Bogor-Keuskupan : Minggu, 30 Okteber 2016 merupakan hari yang sangat spesial bagi beberapa pasangan suami-istri (PASUTRI) karena merupakan peristiwa dimana segenap pasangan suami istri yang mengikuti Sakremen Ekaristi bersama-sama mengucapkan syukur atas kasih karunia yang dilimpahkan kepadanya selama beberapa tahun yang lalu dihadapan Allah dengan mengucapkan janji prasetia, dan  hendak mengungkapkan kembali janji prasetia itu kepada Allah dan disaksilkan oleh putra putri kesayangannya serta umat beiman yang hadir dalam perayaan Ekaristi. Acara ini dikhususkan kepada pasutri yang melaksanakan ulang tahun perkawinan pada bulan Juli sampai Oktober. Tema yang diusung pada perayaan ini adalah “Keluarga Kudus Nasaret Sebagai Wujud Nyata Kerahiman Allah”.pasutri-2

Dalam homilinya romo Sumardiyo meyampaikan bahwa  dengan mengucap syukur kepada Allah berarti  mengakui dihadapan Allah bahwa segala sesuatu yang kita alami didalam kehidupan di dunia ini merupakan rahmat Allah. Maka sudah selayaknya mengucap syukur dan memohon berkat bagi suami istri yang merayakan perkawinan. Hidup perkawinan atau suatu keluarga merupakan proses kehidupan yang semestinya dirawat, dipelihara dan diperbaharui terus menerus karena hal ini menyangkut pribadi  yang berbeda namun dipanggil untuk hidup saling melengkapi. Perkawinan Katolik adalah sebuah sakramen yang hendak menandakan keterlibatan Allah sendiri. Allah berkarya dalam  pribadi yang mempersatukan diri sebagai suami istri yang mendasarkan pada kasih serta kesetiaan, sehingga hidup berkeluarga itu menjadi luhur dan suci. Semoga keluarga Kristiani menjadi tanda dan sarana  yang menyelamatkan bagi keluarga-keluarga yang lain.

Romo kembali mengajak umat untuk sungguh menyadari akan pentingnya kehadiran keluarga. Keluarga bukan bentukan manusia, tetapi bentukan Allah sendiri. Sudah sejak awal Allah menciptakan pria dan wanita dan mempersatukannya. Maka setiap pria dan wanita yan mau membangun hidup baru selalu dilandasi dengan cinta. Tanpa cinta maka tidak akan mungkin pasangan suami istri akan setia satu sama lain. Cinta dan kesetiaan itu seiring sejalan bersama 2 pribadi yang berbeda dengan harapan kedua pribadi yang berbeda itu menciptakan kebahagiaan.

Pada kesempatan itu melalui beberapa pertanyaan singkat romo mengajak beberapa pasutri untuk bersharing:

  1. Pada pasangan bapak Antonius Thony Octaviananto dan ibu Tri Laksitorini, romo menanyakan “Apakah sudah hidup bahagia selama ini? Apa sich resepnya?

Menurut pak Thony sudah bahagia dalam perkawinan. Resepnya adalah  karena selalu setia pada janji perkawinan kami, sedangkaan jawaban ibu Thoni adalah dengan rasa saling….. (saling memberikan kekurangannnya dan saling menerima kelebihannya).

  1. Kepada pasangan bapak Yulius Hary dan ibu Chrisfina Sutrini, romo menanyakan : “Kecewakah bapak beristrikan ibu Sutrini. Jawabannya adalah tidak, karena banyak kelebihan, sedangkan pada ibu Sutrini romo menanyakan “Apa yang menarik dari bapak Yulius? dan dijawab menarik  karena adalah cetakan terakhir yang Tuhan berikan.
  2. Kepada pasangan bapak Maskot dan ibu Dewi dengan pertanyaan : Pernahkan engkau dikecewakan istrimu? Menurut pak Maskot belum pernah, sedangkan menurut ibu Dewi pernah dalam arti: saya tidak sempurna, sehingga merasa itulah yang mengecewakan dia.
  3. Kepada bapak Yosep Dodot dan ibu Susi, romo bertanya: “ketika menjelang nikah apa yang menjadi harapan atau cita-cita? Apakah harapan atau cita-cita tersebut sudah terwujud selama ini? Menurut pak Dodot bahwa sampai saat ini sedang berjuang menuju cita-cita kami, sedangkan kepada ibu Susi romo menanyakan “Pernahkah ibu mendapatkan pujian dari pak Dodot?  Jawabnya adalah karena pak Dodot tipe suami yang pendiam maka pujian itu bukan dengan kata-kata tetapi dengan perhatiannya.

Sharing 4 keluarga yang singkat padat namun bisa menyerap dimana semua jawabannya adalah sama yaitu didasari atas cinta kasih  yang disebut LOVE (Listen, Overload, Voice, Empaty). Bagaimana bapak dan ibu menunjukan cintanya itu secara nyata ketika mewujutnyatakan kata Love ini?

L (Listen) mendengarkan atau masing masing menjadi pendengar yang baik. Begitu juga kita sebagai umat beriman untuk menunjukan cinta kita kepada Tuhan yaitu harus tekun membaca firman Tuhan.

O (Overload)/memaafkan, yang dikedepankan dalam keluarga adalah saling memaafkan dan jangan mengungkit-ungkit sesuatu yang bisa menimbulkan keretakan dalam hidup berkeluarga

V (Voice) suara/menyuarakan. Kalau kita mencintai pasangan kita maka kepada pasangan kita ungkapkan ha-hal yang baik juga kepada siapa saja.

E (Empaty) Simpatik, bukan hanya sekedar simpati tatapi masuk pada sesuatu yang kongkrit dari sang istri kepada sang suami atau sang suami kepada sang istri.pasutri-1

Romo Sumardiyo kembali menegaskan tentang pentingnya sebuah keluarga melalui surat  oleh Paus Leo XIII yaitu surat Apostolik (surat gembala) pada 1892 yaitu keluarga-keluarga Kristiani perlu mengikuti teladan keluarga Kudus  di Nasaret dan menimba kebijaksanaan dan nilai kebajikan dari padanya. Keluarga Kudus Nasaret terdiri dari Yesus, Bunda Maria dan Yosep menjadi teladan keluarga bagi kita dalam membina nilai-nilai keterutamaan. Betapa penting anak-anak menerima nilai-nilai keterutamaan Kristiani yang datang dari ayah dan bundanya. Ditempat lain Paus Leo XIII juga mengatakan kepada semua bapak bahwa St. Yosep adalah teladan terbaik bagi peran kebapaan dalam  melindungi dan memelihara keluarga. Dalam diri Perawan Suci Bunda Allah para ibu dapat menemukan contoh dan pengalaman hidup istimewa tentang kasih, kesederhanaan, kerendahan hati dan iman yang menyempurnakan dan dalam diri Yesus yang taat kepada orang tuanya anak-anak memperoleh pola ilahi tentang ketaatan yang dapat mereka kagumi, hormati  dan teladani.

Sebagai akhir homilinya romo Sumardiyo menyampaikan bahwa dalam teks Misa, Yesus datang mencari dan menyelamatkan, dan hari ini Sakeus berbahagia karena Yesus tinggal di rumahnya (tinggal dalam hatinya). Bapak ibu yang berbahagia merayakan ulang tahun perkawinan mempunyai kerinduan yang sama seperti Sakeus yang mengharapkan Tuhan Yesus tinggal dan menguasi segala kehidupan bapak ibu dan keluarga bapak ibu. Bapak ibu yang berbahagia mempunya kerinduan untuk didatangi Tuhan Yesus. Maka kita harus saling mendoakan agar Yesus sungguh-sungguh bukan hanya tinggal di rumah kita tetapi juga tinggal dalam hati bapak ibu untuk menyempurnakan kesetiaan dan cinta bapak ibu yang selama ini sudah dirajut, dijaga, dipelihara sehingga tak seorangpun yang mengganggu bapak ibu sebagai suami istri.

Setelah perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan rama-tama di gedung Alexander.  Acara ini dihadiri oleh semua pasutri yang mengikuti perayaan Ekaristi. Semua peserta sangat antosias mengikuti semua acara yang disajikan oleh panitia, berupa sharing tentang perkawinan, game, menyanyikan tembang kenalan dan lain-lain. Sebagai puncak dari acara dilakukan pemotongan kue dan pemberian sekuntum bunga sebagai tanda kasih dari suami kepada istri.

By. Komsos KRS

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *