Misa Pemberkatan Minyak Keuskupan Bogor

“Kita dapat menyampaikan Kabar Gembira, Hanya dapat “Terjadi” jika kita mengasihi dan memiliki Kasih kepada sesama, Sebab, Allah mengasihi maka kita diselamatkan”

 

IMG_2075Hari ini, Selasa 31 Maret 2015, Keuskupan Bogor secara khusus mengadakan Perayaan Ekaristi pemberkatan Minyak dan pembaharuan janji Tahbisan di gereja BMV, Katedral Bogor. Perayaan yang dihadiri sekitar 68 pastor yang terdiri dari Pastor Diosesan Keuskupan Bogor dan Imam religius (CSE, OFM dan MSC) dipimpin oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur (Uskup Keuskupan Bogor) dengan konselebran RD. Christoforus Tri Harsono (Vikaris Jendral Keuskupan Bogor) dan RD. Dominikus Savio Tukiyo (Pastor Paroki BMV Katedral Bogor) serta didampingi oleh 4 Frater Diakon. Acara yang juga dihadiri para biarawan-biarawati dan ratusan umat dari berbagai paroki di Keuskupan Bogor ini dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan perarakan dari gedung Pastoran Katedral.

Dalam kata pembuka Perayaan Ekaristi, Mgr. Paskalis menjelaskan tentang 3 hal dalam perayaan ini, yaitu: Pemberkatan Minyak, Pembaharuan janji Imamat, dan ketiga adalah Keuskupan menyampaikan secara resmi dalam liturgi ini permohonan kepada seluruh umat untuk mendoakan Uskup dan Para Imam secara terus menerus. Dalam Homilinya, Mgr. Paskalis mengungkapkan:

IMG_2085“Ketika tahbisan, seorang pastor sampai pada point of no return yang berarti titik dimana kita tidak dapat kembali karena kita sudah memilih untuk menjadi mempelaiNya”.Pembaharuan janji tahbisan ini adalah hal yang istimewa bagi para pastor dan juga Bapa Uskup karena peristiwa ini mengingatkan kembali akan hari tahbisan yang telah dilakukan beberapa tahun silam. Kemudian dalam tahbisan sesungguhnya ada 2 point penting untuk direfleksikan oleh para pastor.

Pertama, persatuan yang mendalam dengan Kristus yang berarti dihari seorang pastor mengucapkan janji tahbisannya maka dia akan masuk kepada titik dimana sudah tidak terdapat pilihan yang lain lagi, bisa disebut juga the point of no return. Maka saat itu juga kita menjadi mempelai Kristus dan berkomitmen setia sampai akhir.

Kedua, menumbuhkan SENTIRE CUM ECCLESIA (perasaan senasib dan sepenanggungan dengan gereja Kristus) sehingga hati seorang pastor tidak dapat dipisahkan dari tujuan gereja yaitu mewartakan kabar sukacita dan kabar keselamatan kepada dunia. Para Imam berjanji setia untuk mewartakan karya keselamatan kepada seluruh umat dalam kesatuan bersama gereja dan Uskupnya. Peran Nabi, Raja dan Imam dijalankan demi menyelamatkan domba-domba Allah.

Bapa Uskup menekankan bahwa kedua hal diatas tersebut harus dihayati oleh para imam dan uskup sampai pada titik the point of no return. Semua itu terjadi karena para imam itu mau mengikuti Yesus Kristus, tentu saja mengikuti Yesus Kristus sejak di baptis dan diperjelas kesetiaannya saat menerima tahbisan. Mgr. Paskalis mengungkapkan bahwa sebelum menjadi pemimpin, para imam harus menjalankan tugas kepemimpinannya seperti diharapkan dan dijalankan oleh Yesus. Ada 3 hal yang ditekankan oleh Mgr. Paskalis bagi peran para imam sesuai dengan apa yang dijalankan Yesus, yaitu: Pertama sebagai pemimpin. Melalui pencurahan Roh Kudus dan wewenang dari Tuhan, para imam dijadikan pemimpin oleh urapan Tuhan, sehingga mereka harus menjalankan karya penggembalaan dalam semangat Roh Tuhan, bukan dalam semangat roh kedagingan dan roh egoisme diri. Kedua adalah pribadi yang siap untuk diutus. Para imam siap diutus oleh Tuhan untuk menjalankan tugas yang dikehendaki oleh Tuhan yang mengutusnya. Unsur perutusan ini tentu saja mengandung corak misioner, bergerak dari diri sendiri menuju suatu dunia di luar dirinya. Bapa Uskup juga menghimbau kepada para pastor untuk senantiasa bercermin kepada Yesus dimana Dia senantiasa setia menjalankan perintah Bapanya sekalipun harus wafat di kayu salib. Sama seperti para pastor yang harus setia kepada Allah yang memberikan rahmat lewat tahbisan. Para pastor juga harus siap menjalani tugas perutusan yang diberikan oleh uskup atau untuk kaum religius oleh pemimpin tarekatnya, sehingga dalam konteks inilah ketaatan dalam perutusan itu secara konkret dijalankan. Dalam semangat Injil para pastor hendaknya membangun communio ditempat ia berada baik dengan umat ataupun dalam komunitas. Ketiga adalah corak Injili. bercorak membawa kabar sukacita. Yesus datang membawa kabar sukacita dan tidak membiarkan kita menderita sendirian. Ia mencintai dan mengasihi kita hingga Dia wafat di Salib. Mgr. Paskalis mengungkapkan kisah Santo Fransiskus yang memandang salib, dan mengatakan bahwa Yesus mengasihi kami, tetapi sebagai manusia kadang-kadang menghianati tidak mengasihiMu dan sesama. Pewartaan Injil terutama bersandar pada inti Injil itu sendiri yang mengajak untuk melihat Alllah yang sungguh mengasihi. Apabila kita menyampaikan kabar gembira tanpa kasih, maka akan sangat kering. Kabar gembira hanya dapat diterima jika ada kasih. Para imam diharapkan siap membawakan kabar sukacita bagi seluruh umat, maka Bapa Uskup mengajak seluruh umat untuk membantu para imam agar mereka bisa menjalankan tugasnya sebagai pribadi yang membawa sukacita. Kalau ada imam yang cemberut terus, ajaklah untuk tertawa, kalau ada yang tertawa terus menerus dan tidak pernah serius, tolong diingatkan. Agar karya Tuhan semakin hari semakin dapat kita rasakan dalam kehidupan yang saling berdamai satu sama lain.

Sebelum mengakhiri Homili, Mgr. Paskalis mengajak umat beriman mendoakan para imam, uskup, dan semua biarawan-biarawati agar memiliki kasih dan mengerjakan pekerjaan sukacita. 

IMG_2091Umat pun diajak untuk bekerja bersama di kebun anggur yang sama, kebun anggur milik Allah, terutama ajakan untuk dapat menjalankan peran dan tugas menggereja di keuskupan Bogor. Mgr. Paskalis juga mengucapkan terimakasih kepada umat yang mau bekerjasama, mengingatkan para imam agar bekerja dalam pekerjaannya sebagai imam yang baik. Mgr. Paskalis mengajak seluruh imam dan umat yang hadir untuk saling mengingatkan dalam menjalani tugas dan perannya, baik di Gereja maupun masyarakat, agar dapat menjadi sumber sukacita untuk sesama. Kemudian para imam mengucapkan kembali janji Tahbisan serta pemberkatan minyak Krisma yang akan dipergunakan dan dibagikan di seluruh paroki, Keuskupan Bogor.

Sebelum Perayaan Ekaristi ditutup, RD. Ch. Tri Harsono menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapa Uskup dan para imam, serta Pater Martin Harun, OFM yang telah menemani dalam proses rekoleksi yang telah dijalankan hari sebelumnya. Juga ucapan terimakasih disampaikan kepada seluruh umat untuk dukungan yang diberikan kepada seluruh imam. Beliau mewakili keuskupan memberikan hadiah buku “Pedoman Imam” kepada seluruh imam. Setelah selesai Misa minyak para imam saling berjabat tangan mengucapkan “proficiat” dan bersama berkumpul dalam ramah tamah. Sesudah acara ramah tamah para imam kembali ke tempat tugasnya masing-masing untuk mempersiapkan paskah yang sebentar lagi tiba.

* Diakon Marsel & RD. Joned *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *