Seminari Menengah Stella Maris Keuskupan Bogor

CRESCAT ET FLOREAT”

Pastores dabo vobis —
Gembala-gembala akan Kuangkat bagimu sesuai dengan hati-Ku” (Yer 3:15)

68 tahun merupakan usia yang cukup tua bagi sebuah lembaga pendidikan calon imam di Indonesia. 68 tahun menjadi tanda kesetiaan yang bisa dikatakan baik sebab itu berarti bahwa lembaga tersebut masih tetap eksis dalam berpartisipasi di dunia formasi calon Imam. Itulah yang terjadi pada Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Pada 28 November 2018 nanti, seminari ini merayakan hari jadinya yang ke-68.

Perjalanan seminari hingga menuju tahun yang ke 68 ini patut diapresiasi, sebab sudah banyak imam yang dihasilkan dari seminari ini dari berbagai ordo, tarekat dan diosesan dan bahkan juga telah melahirkan dua uskup. Seminari yang dari dahulu hingga sekarang terkesan sederhana ini mempunyai sejarah yang cukup menarik. Seminari ini berdiri pertama kali di Cicurug. Kala itu seminari dapat dikatakan tidak memiliki bangunan fisik seperti sekarang, sebab kala itu masih menumpang di Biara St. Antonius milik para Fransiskan.

Sejarah Singkat: Tiga Periode

Secara garis besar, pembabakan sejarah di seminari ini dibagi menjadi tiga periode. Pembabakan ini sendiri berdasarkan lokasi seminari pernah berada. Periode yang pertama ialah periode Cicurug, dimana seminari ini dahulunya bergabung dengan biara Fransiskan yang saat ini merupakan bagian dari kompleks Gereja Hati Maria Tak Bernoda Cicurug. Di masa inilah Seminari Menengah Stella Maris dirintis, kala itu yang menjadi rektor pertama ialah RP. Vermeulen OFM (1950-1955). Kemudian dilanjutkan dengan RP. Koesnen OFM (1955-1959), dan terakhir dipegang oleh RP. Van der Laan OFM. Seminari tidak bertahan lama di  periode Cicurug ini sebab kondisi seminari yang tidak memungkinkan untuk menampung seminaris dalam jumlah banyak dan permasalahan mengenai bantuan tenaga pengajar yang kurang memadai. Jika dihitung, seminari ini berada di Cicurug selama 11 tahun dimulai dari 1950-1961.

Untuk mengatasi masalah yang dihadapi saat itu, Mgr.Geise akhirnya memindahkan seminari dari Cicurug ke Sukasari. Di awal keberadaannya di Sukasari, para seminaris harus tinggal dengan para internat (calon bruder). Namun setahun berlalu, para internat ini meninggalkan Sukasari sebab izin yang mereka dapat sudah tidak berlaku lagi. Dengan perpindahan para internat ini, menandakan bahwa seminari bisa menetap di Sukasari dengan gedung yang terpisah dari lembaga lain.

Para rektor yang menjabat saat periode Sukasari ini adalah RP. Wijbrands OFM (1961-1962) yang kemudian dilanjutkan oleh RP. Ismael OFM. Seminari ini kemudian harus berpindah lagi karena kesulitan bahan makanan dan juga tenaga kerja guru. Seminari ini bertahan di Sukasari hanya 3 tahun, dimulai dari tahun 1961-1963. Dari Sukasari, seminari ini kemudian berpindah ke Jalan Kapten Muslihat, persis di bangunan seminari saat ini.

Perpindahan seminari menuju jalan Kapten Muslihat tidak serta-merta mudah, sebab permasalahan tempat tinggal itulah yang kembali merepotkan. Awalnya di Kapten Muslihat, para seminaris harus tinggal di tempat yang kala itu disebut BPK (Balai Pemuda Katolik) yang sekarang lokasinya tepat berada di Gedung Pastoran BMV Katedral Bogor. Kemudian tak lama setelah itu, mereka menempati gedung yang hingga saat ini masih dipakai, yang dahulunya adalah Panti Asuhan St.Vincentius yang sekarang pindah ke Kramat Raya.

Periode Kapten Muslihat dimulai dari tahun 1963 hingga sekarang. Disinilah mulai terlihat pergantian kepemimpinan seminari. Yang dahulu diserahkan kepada para Fransiskan kemudian diserahkan kepada Imam Diosesan Bogor. Para romo yang menjabat sebagai Rektor seminari pada periode Kapten Muslihat ini ialah RP. Ismael OFM; kemudian RP. Koesnen OFM; dilanjutkan RP. Wijbrands OFM; lalu RD. Sudjarwo (1990-1998); RD. Ridwan Amo (1998-2001); RD. Paulus Haruna (2001-2009); RD. Nikasius Jatmiko (2009-2013); RD. Yohanes Suparto (2013-2017), dan saat ini tanggung jawab sebagai rektor seminari diserahkan kepada RD. Jimmy Rampengan.

Motto Seminari

Sebagai sebuah komunitas, Seminari Menengah Stella Maris mempunyai motto “Crescat et Floreat”, yang berarti tumbuh dan berkembang. Seminari, sebagai tempat “pembenihan”, mempunyai semangat sekaligus harapan bersama bahwa setiap pribadi yang menjadi bagian komunitas seminari dapat bertumbuh dan berkembang dalam segi spiritualitas, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan. Setiap pribadi merupakan pribadi yang dinamis, yang senantiasa terbuka terhadap pertumbuhan dan perkembangan dirinya sesuai dengan cita-cita Gereja. Maka, segala daya upaya diusahakan dengan dasar semangat tersebut sekaligus untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal dari setiap pribadi.

Selain semangat mengembangkan diri seturut ajaran dan teladan Yesus Kristus, Seminari Menengah Stella Maris juga mempercayakan diri pada doa restu Bunda Maria serta menjadikan Bunda Maria sebagai teladan dalam pengabdiannya kepada Gereja. Dengan pertumbuhan dan perkembangan spiritualitas, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan ini, ada harapan bahwa setiap anggota komunitas menemukan tuntunan hidupnya kepada Allah sendiri, sekaligus mempersiapkan diri untuk menjadi “Bintang Laut” (Stella-ae : Bintang; Mare-maris : Laut), menjadi terang dan penunjuk jalan bagi sesama untuk sampai pada kebenaran (jalan), untuk sampai kepada Allah sendiri.

Jenjang Pendidikan

Pendidikan di Seminari Menengah Stella Maris berlangsung selama 4 tahun untuk lulusan SMP dan 2 tahun untuk lulusan SMA. Para seminaris terbagi ke dalam Kelas Persiapan Pertama (KPP) dan Kelas Persiapan Atas (KPA). Seminaris yang dari lulusan SMP akan menempuh pendidikan SMA di seminari selama 3 tahun (KPP) kemudian lanjut ke tingkat KPA (kelas 7C) selama satu tahun. Sedangkan seminaris dari lulusan SMA akan menempuh pendidikan di tingkat KPA selama dua tahun (kelas 7A dan 7B).

Seminari Menengah Stella Maris Bogor belum memiliki SMA sendiri sehingga masih bergabung dengan SMA Budi Mulia Bogor yang letaknya masih satu kompleks di Jalan Kapten Muslihat no. 22.

Selain mendapatkan pengajaran mata pelajaran SMA, selama di seminari, para seminaris juga mendapatkan pengajaran mata pelajaran khusus untuk calon Imam seperti Bahasa Latin, Bahasa Jerman, Bahasa Yunani, Kitab Suci, Spiritualitas, Agama-agama, Katekismus, Liturgi, Public Speaking, Sejarah Gereja, Aktualia, Katekese, Dinamika Kelompok, Psikologi, Pedagogi, Latihan doa, Gregorian, Sejarah Ordo, Pengantar Kitab Hukum Kanonik, Dasar-dasar Dialog, Etiket, Kepamongan dan Kepustakaan.

Seminaris yang menyelesaikan pendidikan di Seminari Menengah Stella Maris diberikan kebebasan untuk memilih ordo, tarekat dan diosesan sesuai dengan pilihan nurani mereka demi kebutuhan dan perkembangan Gereja Universal.

Acara Khas Seminari

Selain sebagai tempat pembinaan calon Imam, kekhasan Seminari Menengah Stella Maris terletak pada acara kegiatannya yang membedakannya dengan asrama biasa. Acara khas yang dapat disebutkan disini ialah:

Silentium. Silentium merupakan waktu hening untuk merefleksikan dan merenungkan kegiatan yang telah dijalani selama satu hari. Waktu silentium dimulai pada Pukul 22.00 hingga esok pagi selesai sarapan. Maka saat waktu menunjukkan Pukul 22.00 WIB, para seminaris sudah mulai menciptakan keheningan, tidak ribut dan gaduh.

Ambulatio. Ambulatio berasal dari kata Latin Ambulare yang berarti berjalan. Kegiatan Ambulatio adalah kegiatan yang paling menyenangkan bagi seminaris karena kegiatan ini memberikan kesempatan kepada seminaris untuk berjalan-jalan ke luar seminari dengan waktu yang telah ditentukan. Ada pula kegiatan Ambulatio terpimpin yakni kegiatan berjalan bersama ke satu tempat dan juga bersama dengan para formator.

Retret Tahunan, Rekoleksi bulanan, pengakuan dosa. Retret dan rekoleksi harus menjadi kegiatan yang diadakan di seminari. Para seminaris mengikuti retret tahunan yang diadakan di luar seminari setiap bulan Januari dengan pastor pembimbing retret yang bukan dari formator seminari. Sedangkan rekoleksi bulanan diadakan setiap minggu kedua dalam bulan dengan pembimbing rekoleksi dari formator seminari. Kegiatan pengakuan dosa sendiri dilaksanakan setiap minggu ketiga dalam bulan.

Opera. Opera bukan berarti menonton pertunjukan. Opera berasal dari kata Latin Opus yang berarti kerja. Opera menjadi kegiatan khas seminaris yakni membersihkan seluruh sektor yang ada di seminari. Opera dibagi menjadi Opera Cotidiana (Kerja harian setiap pagi dan sore), Opera Magna (Kerja Besar setiap hari Sabtu) dan Opera Maxima (Kerja maksimal sebelum libur natal dan kenaikan kelas).

Rekreasi. Rekreasi bukan berarti pergi bertamasya keluar. Rekreasi merupakan kegiatan di dalam seminari dimana para seminaris berkumpul di aula untuk bermain dengan menggunakan alat permainan seperti karambol, sepak takraw, bulutangkis dan tenis meja.

Live in dan Out Work. Dua kegiatan ini merupakan kegiatan khas Seminari Menengah Stella Maris dimana para seminaris diberi kesempatan untuk mengenal ordo, tarekat dan diosesan dengan tinggal beberapa hari di biara atau seminari tinggi untuk mengikuti dinamika hidup para frater. Sedangkan out work merupakan program dimana seminaris tinggal beberapa hari di panti asuhan, panti jompo, tempat-tempat pembinaan program ekologi untuk bekerja membantu para karyawan dan pembina di tempat-tempat tersebut serta belajar ekologi.

HUT-HOT dan Acara Penglepasan 7BC merupakan rangkaian acara tahunan Seminari Menengah Stella Maris. Perayaan HUT ini setiap tahunnya dibarengi dengan HOT (Hari Orangtua Seminaris) yang menjadi momen untuk lebih mendekatkan orangtua seminaris dengan anak mereka, terutama untuk mengetahui bagaimana perkembangan hidup panggilan anak mereka di seminari. Sedangkan acara penglepasan 7BC merupakan acara perutusan seminaris tingkat akhir yang akan melanjutkan ke seminari tinggi sekaligus memperkenalkan kepada umat tunas-tunas muda yang akan melanjutkan panggilan hidupnya.

Rektor Cup. Rektor Cup merupakan kompetisi bergengsi para seminaris memperebutkan piala bergilir. Rektor cup diadakan setiap Bulan Agustus-Oktober dengan mempertandingkan beberapa cabang olahraga seperti basket, tenis meja, futsal, voli dan bulutangkis.

Penutup

Jumlah seminaris saat ini adalah 107 orang (6 Agustus 2018) terbagi ke dalam 6 kelas:

  1. Kelas X : 27 orang
  2. Kelas XI : 24 orang
  3. Kelas XII : 26 orang
  4. Kelas 7A : 7 orang
  5. Kelas 7B : 3 orang
  6. Kelas 7C : 20 orang

Dengan dibimbing oleh 7 orang formator (3 Imam Diosesan Bogor, 1 Imam Fransiskan, 1 Diakon Diosesan Bogor, 1 Frater OFMConv. dan 1 frater SSCC). Mereka adalah:

  1. RD Jimmy Rampengan (Rektor)
  2. RD Robertus Ari Priyanto (Direktur Pendidikan)
  3. RD Jeremias Uskono (Direktur Kepamongan)
  4. RP Ignasius Wagut OFM (Direktur Spiritual)
  5. Diakon Dion Manopo (Ekonom)
  6. Sevan Rinaldi OFMConv.
  7. Carolus SSCC

Seminari Menengah Stella Maris kini menuju 68 tahun berkarya di Keuskupan Bogor. Banyak suka dan duka yang telah, sedang dan akan dilewati selama membimbing generasi muda yang terpanggil menjadi Imam. Karya selama menuju 68 tahun ini tak terlepas juga dari dukungan doa Bapa Uskup, para romo dan umat Gereja Universal yang senantiasa mengharapkan lahirnya Imam-Imam baru yang berasal dari seminari ini.

(Disusun oleh Fr. Simson Ericson/RD Jeremias Uskono/RD Yohanes Suparta/Diakon Dion Manopo)

 

One thought on “Seminari Menengah Stella Maris Keuskupan Bogor

  1. Paulus Agus Dwitanto says:

    Kami sedang mempersiapkan putra kami masuk ke seminari menengah Stella Maris. Dia masih kelas 1 SMP.

    Demikian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.