MAYDAY 2015

TEMU BURUH KATOLIK SE-KEUSKUPAN BOGOR

“SUKACITA DALAM SOLIDARITAS”

 IMG_0934

Bersamaan dengan Hari Buruh Internasional, yang jatuh pada tanggal 1 Mei, pada tahun ini Keuskupan Bogor mengundang seluruh kaum buruh dari Keuskupan Bogor untuk hadir dan ikut bersukacita merayakan ekaristi bersama Bapak Uskup Mgr. Parkalis Bruno Syukur OFM dan RD Benyamin Sudarto, Pastor Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Kota Wisata. Dalam misa kali ini Bapak Uskup berpesan agar para buruh melakukan segala pekerjaan dengan cinta kasih “Opera in Caritate”, dan selalu bekerja selaras dengan kehendak Allah, karena Allah tidak menghendaki kita menjadi orang yang pemalas, melainkan mau menjadi orang yang bekerja, berbuat sesuatu dengan berkarya. Kiranya Allah memberi kita talenta untuk dikembangkan dengan mencari cara apapun agar dapat berkreasi dan tidak bergantung kepada orang lain. Salah satu caranya dengan merubah diri, bahkan perubahan itu juga harus terjadi di gereja, di keuskupan, di paroki masing-masing, jika belum terjadi perubahan maka sekaranglah waktunya untuk berubah. Misa ditutup dengan foto bersama para buruh dan panitia.

IMG_0970

Setelah misa berakhir, acara dilanjutkan dengan dialog dan ramah tamah Dialog yang dimoderatori oleh Ibu Lies Pranowo, aktifis pemerhati buruh. Ibu Lies pembuka acara, beliau mengingatkan para buruh bahwa Upah Buruh sama dengan Upah Keluarga, jadi bekerjalah dengan sukacita untuk keluarga, dimana setiap orang mempunyai andil dalam membangun Negara ini. Dialog kemudian dilanjutkan oleh kata prolog dari Bapak Uskup, dimana beliau menjelaskan bahwa selalu ada kasus dalam pekerjaan, seperti; penindasan, perbudakan, ketidak jujuran, ketidak adilan dan masih banyak lagi yang lebih kompleks. Semua masalah diatas hanya bisa diatasi dengan membangun relasi dengan para penyedia pekerjaan dengan para pekerjanya, menghargai martabat pekerjanya. Bapak Uskup mengatakan bahwasanya kita tidak boleh merendahkan diri apapun pekerjaan kita, contohnya sebagai Petani bukanlah nasib, karena telah dilahirkan di desa yang bersawah, tapi berpikirlah bahwa menjadi petani adalah suatu pekerjaan yang bermartabat, bahwa dengan adanya petani orang banyak dapat menikmat nasi dari padi hasil panennya. Kemudian Bapak Uskup berpesan “Tuhan memberikan Talenta untuk dikembangkan”, maka kerjakanlah segala pekerjaan dengan sukacita dan bangunlah relasi dengan orang lain, saling menguatkan satu sama lain, membangun kebersamaan karena gereja menghargai orang yang bekerja bukan orang yang malas. Dialog dialanjutkan oleh Romo Ben yang menyatakan bahwa 3 point dalam berelasi, yaitu: menguatkan persaudaraan, mengadakan kegiatan-kegiatan di setiap paroki agar terjalin hubungan baik dan akan lebih efektif bila berjejaring dengan paroki lain, point ketiga yaitu mengadakan sarana program yang baik untuk para buruh, seperti Credit Union (CU). Dimana CU tidak hanya sebagai penguat ekonomi keluarga tetapi juga untuk solidaritas sesama.

IMG_1127

Pada sesi Tanya jawab, Suster Anas dari Cikande Serang mengharapkan adanya pelatihan bagi para buruh untuk dapat memiliki pendapatan tambahan, contohnya pelatihan salon, bengkel, pelatihan computer dan sebagainya. Bapak Uskup menanggapi bahwa hal ini dapat dilaksanakan dengan pemikiran yang konkrit dari para buruh untuk diterapkan, dengan bantuan dana dari PSE hal ini mungkin bisa diterapkan atau dapat bekerja sama dengan PUKAT (Persatuan Usahawaan Katolik). Pertanyaan kedua datang dari Bp. Redo, Bekasi (KAJ), apakah Sie Buruh yang sudah ada memberikan advokasi kepada para buruh, apakah Keuskupan Bogor mempunyai andil dalam mengambil keputusan pengupahan untuk buruh? Pertanyaan ini dijawab oleh Ibu Lies sebagai aktifis pemerhati buruh, beliau mengatakan bahwa Sie Buruh tidak memberikan advokasi kepada buruh tetapi advokasi dapat diberikan oleh badan hukum yang bekerja sama dengan serikat buruh, dan perihal pengupahan, Keuskupan Bogor tidak memiliki andil dalam mengambil keputusan dalam hal pengupahan, tetapi Bapak Uskup sedang mengupayakan agar menjadi bahan pertimbangan pihak yang memutuskan (pemerintah). Pertanyaan ketiga dari Bp. Toto dari Jonggol mempertanyakan bagaimana gereja memperhatikan secara konkrit untuk upah dibawah UMK. Ibu Lies menjelaskan, bahwa gereja terus berusaha memperjuangkan yang terbaik bagi buruh katolik, dengan memperjuangkan upah yang manusiawi dan bermartabat.

 

Sebagai penutup 5 point kesimpulan dari dialog ini:

  1. Setiap tanggal 1 Mei akan diadakan acara serupa, sebagai bentuk apresiasi gereja kepada para buruh untuk terus berkarya dan bekerja dengan sukacita, untuk selanjutnya acara ini akan diadakan tidak hanya di paroki saja tetapi mungkin akan diadakan di pabrik/tempat para buruh bekerja;
  2. Solidaritas , membentuk komunitas berjejaring antar paroki;
  3. Pentingnya menerapkan kaum buruh dimanapun berada, berdialog agar kita tahu persis yang kita hadapi agar masalah tersebut dapat “diobati” dengan tepat;
  4. Keuskupan Bogor diharapkan mempunyai Pastor moderator untuk kaum buruh, Bapak Uskup akan mengutus salah satu gembalanya;
  5. Mengaktifkan Forum Pengusaha Katolik agar terjalin hubungan yang lebih harmonis dan saling menghargai satu sama lain.

IMG_1104

Acara ditutup dengan makan siang dan foto bersama. Sampai jumpa tahun depan.

 

@aureliarani & BWK (Bartolomeus Wahyu Kurniadi)

IMG_0934

 

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *