Merefleksikan Arti Imamat Personal

Sekaligus Imamat Komunal

 IMG_8192

Konsili Vatikan II dalam Dekrit tentang Pembinaan Imam yakni Optatam Totius artikel 4 menandaskan demikian, “Seminari Tinggi sungguh perlu bagi pembinaan imam. Seluruh pendidikan para seminaris di situ harus bertujuan: supaya seturut teladan Tuhan kita Yesus Kristus, Guru, Imam dan Gembala, mereka dibina untuk menjadi gembala jiwa-jiwa yang sejati“. Memperhatikan hal tersebut maka Seminari Tinggi St. Petrus-Paulus Keuskupan Bogor mengadakan retret tahunan di Rumah Khalwat St. Maria Tawangmangu.

Dengan kemantapan hati dan kegembiraan bersama rekan-rekan sepanggilan, para frater berangkat dari Bandung tanggal 31 Juli 2015 yang lalu menggunakan bus menuju rumah retret. Retret yang rutin diadakan setiap menjelang tahun ajaran baru ini merupakan kesempatan yang selalu dinantikan para frater untuk kembali meng-charge kekuatan dalam menjalani panggilan dari Sang Sumber Kehidupan itu sendiri. Retret tahunan merupakan kesempatan yang selalu digunakan para frater dengan baik sebagai sarana memurnikan dan menguatkan motivasi panggilan menjadi imam diosesan Keuskupan Bogor.

Retret kali ini mengambil tema “Merefleksikan Arti Imamat Personal Sekaligus Imamat Komunal” yang dibimbing oleh RD. Paulus Sunu Sukmono Wasi mulai dari tanggal 1-5 Agustus 2015 yang lalu. Dalam banyak kesempatan, para frater diajak sekaligus ditantang untuk memurnikan motivasi panggilannya dalam mengikuti Yesus, Sang Gembala Utama dengan pertama-tama mengenali diri pribadinya secara lebih jauh, mendalam, sekaligus objektif. Melalui pendekatan psikologis, para frater dibimbing untuk mau terbuka pada gerak Roh Kudus dengan aktif meneliti batin, olah kerohanian, serta jujur pada diri sendiri dan rekan sekomunitas. Dengan pertama-tama menyadari siapa dirinya secara jujur dan objektif serta merenenungkan makna panggilan maka para frater diharapkan menjadi pribadi yang lebih matang dan sadar tujuan hidupnya untuk membaktikan diri pada Tuhan melalui sesama.

IMG_8188            Dinamika retret yang diberikan pun sangat menarik karena para frater diarahkan untuk bergulat dan merenungkan tentang dirinya melalui hal-hal sederhana yang ada di kompleks rumah retret itu. Proses permenungan yang diberikan oleh RD. Sunu tersebut hendak membuka dan menyadarkan segala potensi, tantangan, hambatan, dan peluang yang ada pada diri seorang calon imam. Kematangan kepribadian dinilai sebagai pintu masuk menyiapkan gembala-gembala jiwa yang mumpuni dalam melayani para domba kelak. Jadi, dalam kerangka merenungkan panggilan imamat secara personal (yang dialami secara pribadi oleh setiap frater), hal itu dikonkretkan dalam dinamikanya dengan rekan-rekan sepanggilannya. Hal itu terutama diarahkan sebagai ungkapan bakti kepada Allah lewat kehadiran nyata bagi segenap umat.

Dalam perayaan ekaristi perutusan, imam diosesan Keuskupan Bandung yang berkarya sebagai pendamping para frater untuk Kesukupan Bandung itu menandaskan bahwa retret sesungguhnya akan dimulai setelah selesai dari retret ini. Maksudnya adalah bahwa ujian sesungguhnya yang akan dihadapi oleh para frater ialah melalui dinamika hidup keseharian yang dijalani sebagai calon imam. Akan ada banyak jebakan, tantangan, godaan dari dalam diri maupun dari luar yang merintangi tapi iman pada Allah yang melahirkan panggilanlah yang akan berbicara dan mengatasinya. Dia berharap agar setelah mengikuti retret ini para frater mengalami kebaharuan hidup dan kembali bersemangat dalam menapaki peziarahan hidupnya sebagai seorang calon imam yang mempersiapkan diri sebagai gembala bagi Keuskupan Bogor.            (Fr. Nanang)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *