BETAPA INDAH PANGGILANMU TUHAN

Pembukaan Tahun Hidup Bakti 2015

 

IMG_2010Menjelang pukul 09.00 WIB pada hari Rabu pagi yang cerah bertepatan dengan Hari Raya Kabar Sukacita (25/03/15) mulai banyak terlihat orang-orang berjubah; tua-muda, pria dan wanita, melangkahkan kakinya menuju Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor. Jubah yang dikenakan pun beraneka macam; ada yang putih, hitam, cokelat, abu-abu, putih-cokelat, dan putih-hitam. Pada saat itu, tampak raut-raut wajah yang sumringah dan berseri-seri di antara kaum berjubah dan umat yang berjalan ke ruang aula Gedung Pusat Pastoral tersebut.

Rupanya rombongan kaum berjubah yang terdiri dari imam, bruder, frater, suster, dan perwakilan umat dari paroki-paroki itu adalah mereka yang hendak menghadiri pembukaan Tahun Hidup Bakti yang telah dicanangkan oleh Paus Fransiskus sejak tanggal 30 November 2014 yang lalu. Dengan begitu, Paus Fransiskus menetapkan bahwa tahun 2015 ini adalah tahun untuk menggemakan panggilan hidup bakti. Perayaan ekaristi pembukaan tahun hidup bakti ini dipersembahkan oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur didampingi oleh RD. Tri Harsono (VikJen) dan para Romo Dekan di Keuskupan Bogor. Dalam homilinya, Bapa Uskup kembali menekankan seruan dari Paus Fransiskus bahwa perjumpaan dengan Yesus adalah sebuah pengalaman sukacita di dalam kehidupan kita. Terlebih, perjumpaan dengan Yesus adalah titik utama bagi seseorang dalam menjalani hidup bakti. Hanya karena kita memiliki perjumpaan secara personal dengan Yesus maka seseorang mempunyai kesan dan kenangan sehingga dirinya berani mengambil keputusan untuk menjalani sebuah hidup yang didedikasikan bagi Yesus Kristus. Keputusan dan komitmen ini nyata di dalam pelayanan cinta kasih yang kita baktikan kepada sesama. Bapa Uskup pun kembali menekankan kepada seluruh umat yang hadir bahwa poin utama di dalam perjalanan hidup bakti ini adalah perjumpaan dengan Yesus dan bukan pada aktifitas pelayanannya. Dengan kata lain, Bapa Uskup ingin menyampaikan bahwa jangan sampai dengan dalih pelayanan kita telah mengorbankan hal yang paling esensial di dalam perjalanan hidup bakti yakni pengalaman persatuan di dalam Dia. Dengan demikian, Bapa Uskup mengajak para imam, bruder, suster serta frater yang hadir untuk menjalani hidup baktinya dengan penuh sukacita. Sukacita tersebut akan tampak pada keindahan hidup yang dijalani. Beliau menandaskan bahwa hanya dengan cara inilah kita dapat mempengaruhi, mengajak, dan meyakinkan orang lain untuk menjalani hidup bakti. Pembukaan Tahun Hidup Bakti ini pun terdiri dari perayaan ekaristi dan studi bersama yang diisi oleh RP. Adrianus Sunarko, OFM (Minister Provinsi OFM Indonesia) dan Mgr. Paskalis Bruno Syukur sendiri.

IMG_2008

Setelah perayaan ekaristi selesai para umat disuguhi makanan dan minuman ringan sembari menunggu acara selanjutnya yakni studi bersama berkaitan dengan ditetapkannya tahun 2015 ini sebagai Tahun Hidup Bakti. Sambil menikmati makan-minum ringan, Ketua Panitia acara ini yakni RP. Stefanus Suprobo, OFM atau yang akrab disapa Romo Obo maju ke depan untuk memperkenalkan susunan kepanitiaan dan sekaligus mempresentasikan rencana kegiatan yang akan dilakukan di Dekanat Selatan. Perlu diketahui pula bahwasannya acara ini diserahkan kepada Dekanat Selatan sebagai panitia. Setelah perkenalan dan presentasi singkat dari Ketua Panitia maka acara diserahkan kepada seksi acara yakni RD. Ari Priyanto. Beliau mempersilahkan Pater Narko, OFM untuk maju dan naik ke atas panggung untuk memulai acara studi bersama.

Dalam pemaparannya, Pater Narko menjelaskan bahwa tahun hidup bakti ini telah dibuka oleh Paus Fransiskus pada tanggal 30 November 2014 lalu dan akan ditutup pada tanggal 2 Februari 2016 nanti, meski ketentuan penutupan tiap keuskupan bisa saja berbeda-beda. Beliau pun menambahkan bahwa arah dasar atau tema umum dari tahun hidup bakti ini adalah mensyukuri dan memberi kesaksian tentang keindahan mengikuti Kristus sebagai religius di era globalisasi. Pada kesempatan ini pula, beliau mengangkat kembali siapakah kaum religius itu seperti yang telah diamanatkan oleh Paus Fransiskus yakni sebagai orang-orang berdosa yang dianugerahi rahmat panggilan yang luhur; yang dikaruniai dimensi mistik (relasi yang erat) dengan Allah Tritunggal; dimensi kesaksian kenabian dan solider; khususnya dengan mereka yang lemah; dimensi persaudaraan, menghayati kaul, kebebasan batin, pelayanan bagi mereka yang tersingkir, dan tidak lari dari tantangan zaman. Adapun tujuan diadakannya Tahun Hidup Bakti ini adalah agar para kaum religius memandang kembali masa lalu yang penuh syukur, menapaki hidup di masa kini dengan penuh semangat, dan menyongsong masa depan dengan penuh harapan.

Lebih jauh dari itu, beliau menandaskan harapan-harapan dari Paus Fransiskus yang menghendaki agar para religius mampu menunjukkan sukacita hidupnya sebagai orang-orang yang dipilih untuk menjalankan karunia panggilan yang luhur itu. Sukacita dan kebahagiaan hidup kaum religius tentu harus ditunjukkan sebagai suatu kesaksian yang hidup, nyata, dan mengakar dalam konteks profetis dan persaudaraan sejati. Persaudaraan sejatilah yang menjadi pemicu dan pemacu bagi terciptanya kerjasama dan perjumpaan dengan anggota-anggota dari tarekat lain serta bagi sinergi antara imam dan kaum awam beriman dalam membangun Gereja.

Sedangkan dalam sesi kedua yang diisi oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur, beliau menegaskan bahwa hidup bakti adalah sebuah karunia bagi Gereja dan diperuntukkan bagi Gereja. Karunia akan hidup bakti ini pun secara nyata dirasakan di dalam perjalanan Keuskupan Bogor. Bapa Uskup kembali mengajak segala hadirin untuk melihat kembali perjalanan Keuskupan Bogor serta perjalanan pelayanan tarekat, konggregasi, maupun ordo di dalam Keuskupan Bogor. Untuk merefleksikan perjalanan dari masa lalu, saat ini hingga saat yang akan mendatang, Bapa Uskup menekankan kata kunci dalam refleksi ini adalah Keuskupan Bogor. Besar harapan Bapa Uskup bahwa mereka yang menjalani hidup bakti sungguh memberikan pelayanan yang tampak, yang sesuai dengan kebutuhan dan juga selaras dengan visi-misi Keuskupan Bogor. Kaum hidup bakti dipanggil untuk menterjemahkan Injil dengan cara hidup tertentu yang sungguh semakin mendekatkan hubungannya dengan Allah dan juga bermanfaat bagi sesama. Beliau menegaskan bahwasanya kaum hidup bakti dipanggil secara khusus untuk menjadi “Injil yang hidup.” Menurut Bapa Uskup, pembukaan tahun hidup bakti ini menjadi waktu yang tepat bagi para imam, bruder, suster, frater, serta komunitas-komunitas hidup bakti lainnya untuk melakukan revitalisasi hidup religius. Revitalisasi itu akan tampak pada tiga hal penting yakni spiritualitas, hidup komunitas dan evangelisasi. Besar harapan bahwa melalui revitalisasi hidup religius ini, kita dapat membangun Keuskupan Bogor secara bersama-sama.

Setelah pemaparan dari kedua sesi itu berakhir, seksi acara yakni RD. Ari Priyanto mengambil alih acara dan mempersilakan para hadirin untuk bertanya atau hanya sekadar sharing dari para hadirin. Pada sesi ini, antusiasme dari para hadirin sungguh terasa. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan dan sharing yang diajukan oleh para imam dan suster. Akhirnya, menjelang pukul 13.00 WIB acara diakhiri dengan doa penutup oleh Fr. Pieter, SJ dan dilanjutkan dengan santap siang bersama. (Dion, Nanang, Joned-Komsos)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *