaksanakan pada Minggu, 2 Maret dalam rangka menyongsong Pemilu Legislatif dan Presiden sebagai bentuk kepedulian Gereja terhadap Politik Kebangsaan.

Seusai uraian Pak Gultom dilanjutkan Aktivitas Dewan Keuangan Pastoral disampaikan oleh Pak Budi Setyanto kemudian Pak Tri Sunindyo mengulas Rencana Penyelesaian Pembangunan Aula dan Perkantoran Paroki St. Herkulanus.

Sebagai penyegar OMK beraksi dengan mengajak semua bernyanyi bersama Jangan lelah bekerja di ladang-Nya Tuhan.

Setelah Mgr. Paskalis mendengarkan sharing dari DPP, DKP, dan PPG St. Herkulanus, Beliau menyampaikan bahwa:

Sebaiknya setiap pertemuan dimulai dengan doa yang disiapkan. Sudah dimulai di Paroki St. Herkulanus, sebaiknya juga dimulai dan ditindaklanjuti oleh Komisi dan Seksi Keluarga.

Pentingnya meneladani Spirit dari dua orang suci yang baru, berkenaan relasi dengan Kristus. Pertama, St. Paus Yohanes XXIII menekankan pentingnya Pembaharuan. Semangat pembaharuan tampak dengan diawalinya Konsili Vatikan II. Kita mau membaharui dari kebersamaan kita. Kedua, St. Paus Yohanes Paulus II berpesan, “Jangan takut”. Jadilah orang Katolik yang berani berjuang sebagai saksi Kristus. Pendidikan Dasar Katolik belum melahirkan output yang berani menjadi saksi iman, adakah metode yang salah? Dari laporan yang tadi dipaparkan, DPP belum memperlihatkan bagaimana perhatian terhadap sekolah Katolik yang ada di Paroki. Warna Gereja Katolik harus dapat dilihat dari karya pendidikan. Marilah kita bersama memperhatikan pendidikan persekolahan di Paroki. Bagaimana kita memajukan sekolah Katolik di Paroki? Ketiga, Kegembiraan menjadi pengikut Kristus. Roh apa yang dimiliki untuk menghadapi setiap permasalahan? Jadilah Gereja yang Injili yaitu Gereja yang membawa kabar gembira. Roh yang Injili yang diharapkan menjiwai setiap kegiatan.

Bapa Uskup juga menyampaikan bahwa sebaiknya dibina relasi antara Seksi DPP dengan Komisi di Keuskupan dan kunjungan selanjutnya akan didampingi: VikJen, Sekretaris, Komisi. Pastoral berdasarkan data diusulkan oleh umat. Maka usaha-usaha untuk memperlengkapi database paroki patut dilakukan. Website Keuskupan sedang diperbaiki, sebaiknya kegiatan Paroki disampaikan ke Keuskupan agar dapat dipublikasi di website. Informasi yang perlu diketahui ialah Pembangunan sarana Rohani sedang diusahakan oleh umat di Cibinong, Bojong Gede, Cileungsi, Depok Lama. Secara tata pemerintah daerah akan ada 3 Kabupaten baru.

Selanjutnya adalah Diskusi yang membuat Mas Gani harus tegas mengatur animo partisipan karena waktu semakin merambat malam.

Pak Kristopo meminta informasi ulang berkenaan apa yang disampaikan Bapa uskup dalam Misa 15 April di Keuskupan. Informasi tersebut meliputi Vikarius Jenderal: Romo Kristoforus Tri Harsono, Vikarius Ludicialis (Tribunal): Romo Yohanes Driyanto, Ekonom: Romo Harry Saputra, Sekretaris: Romo Yustinus Monang. Dewan Imam: Romo Paulus Haruno, Romo Fabianus Heatubun, Romo Alfons Sutarno, Romo Nikasius Jatmika, dan Romo Dominikus Savio Tukiyo, Romo Markus Lukas, serta dua dari kaum religius.

Pak Kristopo menekankan bahwa hubungan kerja atau koordinasi kerja antara Seksi di Paroki dengan Komisi-komisi di Keuskupan adalah hal yang sangat fundamental. Komisi-komisi membantu karya penggembalaan Bapa Uskup. Semoga Komisi di Keuskupan mengikuti jejak Uskup untuk bersedia mengunjungi Paroki. Mgr. Paskalis menjelaskan bahwa Komisi-komisi masih dalam proses karena akan dikaji fungsi dan akan ditentukan siapa yang menjabat. Komisi akan berperan jelas dan ikut dengan Bapa Uskup jika perlu. Hal terakhir dari Kristopo ditegaskan Batas-batas Paroki sudah ada dan seharusnya ada dokumentasi/arsip.

Pak Herman Roempoko menyampaikan, “Umat Paroki merindukan selesainya pembangunan. Mungkinkah Paroki memperoleh pinjaman untuk menyelesaikan pembangunan yang akan dikembalikan oleh umat? “Kami mempunyai semangat berkobar tetapi tenaga terbatas.” Bapa uskup akan membicarakan dengan staf Kuria (Dewan Keuangan Keuskupan).

Stefanus Catur S. (DPP – Sie. Kitab Suci) mengetengahkan bahwa dasar kita adalah Kitab Suci. Hal yang membedakan kita dengan kelompok lain adalah Kitab Suci. Metode apa yang sebaiknya diterapkan untuk anak, remaja, dan dewasa? Bagaimana sebaiknya alumni KEP menerapkan apa yang telah diperoleh? Ditanggapi Mgr. Paskalis, “Di beberapa tempat peserta KEP berani menceritakan pengalaman iman. Bisa dikembangkan dengan diberi spirit untuk berani berbagi. Metode KEP sebaiknya dicari dan disesuaikan dengan latar belakang peserta. Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) sebaiknya dipandang pula sebagai suatu bentuk kaderisasi. Kita perlu mempersiapkan masa depan Gereja dengan suatu proses kaderisasi. Orang Katolik kurang berani mendalami dan memberi kesaksian atas dasar Kitab Suci, karena takut berbuat salah dalam tafsiran. Tetapi kami mengajak agar “Jangan takut”. Gereja bersedia mengampuni dan membimbing.”

Pak Antonius Semara (Yayasan Yohanes Paulus) menyampaikan bahwa Yayasan diperhatikan oleh Paroki dan selalu berusaha menjadi lebih baik. Hal ini tampak juga dalam keamanan terpadu dengan Gereja, digunakannya ruang tengah Sekolah St. Theresia untuk kegiatan reksa Pastoral pada hari Minggu, sekolah menjadi mitra kerja dari Paroki yang dapat menjadi sarana Katekese. Hendaklah jangan pernah lihat sekolah sebagai institusi yang berdiri sendiri tetapi gunakanlah sekolah sebagai sarana untuk reksa Pastoral. Pak Anton mempertanyakan, “Apa yang dimaksud dengan kekhasaan sekolah Katolik? Apakah dengan tetap bertahan tidak memberi pendidikan agama lain? Fakta nyata bahwa Sertifikasi Guru tidak dibayarkan kepada Guru Agama di sekolah Katolik.” Romo Dwi menjelaskan bahwa Sekolah St. Theresia, Yayasan Yohanes Paulus, melibatkan Romo Paroki dalam pertemuan dan pelayanan, Guru Agama Katolik dari Sekolah St. Theresia tergabung dalam Seksi Katekese DPP, dan Sekolah St. Theresia banyak menjaring umat menjadi Katolik. Mgr. Paskalis menyampaikan bahwa Yayasan Pendidikan Katolik akan diundang untuk membicarakan makna kekhasan. Pendidikan Agama Katolik seharusnya mengajarkan sesuatu yang menjadikan seseorang yang beriman Katolik berani menunjukkan keKatolikan. Bagaimana melayani yang non Katolik di sekolah Katolik akan dibicarakan bersama. Perlu direfleksikan mengapa Proses Pendidikan Dasar Katolik melalui karya persekolahan Yayasan Katolik selama kurang lebih 15 tahun, sedikit atau bahkan belum menghasilkan seseorang pribadi yang berani bersaksi tentang imannya atas dasar penguasaan Kisah hidup Yesus dalam kitab suci. Keuskupan Bogor mempunyai 37 sekolah Katolik, ini adalah investasi yang besar. Seluruh umat sebaiknya memperhatikan bahwa sekolah harus menyadari apa yang perlu diperbaiki.

Pak Pius Sani Herin (Yayasan Yohanes Paulus) membeikan kilas balik bahwa berdirinya Paroki St. Herkulanus diusulkan ketika kunjungan perdana Mgr. Michael ke Paroki St. Paulus. Hari ini Mgr. Paskalis menumbuhkan spirit. Sebenarnya masih ada riak yang perlu diselesaikan dalam tubuh Yayasan Yohanes Paulus. Karena itu, “Kami mohon waktu untuk bertemu Uskup. Sekolah St. Theresia berharap dapat berkembang menjadi inkubator orang muda Katolik yang berani bersaksi.” Penuh keterbukaan Bapa Uskup mempersilakan Yayasan datang dan bicara terbuka, agar kerikil dapat menjadi pasir.

Hadasa Scholastica Rini Tarigan Sibero menghimbau agar kunjungan jangan hanya sampai level Paroki. Mbak Rini juga menyampaikan keprihatinan bahwa dalam paroki belum berkembang budaya mendokumentasi. Salah satu lingkungan di paroki St. Herkulanus sudah mulai membiasakan pendokumentasian ini. Itulah Lingkungan St. Albertus Magnus. Sebaiknya diberikan dorongan untuk melakukan budaya mendokumentasi. Disampaikan juga bahwa RKUK memerlukan perbaikan administrasi serta harapan agar Peran perempuan sebaiknya ditingkatkan dalam pelayanan di Gereja. Secara gamblang Bapa Uskup menyampaikan kunjungan bertujuan mengenal umat karena itulah salah satu tugas panggilan sebagai Uskup. Budaya mendokumentasi memang penting, maka harus terus dikembangkan. RKUK dan TPU Kalimulya sudah dibicarakan dengan Pak R.A.J. Susilo dan akan ada proses lebih lanjut. Peran perempuan sangat diharapkan, seperti menganimasi kegiatan sekolah dan pelayanan kegerejaan.

Pak Ignatius Suryanto (Sie. Kepemudaan) menanyakan, “Metode apa yang tepat agar orang muda menyukai kegiatan kegerejaan karena OMK umumnya kurang didukung orang tua? Apakah bentuk pelayanan dari Komisi Kepemudaan Keuskupan? OMK dalam berkegiatan pasti memerlukan biaya yang belum dapat tercukupi, apakah 5% dana kolekte memang sepenuhnya untuk OMK?” Jawaban Mgr. Paskalis, “Kita perlu mendiskusikan soal metode yang khas untuk anak muda agar lebih berminat dalam kegiatan kegerejaan. Marilah berangkat dari apa yang bisa dilakukan bersama secara positif. 5% kolekte memang untuk OMK.”

Salah satu perwakilan Legio Maria bertanya, “Apakah sebenarnya peran Legio Maria?”. Secara singkat dijelaskan, ”Legio Maria adalah bagian Gereja yang berdevosi secara khusus kepada Bunda Maria dan seharusnya mempunyai keberanian bersaksi bagai serdadu (legiun).”

Waktu juga yang membatasi pertemuan dengan 88 partisipan ini, setelah hampir 45 menit meleset dari rencana maka Doa dan Berkat Penutup langsung oleh Mgr. Paskalis yang diakhiri Madah Penutup Magnificat.

Depok, 29 April 2014

MC & Notulis

Clara C. Maria Imm. Wara Wulandaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.