Lokakarya Komunitas Mahasiswa Katolik Keuskupan Bogor

Lokakarya Komunitas Mahasiswa Katolik Keuskupan Bogor merupakan wadah bagi mahasiswa Katolik antar perguruan tinggi untuk saling bertemu, saling mengenal dan menjalin hubungan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komisi Kemahasiswaan

Keimage uskupan Bogor pada 21 – 22 Maret 2015, di Wisma Wiyata Muda, Margajaya, Dramaga, Bogor. Acara diikuti oleh 58 mahasiswa dari 11 komunitas, yaitu Kemaki (Keluarga Mahasiswa Katolik IPB), Pendamping IPB, FKMK (Forum Kemaki/Diploma IPB), KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) Pakuan, Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian, KMK Gundarma Depok, KMK UI Depok, KMK PNJ (Politeknik Negeri Jakarta) Depok, Akper Yatna Yuana Rangkasbitung, KMK Serang-Cilegon, PMKRI dan Panitia Paskah mahasiswa 2015. Ikut hadir di sini para pengurus Komisi Kemahasiswaan (RD. Suparta, Sr. Letitia, SFS, Bpk. Radite Praeko, Ibu Regina W. Gunawan, Bpk. Lilik Pujantoro, Bpk. Martua Sihaloho, Bpk. Bayu C. Raharjo, dan Ibu Enny Indriastuti).

Acara dibuka dengan ibadat pembukaan, dilanjutkan perkenalan dan games. Pada sesi pertama, Bpk. Dr. Ir. Radite Praeko Agus Setiawan, MS. (Ketua Komisi Kemahasiswaan) memperkenalkan Komisi Kemahasiswaan Keuskupan Bogor, beserta para pengurusnya. Komisi Kemahasiswaan dibentuk tahun 2003 atas prakarsa RD. Yohanes Driyanto (pastor mahasiswa), dengan tugas membantu Uskup untuk mendampingi mahasiswa Katolik.

Lingkup kegiatan Komisi Kemahasiswaan : membangun kebersamaan, penguatan iman, dan peningkatan kapasitas pribadi. Kegiatannya antara lain pendampingan kegiatan KMK, rapat rutin, lokakarya komunitas, Paskah bersama, Temu Moderatores Regio Jawa, dan seminar. Fasilitas yang disediakan berupa bantuan dana dan tempat kegiatan (Wisma Wiyata Muda).

Bpk. Radite juga menjelaskan keberadaan Paroki Mahasiswa di Keuskupan Bogor. Pastor Paroki Mahasiswa RD. Yohanes Driyanto, dengan Dewan Pastoral Paroki dosen-dosen Katolik sedangkan umatnya semua mahasiswa Katolik di Keuskupan Bogor. Kegiatan Paroki Mahasiswa yaitu Misa bahasa Inggris setiap Sabtu sore di Kapel Gembala Baik SMK Baranangsiang Bogor dan Misa bulanan di kampus IPB.

Kegiatan Lokakarya mahasiswa tahun ini bertema “ Makna Pelayanan dalam Studi dan Organisasi melalui Keluarga Mahasiswa Katolik. ” Tema ini dipilih karena beberapa komunitas mengalami kesulitan dalam memilih dan mencari pengurus. Padahal komunitas mahasiswa setiap tahun selalu berganti pengurus. Bila ketua komunitas tidak aktif maka pengurus yang lain pun menjadi tidak aktif. Sebagai pelengkap materi, panitia Lokakarya 2015 menghadirkan beberapa narasumber yang berkompeten.

imageSesi kedua berjudul Become a Better You disampaikan oleh Bpk. Prof. Dr. Ir. Dominicus Savio Priyarsono, MS. Beliau Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Ketua KPKS (Kursus Pendidikan Kitab Suci) Keuskupan Bogor, prodiakon dan anggota Dewan Pastoral Paroki Katedral Bogor. Bpk. Sony berbagi pengalaman mengenai teknik pengembangan kepribadian. Teknik ini diperolehnya dari beberapa buku pengembangan kepribadian.

Buku The Purpose driven life karangan Rick Warren, menjelaskan kita hidup untuk melaksanakan sebuah misi. Kita direncanakan menjadi anggota keluarga Allah, agar menjadi seperti Kristus yang selalu melayani Tuhan. Kita tidak perlu takut, karena Allah mengatakan : ”Aku akan menyertaimu sampai akhir jaman.” Bila kita sungguh mencintai Yesus, maka kita akan melakukan apa yang diminta-Nya.

Dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey menjelaskan ada 7 Kebiasaan orang yang berefektifitas tinggi. Kebiasaan yang dimaksudkan yaitu : bersikap proaktif, mengawali segala sesuatu dengan pemikiran, melakukan hal yang utama, mencari solusi agar semua pihak bisa menang, berusaha untuk memahami dan dipahami orang lain, mensinergikan segala sesuatu dan terus mengasah kemampuan diri.

Buku Become a better you karangan Joel Osteen berisi tujuh kunci untuk meningkatkan kehidupan. Ketujuh kunci tersebut : tetap maju dan bersikap hati-hati dalam membuat keputusan, bersikap positif, mengembangkan hubungan yang lebih baik dengan keluarga dan sesama, membentuk kebiasaan (habit) yang baik, berpasrah kepada Tuhan, mengembangkan kehidupan batin dan tetap bersemangat dalam kehidupan.

Selaku kepala KPKS, Bpk. Sony menyarankan agar komunikasi dengan Tuhan dilakukan dalam dua arah. Berbicara dengan Tuhan bisa melalui doa, sedangkan untuk mendengar suara Tuhan bisa melalui Kitab Suci. Berdoa dan membaca Kitab suci penting, karena mencintai Yesus tanpa berbicara atau mendengarkan Yesus, artinya bohong.

Daniel Pramudhita, alumni mahasiswa Teknik Mesin dan Biosistem IPB serta alumni pasca sarjana University of Tokyo menjadi pembicara selanjutnya. Pengalaman Daniel cukup banyak. Ia pernah mengikuti pertukaran mahasiswa antara IPB dengan President University of Okinawa, menjadi ketua misdinar di Paroki St Barnabas Pamulang, menjadi koordinator seksi acara Paskah mahasiswa se-Keuskupan Bogor. Wakil ketua 1 Natal Civa IPB, dan anggota paduan suara mahasiswa Katolik IPB. Daniel juga pernah menjadi juara II paduan suara gerejawi se- KAJ. Ia tidak hanya aktif dalam kegiatan gerejawi tetapi juga sukses dalam studi.

Pada kesempatan ini Daniel menceritakan pengalamannya. Menurut Daniel mahasiswa Katolik IPB unik, karena jumlahnya banyak tapi yang aktif tidak sampai 50 %. Kita bisa aktif di kegiatan bila merasa nyaman. Maka kita perlu membantu teman-teman yang lain agar merasa nyaman juga. Motivasi untuk tetap aktif inilah yang diharapkan oleh Gereja, sehingga semua nilai baik dalam diri kita bisa diwujudkan. Gereja perlu mahasiswa untuk maju ke depan. Karena banyak aktivis yang lama-lama menjadi pragmatis dan melepaskan tanggung jawabnya. Karena itu yang masih aktif perlu diajak untuk tetap aktif.

Saat kuliah, Daniel aktif di Natal Civa (civitas academia). Kegiatan ini dipandang menarik karena panitianya gabungan antara Kemaki dengan PMK (Persekutuan Mahasiwa Kristen IPB). Ia terkesan dengan warna teman-teman Kristen yang berbeda. Panitia Natal Civa memiliki seksi doa. Awalnya Daniel tidak tahu apa tugas seksi doa. Ia merasa seksi itu konyol dan lucu. Ternyata seksi doa ini penting, karena panitia yang lain sering lupa berdoa karena kesibukannya. Padahal berdoa tugas utama kita, maka seksi doalah yang mendoakan teman-temannya. Hal ini membuat Daniel yakin, sebenarnya kita ditunjuk untuk berkarya ke dalam dan keluar.

Pengalaman Daniel yang lain, semakin sibuk beraktivitas, nilainya semakin bagus. Semakin kosong waktu, maka semakin malas kita belajar atau membuat skripsi. Akibatnya waktu untuk lulus pun menjadi lama. Hal ini sangat disayangkan karena tugas utama mahasiswa kuliah/belajar. Adanya pembagian waktu belajar dan berkegiatan yang proposional sangatlah membantu. Tentunya hal ini juga perlu didukung dengan doa dan kepasrahan.

Pada sesi terakhir RD. Yohanes Suparta (Moderator Komisi Kemahasiswaan) mengingatkan kita agar tidak sombong dan merasa diri paling penting dalam hidup bersama dalam KMK. Meskipun kita tidak ada, misalnya, semua kegiatan akan tetap berjalan. Dengan pernyataan ini, peserta hendak diajak untuk merefleksikan pentingnya menyadari nilai diri sekaligus peran dalam komunitas, sehingga dengan penuh kerendahan hati setiap anggota membangun rasa menjadi bagian. Kita perlu melaksanakan nasehat Santa Theresia dari Avila yang mengatakan : hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas untuk dihidupi.Kita memiliki nilai penting, karena kita dikaruniai kemampuan oleh Tuhan untuk melakukan banyak hal (1 Kor 4:7).

Mahasiswa yang ingin mengembangkan diri, perlu berani memilih. Ketika memilih bergabung dengan KMK, pilihan itu merupakan aktualisasi diri, bukan untuk mencari keuntungan. Hal ini seperti proses belajar dalam perkuliahan, dosen hanya menunjukkan cara atau pola berpikir bukan hasil akhirnya.

Dalam iman juga sama. Kita menjadi Katolik dan dibaptis atas pilihan kita sendiri. Bagi yang dibaptis saat bayi, dalam perkembangan berikutnya bisa memilih dan belajar komuni pertama, krisma, dll. Semua pilihan itu membuat pemikiran kita semakin berkembang dan bisa membuat pilihan selanjutnya.

Pembabtisan memberikan tiga anugerah, yaitu penghapusan dosa atau pengembalian kesucian, pengangkatan sebagai anak Allah dan menjadi anggota Gereja yang bertugas menjalankan misi Yesus Kristus.

Doa merupakan kesatuan dengan Allah, maka doa akan membantu kita semakin menyadari pula misi kesatuan kita dengan Allah, bahwa, hidup itu untuk menambah bukan sekedar mendapatkan. Dikatakan menambah karena sejak semula kita telah mendapatkan hidup itu dari Allah. Dalam hal ini, melayani disadari bukan karena kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan untuk mengaktualisasi diri. Di dalam proses menambah, melalui pelayanan, itu;ah setiap orang mengaktualisasikan diri dan menjadi “penting” dalam kehidupan bersama. Namun, janganlah merasa diri “paling penting”, karena yang terpenting adalah membangun rasa menjadi bagian. Apakah kita bisa melakukan peran kita? Pasti bisa, yakinlah yang dikatakan Paulus, ”masing-masing sudah diperlengkapi untuk melakukan perbuatan baik” (1 Tim 17). Bahkan, ketika mengalami kejenuhan, lakukan saja yang harus kita lakukan.

Pengalaman akan kehadiran Allah perlu dibagikan, agar Allah juga bekerja dalam diri orang lain. Kebersamaan menjadi kebutuhan diri. Bila saya memilih untuk mengikuti Kristus, apa yang harus saya lakukan ? Jangan sampai kita seperti tukang cukur yang membanggakan kemampuan dirinya tapi tidak pernah mencukur.

Kegiatan hari pertama lokakarya ditutup dengan ibadat malam yang dipimpin oleh KMK Serang Cilegon.

Hari kedua diisi dengan ibadat pagi, sarapan bersama, dan presentasi komunitas-komunitas yang hadir. Setiap komunitas memperkenalkan komunitas dan program kerjanya. Melalui sesi ini mahasiswa antar komunitas saling mengundang bila ada program kerja yang menarik. Acara selanjutnya pemetaan kegiatan bersama yang dipandu oleh Bpk. Bayu Raharjo, Misa Penutup dan makan siang bersama.

​Misa Penutup dipimpin oleh RD. Suparta dibantu oleh komunitas Kemaki. Saat homili RD. Parto menceritakan pengalamannya. Sebagai pengajar di seminari, setiap akhir tahun ajaran ada libur kenaikan kelas. Liburan yang paling menyenangkan baginya : pulang ke rumah orang tua untuk menengok dan membantu orang tua, ngarit (mencari rumput).

Liburan lalu, RD. Parto kembali pulang, tapi ada hal yang membuatnya jengkel. Waktu itu, ia berencana berangkat pukul 21.00, tetapi karena ada dua rombongan yang mau mengikuti karena tidak tahu jalan, ia jadi menunggu lama. Walaupun kesal, RD. Parto tidak bisa marah, karena ia harus menunjukkan bahwa seorang Romo itu baik dan sabar.

Selama di perjalanan, RD. Parto sempat berhenti untuk mengisi bensin dan sarapan di warung soto. Kedua rombongan yang lain itu ikut berhenti juga. Di kedua tempat itu RD. Parto semakin kesal, karena ia harus kembali menunggu. Akhirnya RD. Parto tiba rumah pada pkl. 21.00 keesokan harinya. Hampir 24 jam berada di jalan, menimbulkan rasa capek, ngantuk dan kesal. Walaupun sudah berbincang-bincang dengan orang tua dan saudara-saudaranya, ia tetap saja masih kesal.
.
Di sini RD. Parto mencoba untuk berefleksi mengapa dirinya masih saja kesal padahal sudah sampai di tujuan. Bukankah sudah biasa kalau mengalami kemacetan / sesuatu yang memperlambat di perjalanan ? Suatu proses sudah pasti mempunyai tujuan yang jelas, yaitu kebahagiaan. Saat mengalami banyak halangan/rintangan, kita perlu belajar menikmatinya. Paulus menegaskan: Yesus adalah pemenuhan janji Allah, Yesuslah sang keselamatan. Yesus menjadi taat meskipun mengalami penderitaan karena tujuan yang mulia, yakni kebahagiaan dan keselamatan manusia.

Di awal Misa telah disampaikan bahwa : sebuah cita-cita pasti baik, mulia dan tidak pernah personal, meskipun awalnya personal. Untuk mencapai cita-cita, kita akan selalu menemui tantangan. Karena itu kita harus menyadari dengan penuh kerendahan hati, bahwa ada saat dimana kita kuat, tapi juga ada saat dimana kita membutuhkan orang lain. Maka kalau diperjalanan kita menemui tantangan, nikmatilah, supaya kita bisa menikmati pula cita-cita kita pastinya yang mulia,dan membahagiakan (Ina/Bayu).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.