Ibadat Bersama…

 

Perayaan Pekan Suci telah berlalu, Tri Hari Suci sudah kita lewati dengan penuh syukur. Pelayanan yang tulus bagi seluruh umat telah dilaksanakan dengan tulus. Khususnya di wilayah Dekanat Tengah.Muncul pertanyaan: Apakah para Pelayan hanya sibuk dengan tugas pelayan mereka!? Apakah Para Pelayan juga merayakan Kebangkitan Tuhan di luar perayaan-perayaan Liturgis!?

Perayaan paskah bersama Para Pastor dan para religius yang termasuk di dalam wilayah Dekanat Tengah ini merupakan kesempatan yang baik untuk merayakan bersama paskah di luar perayaan-perayaan liturgis. Selain itu perayaan ini menjadi wadah untuk saling mengenal lebih dekat antara uskup, pastor, suster dan frater yang bertugas di wilayah Dekanat Tengah.

Perayaan ini dimulai oleh RD. Markus Lukas selaku Dekan Dekanat Tengah dengan ucapan selamat datang bagi semua tamu undangan, kemudian dilanjutkan dengan Ibadat sore bersama yang dipimpin oleh Fr. Eko. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Ramah Tamah yg diisi dengan perkenalan para anggota komunitas dari berbagai paroki dan biara yang ada di wilayah tersebut.

Pertemuan ini di hadiri oleh 50 peserta yang terdiri dari Mgr. Paskalis, para pastor, suster, frater yang berasal dari komunitas-komunitas di Dekanat Tengah(Paroki MBSB – Kota Wisata, Keluarga Kudus – Cibinong, St. Andreas – Sukaraja, St. Joannes Baptista – Parung, BMV Katedral, St. Fransiskus Asisi – Sukasari, St. Yakobus Megamendung, St. Maria Fatima – Sentul, Susteran FMM, PBHK, OSF, SFS, dan CP serta Seminari Stella Maris, Wisma Keuskupan dan Puspas).

Belajar Bersama…

Hal yang menarik ialah bahwa Perayaan bersama ini diperkaya dengan studi bersama khususnya yang berkaitan dengan Kebangkitan Tuhan. RD. Yohanes Driyanto memberikan pengajaran singkat akan Kebangkitan Tuhan dengan tema “Kelahiran dan Pertumbuhan Iman akan Kebangkitan”. Seperti para murid yang berjalan menuju Emaus (bdk Lk. 24, 13-35) dengan wajah muram, bersedih, pahit hati, kehilangan harapan, kebangkitan tidak serta merta membangkitkan Iman di dalam hati mereka. Menurut RD. Driyanto, “iman itu haruslah hidup, eksplisit dan operatif.”

Dalam kegalauan iman karena sengsara dan wafat Yesus serta ketidakpekaan para murid akan kehadiran Tuhan dalam perjalanan itu, Allah akhirnya mengambil tindakan guna menyelamatkan iman para muridnya. Melalui Yesus, Allah berkarya dengan tiga cara: Sentakan dan hentakan (kata-kata Yesus “betapa lamban hatimu”, “hai kamu orang bodoh”), Penjelasan Kitab Suci (Iman akan Mesias itu berdasar pada Kitab Suci), Pemecahan Roti (Duduk makan bersama Yesus: tindakan mengambil, mengucap syukur memecahkan dan memberikan kepada mereka – ekaristi).

Dengan Demikian, para murid mengalami perubahan mendalam karena Kebangkitan Tuhan. Iman tumbuh menjadi lebih kreatif (mencipta), membentuk (formatif) dan terlebih lagi mempu mengerjakan sesuatu (operatif). Iman akan kebangkitan itu mengubah mereka menjadi pribadi-pribadi yang berani. Malam dan gelap bukan lagi menjadi hambatan. Bahaya tidak lagi ditakuti. Mereka tidak lagi menunggu, namun segera kembali ke Yerusalem. Mereka menjadi Manusia-manusia Paskah!

Buona Pasqua!!!!

 

RD. Habel

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *