Mgr Paskalis : Imam Harus Bisa Hidup Bersama

Bogor-Keuskupan: Temu UNIO Imam – Imam Diosesan Regio Jawa diselenggarakan di Keuskupan Bogor, 18 – 21 September 2018. Imam-imam diosesan dari tujuh keuskupan berkumpul di Hotel Aston, Sentul – Bogor. Keuskupan Bogor menjadi tuan rumah berlangsungnya pertemuan yang dilangsungkan setiap tiga tahun sekali ini. Temu UNIO kali ini menggagas tema “Potret Karya Pastoral Keuskupan Bogor Dalam Membangun Toleransi di Tengah Pluralitas”. Tema besar ini diangkat dalam upaya melihat dinamika kehidupan menggereja dalam spirit persatuan dan kebangsaan.
Para imam yang hadir dari Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bandung, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Surabaya, Keuskupan Malang dan tuan rumah (Keuskupan Bogor) menjadikan pertemuan ini selain sebagai wadah menimba wawasan utamanya adalah menjalin persaudaraan dan persatuan imam-imam diosesan. Beberapa imam yang hadir tampak seperti bernostalgia dengan kawan lamanya saat menjalani masa pendidikan di seminari. Temu UNIO pun menjadi reuni kecil bagi para imam.

Sharing Karya Pastoral Keuskupan Bogor Dalam Temu UNIO Regio Jawa (Dok. Pribadi)

Ciri Khas Keuskupan Bogor
Acara diawali dengan Perayaan Ekaristi konselebrasi yang dipimpin oleh Mgr Paskalis (Uskup Bogor) sebagai selebran utama didampingi oleh empat imam yang mewakili tuan rumah dan UNIO Indonesia. Dalam homilinya, Mgr Paskalis menyampaikan kekhasan Keuskupan Bogor yang tidak dijumpai di keuskupan lainnya di Regio Jawa. “Keuskupan Bogor didominasi imam-imam diosesannya. Imam-imam religius (OFM dan CSE) porsinya tidak terlalu banyak. Paroki- paroki dan komisi umumnya dipegang oleh para imam diosesan”, ucap beliau. Hal ini tentunya membawa sebuah wajah tersendiri bagi karakter Keuskupan Bogor. Berbeda dengan keuskupan-keuskupan lainnya yang karya pastoral keuskupannya dihiasi beragam tarekat imam religius. Bahkan kadang kala jumlah imam diosesannya lebih sedikit dibandingkan dengan imam-imam religiusnya. Dengan kenyataan tersebut maka persaudaraan UNIO merupakan sebuah kebutuhan dan keharusan. Imam-imam harus bisa hidup bersama dalam sebuah “communio”, tutur Mgr Paskalis.

Communio” Mendahului “Misio
Romo Driyanto dengan sangat tegas menyampaikan “communio mendahului misio”. Hidup dalam persaudaraan sebagai seorang imam merupakan sebuah hal utama dan pertama. Misio (pewartaan dan perutusan) merupakan hal yang penting namun jangan sampai tragis – “Imamnya pintar-pintar tetapi tidak bisa hidup bersama”. “Yesus telah terlebih dahulu meneladankan itu”, tandas romo yang menjabat sebagai vikaris yudisial Keuskupan Bogor. Pada akhirnya berkembangnya sebuah keuskupan terletak pada “communio” imam-imamnya secara khusus imam-imam diosesannya.
Hal yang sama juga dituturkan oleh Walikota Bogor, Bima Arya yang akrab di sapa Kang Bima. Kang Bima turut hadir memberikan sambutan hangatnya kepada para imam dalam pertemuan ini. Kang Bima menyampaikan wajah Kota Bogor yang sangat humanis. Berbagai taman dan sarana publik banyak dibangun tujuannya agar orang saling berinteraksi tanpa ada tendensi SARA. “ Tidak ada orang lari sambil papasan bertanya “agamamu apa?”, Kang Bima mencontohkan. Kegemarannya membangun taman ini akhirnya membuat beliau dijuluki “wagiman” – walikota gila taman. Maka ketika Bogor dijuluki sebagai kota intoleransi beliau sangat tidak setuju. Bagi Kang Bima, Pancasila dan NKRI itu harga mati. Maka membangun sebuah persatuan itu merupakan sebuah harga yang tak boleh ditawar. “Perbedaan itu keniscayaan tetapi persatuan dan kerja sama itu harus diperjuangkan”, gagas beliau dengan penuh wibawa.

Urang Sadayana Sadulur
Kita semua bersaudara (“urang sadayana sadulur”: Bahasa Sunda) merupakan jiwa yang ingin digali dan dihidupi oleh para imam dalam perjumpaan ini. Upaya membangun toleransi, kerja sama dan dialog jangan sampai melemah. Pastoral kehadiran merupakan sebuah syarat utama untuk mencapainya. Tidak perlu untuk tujuan-tujuan yang sangat mengawang. “Awalilah dari hal-hal sederhana misal berkumpul karena hobi makan duren”, Kang Bima mencontohkan. Mari kita selalu merindukan untuk berkumpul dan hadirlah saat ada undangan untuk berkumpul untuk nilai-nilai yang baik. (RD. David)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.