“MERAYAKAN PUNCAK ADVEN”

Bogor-Keuskupan : Salam selamat jumpa di masa Adven ini. Tema sapaanku kurangkai dalam untaian kata “Merayakan Puncak Adven”.

Insipirasi menulis sapaan ini berasal dari kesunyian yang menyapa nan indah dari “Rumah kita bersama, saudari Bumi” di Lembah Karmel – Cikanyere.  Di pagi hari yang cerah lembut, hawa dingin segar menyejukkan hati, diiringi oleh kicauan burung-burung yang riang ria menyambut Minggu IV Masa Adven, hatiku dihantar berjumpa dengan Tuhan. Dalam doa pagi Kebangunan Rohani Katolik yang dibawakan oleh Team PD Serang, Kami tertegun oleh sentuhan rohani dari St. Yohanes Paulus II. Sentuhan itu begitu bernas, meneguhkan.

Kami terdorong untuk mensharekan kekayaan rohani itu dengan intensi menemani saudara-saudari umatku di dunia maya ini, dalam persiapan dekat menjelang perayaan Kelahiran Tuhan. Karena itu, saya mensharekan butir-butir permenungan hidup yang digodok dari kekayaan rohani St. Yohanes Paulus II. Tema permenungan hari  ini dibingkai dalam judul “Merayakan Puncak Adven”.

Sekarang kita berada di puncak Adven! Selama hari-hari rahmat ini, Gereja mengajak kita untuk merenungkan melalui liturginya, misteri kedatangan Kristus yang berisi ganda: di dalam kerendahan kodrat kemanusiaan kita dan di dalam kedatanganNya pada akhir zaman (Parusia).

Kita orang Kristen dipanggil merenungkan selama masa Penjelmaan Putra Manusia ini..realitas seorang Anak, yang terbungkus dalam kain lampin dan dibaringkan di dalam sebuah palungan.

Tetapi si Anak inilah yang membimbing, mengarahkan, menandai perilaku, pilihan dan hidup orang-orang yang berdiri di dekatNya dan yang terlibat di dalam penampakanNya di antara mereka. Siapakah orang-orang itu? Silahkan menemukan titik kesamaan antara dirimu dengan karakter orang-orang yang ada di dekat Anak ini.

  1. Elisabeth. Dia sudah uzur. Dia merasakan kehidupan seorang anak berkembang di dalam rahimnya sebagai rahmat dari Allah, setelah menunggu bertahun-tahun: yakni Yohanes Pembaptis, yang menjadi pendahulu Mesias. Salam dan doaku untuk para ibu yang sedang mengandung, yang siap mengandung dan membesarkan anaknya. Anak-anak, para OMK, sayangilah Ibumu yang menjaga engkau selama engkau ada dalam rahimnya.
  2. Zakharia. Dia adalah suami Elisabeth, yang kekeluan lidahnya dilepaskan untuk menyanyikan kidung mengenai perbuatan besar Allah kepada bangsaNya. Hai suami-suami, bapak-bapak, jadilah penyanyi-penyanyi kebesaran Tuhan bersama istri dan anak-anakmu. Jadilah pembawa sukacita Injil, terutama di penghujung masa Adven dan nanti saat Hari Raya Natal. Perkuatlah tali cintakasih dengan istri dan anak-anakmu.
  3. Kawanan gembala. Mereka disanggupkan memahami rahasia Penyelamat. Marilah kita belajar rendah hati, hati terbuka dan siap bekerja melakukan kehendak Allah seperti para gembala ini.
  4. Orang-orang bijaksana, orang-orang Majus. Mereka selama bertahun-tahun mencari rahasia langit dan bintang dan yang datang bersembah sujud melambungkan puja puji di hadapan Yang Baru Lahir. Salamku untuk para pemikir, kaum intelektual, pebisnis, pemodal, para dosen, para guru, para dokter dll. Semoga kadar intelektualitas Anda mencerahkan budi, pikiran dan hatimu untuk menerima Sang Bijak Yang Baru lahir. Intelektualitas itu adalah karunia Allah yang berkembang atas kebaikan Anda untuk bekerja bersamaNya. Berjalanlah menuju “Bintang Abadi”, Sang Kristus yang telah lahir bagi kita.
  5. Simeon. Dia sudah termakan usia, yang juga sudah lama menanti kedatangan Mesias, “terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu Israel” (Luk 2:32). Usia senja tidaklah melemahkan daya juang iman akan Yesus Kristus, seperti Simeon.
  6. Hana, nabi perempuan yang diagungkan bagi “pelepasan untuk Yerusalem” (Luk 2:38). Keperempuanan bukanlah dan samasekali bukan halangan untuk berkarya memuliakan Tuhan. Hana boleh dianalogikan dengan manusia masa kini yang menyalakan terus obor harapan akan datangnya “Sang Mesias: Penyelamat yang membebaskan dari macam-macam perbudakan”. Perbudakan masa kini terwujud dalam perbudakan kesempitan cara berpikir, cara bergaul, cara menghakimi serta kebutaan manusiawi, yang menyempitkan manusia sebagai sesama hanya sebatas orang beriman sama. Penyelamat Yesus Kristus menghapus segala macam perbudakan itu. Maka berimanlah kepadaNya, Andalkan Dia, seperti Hana!
  7. Yoseph. Dia tenang, dan selalu berjaga-jaga, penuh perhatian, lemah lembut, bapak penjaga dan pelindung bagi si Anak yang masih rapuh. Ya….Yoseph, model sang laki-laki, sang suami, sang bapak keluarga, yang menciptakan “oase menyejukkan” dalam keluarga, terutama dirasakan oleh sang istri, Maria dan sang anak, Yesus dari Nazareth. Hai para pria terkasih, inilah saatnya kita mewujudkan sukacita Natal ini menjadi sukacita injil. Jadilah penyejuk, oase kehidupan bagi keluargamu, hic et nunc et semper, Amen!
  8. Bunda Maria. Dia, yang lebih utama dari semua, adalah Sang Bunda Maria yang amat suci. Di hadapan Allah, ia senantiasa merendahkan diri dan bersahaja, menyebut dirinya hamba Tuhan, dan memasuki rencana Ilahi dengan penuh kerelaan. Ibu…oh…Ibu….terimakasih kepada semua kaum ibu, kaum wanita yang karna kodrat khasnya telah dikaruniakan Sang Pencipta keistimewaan-keistimewaan, yang mencerahkan hidup bersama di dalam keluarga dan masyarakat. Bersyukurlah atas keistimewaanmu. Hargailah kekhasan itu untuk menghantar semua orang menghargai dan mengasihi Tuhan, sesama dan alam ciptaan ini. Didiklah anak-anakmu bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kelemah lembutan sang Bunda.

Selamat memasuki “Perayaan Puncak Adven”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.