Peresmian Gua Maria Stasi Santo Vincentius, Gunung Putri – Bogor

gunungputri1

Keuskupan – Komsos: Sebuah sejarah yang terukir indah kembali di torehkan dalam Gereja Katolik oleh anak-anak Tuhan. Sebuah peristiwa iman yang penting terjadi di Stasi Santo Vincentius Gunungputri, Paroki Keluarga Kudus Cibinong, Bogor, yang akan dijadikan sebagai tonggak untuk lebih menumbuhkan Iman Katolik di Stasi Gunungputri. Peresmian gua Maria yang ada di Kapel St. Vincentius Gunungputri, sebuah tradisi yang baik dan telah dilakukan di Gereja Katolik sejak dulu, dan sekarang pun dilakukan dalam rangka menumbuhkan iman Katolik terlebih di Stasi ini.

Peristiwa ini berawal ketika Kunjungan Mgr. Paskalis Bruno Syukur, Uskup Bogor, berkunjung ke Kapel St. Vincentius. Saat itu ada beberapa aktivis (pengurus) yang menanyakan kepada beliau, sebaiknya gua Maria yang ada di Kapel ini diberi nama apa? Karena memang semenjak dibangunnya gua Maria itu, belum ada nama yang di labelkan. Karena memang belum ada nama yang di sematkan untuk Gua Maria itu, ada beberapa umat yang mencoba-coba memberi nama sendiri Gua Maria itu dengan sebutan “Gua Jero” yang mengandung makna Sebuah gua yang “JERO” yang berarti dalam, karena memang bentuk gua itu memiliki ruangan yang dalam untuk menempatkan patung bunda Maria yang bisa diletakkan di dalamnya. Akan tetapi saat itu Bapa Uskup belum bisa memberikan jawaban atas pertanyaan yang sempat dilontarkan oleh beberapa pengurus saat kunjungan itu. Beliau mengatakan “Untuk pemberian nama gua Maria, nanti kita bicarakan pada kesempatan yang lain”.

Semenjak itu, pemberian nama Gua Maria di Kapel St. Vincentius Gunungputri selalu di bicarakan, terlebih oleh para aktivis di Stasi ini, termasuk umat yang sering menggunakan Kapel ini dalam melakukan kegiatan rohani. Perlu diketahui, banyak kegiatan yang selalu dilakukan di tempat ini oleh umat Stasi St. Vincentius. Stasi ini terdiri dari tiga wilayah dan sembilan lingkungan. Wilayah-wilayah di Stasi ini, masing-masing memiliki tim paduan suara sendiri dan ada pula tim paduan suara Stasi, yang merupakan gabungan dari beberapa umat yang mewakili wilayah masing-masing. Serta ada pula tim paduan suara dari anak-anak yang menjadi target pembinaan oleh seksi Pasdior Stasi, yakni tim paduan suara “CRESCENDO” yang terdiri dari anak-anak usia pra -TK sampai SMP. Jadi ada lima tim paduan suara di Stasi St. Vincentius Gunungputri yang selalu menggunakan Kapel untuk melaksanakan kegiatannya.

Selain tim paduan suara yang menggunakan Kapel St. Vincentius, ada pula kelompok kategorial yang juga memakai tempat ini untuk sarana memupuk dan menumbuhkan Iman Katolik di Gunungputri. Salah satu kategorial itu adalah Kategorial doa, yang sering disebut “Pilar 22”, yaitu komunitas yang sangat setia untuk melakukan kegiatan doanya di Kapel tersebut. Hampir setiap malam Pilar 22 ini selalu berkumpul di Kapel St. Vincentius untuk melakukan doa bersama. Kebiasaan ini dilakukan semenjak Gunungputri menggeliat membangun kembali sarana doa dan sarana berkomunikasi, yang dulu sempat “terlupakan”. Semenjak itu Pilar doa ini rutin berkumpul, berdoa bersama dan sharing tentang banyak hal mengenai Stasi tercinta. Dan yang menjadi ciri khas dari Pilar 22 ini, mereka melakukan kegiatannya pada waktu malam tepatnya pukul 22.00 malam, dengan maksud bahwa jam-jam tersebut seluruh kegiatan-kegiatan Lingkungan yang mungkin dilaksanakan (rapat lingkungan, sembahyangan, koor, dll) sudah usai dilaksanakan, sehingga tidak berbenturan dengan kegiatan lingkungan masing-masing. Dan yang masih berjalan sampai laporan ini dibuat adalah pelajaran bagi para katekumen Baptis, setiap Sabtu dan Minggu sore. Pukul 16:00 wib. Serta Bina Iman anak & Remaja (BIA & BIR ) setiap Minggu jam 10.00 – 12.00. Puji Tuhan bahwa Roh Kudus berkarya nyata di tempat ini.

Dari banyaknya kegiatan yang ada di Kapel St. Vincentius, salah satu tema sharing dan pembicaraan adalah pemberian nama Gua Maria, yang memang sering digunakan untuk tempat berdoa bersama baik oleh perorangan, ataupun perkelompok (kategorial, lingkungan). Tema itu senantiasa di bicarakan umat dan komunitas di Gunungputri, dan di berbagai kesempatan dimana terjadi perjumpaan dengan Bapa Uskup, umat pasti menyakan hal yang sama ” apakah nama yang akan di berikan untuk Gua Maria di Kapel?

gunungputri1Saat yang ditunggu pun tiba. Bapa Uskup berkenan memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selalu diajukan kepada beliau. Melalui ibu Maria Yosefa Wahyu Sariningsih (Bu Ayu), Bapa Uskup memberikan jawaban bahwa nama yang akan diberikan oleh beliau untuk Gua Maria yang ada di Stasi St. Vincentius Gunungputri adalah “Bunda Maria Penolong Abadi” dan Beliau menyampaikan bahwa maksud dari nama itu adalah: “kita mohon pertolongan Bunda Maria, agar rencana menjadi Paroki terwujud dengan mulus, juga hidup berkeluarga berjalan baik, di Gunungputri berkat pertolongan Bunda Maria.” Demikian kalimat Mgr. Paskalis Bruno Syukur, saat itu melalui media sosial yang menjadi sarana komunikasi antar umat yang efektif.

Berita pemberian nama Gua Maria di Kapel St. Vincentius Gunungputri oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur dengan cepat tersebar ke telinga umat Stasi. Sukacita dan kegembiraan selalu terpancar disetiap umat yang mendengarnya, bahkan berita ini menjadi “Trending Topic” di media sosial umat Stasi Gunungputri. Menanggapi jawaban yang diberikan oleh Bapa Uskup, para aktivis dan segenap pengurus segera mengambil inisiatif untuk segera membicarakan perihal peresmian nama Gua Maria tersebut. Komunikasi dengan Bapa Uskup, selalu diusahakan untuk membahas waktu yang tepat bagi peresmian yang dimaksudkan. Dan yang pernah dilakukan adalah saat Pak Roni, Pak Handono, Pak Lukas, Pak Handoko dan Bu Ayu berkunjung di sela-sela kesibukan Bapa Uskup yang luar biasa padat.

gunungputri3Di tengah-tengah melakukan semua kegiatan oleh umat yang dikoordinasai panitia dan pengurus Stasi, ada kabar bahwa Bapa Uskup akan meninjau sejauh mana persiapan yang telah dilakukan oleh panitia dalam rangka Peresmian Gua Maria dan Pembukaan bulan Rosario. Mendengar “Sang Gembala” akan datang untuk meninjau, tak pelak seperti semangat yang semakin disuntikkan kepada segenap umat untuk lebih giat lagi menyelesaikan seluruh kegiatan persiapan Peresmian Gua Maria.

Pada tanggal 26 September 2015 akhirnya Beliau benar-benar datang meninjau persiapan yang telah dilaksanakan di Kapel. Dalam kunjungan rekreasi itu, Beliau juga mengingatkan hal-hal lain yang perlu dipersiapkan misalnya buku tentang perayaan yang akan dipakai dalam perayaan tersebut. Hal ini luput dari pembahasan panitia sebelumnya, sehingga agak sedikit gugup menanggapinya. Dan Luar biasa karya Roh Kudus di Kapel St. Vincentius ini, semua dipermudah dan diberi kelancaran, setelah konsultasi oleh seksi Liturgi, kepada Romo tentang jalannya prosesi yang akan dilaksanakan, akhirnya buku liturgi Perayaan Ekaristi Pembukaan Bulan Rosario dan Peresmian Gua Maria dapat disusun setelah ada masukan dan saran dari Romo Yatno.

Hari kamis, tanggal 1 Oktober 2015, mulai dari pagi persiapan akhir telah dilakukan oleh masing-masing yang terlibat dalam acara; dari putra-putri Altar, seksi perlengkapan, seksi Liturgi dan yang tak mau ketinggalan seksi konsumsi yang dengan setia dari awal persiapan sampai persiapan akhir dengan selalu menyediakan makanan ringan bahkan makan berat di tempat itu agar semua yang bekerja selalu terjaga tenaganya melalui sesuatu yang bisa mengenyangkan kebutuhan jasmaninya.

gunungputri4Sore itu sangat cerah dan cenderung panas, satu persatu umat berdatangan dari berbagai Lingkungan, wilayah dan bahkan ada umat dari luar Stasi St. Vincentius Gunungputri yang hadir untuk menjadi saksi acara bersejarah tersebut, karena memang berita yang menggembirakan ini di sebarluaskan kemana saja melalui poster, pamflet, dan secara lisan kepada semua saja. Sedikit-demi sedikit bangku-bangku di dalam Kapel mulai terisi oleh hadirnya umat. Setiap umat yang datang dari anak-anak sampai kakek-nenek oleh panitia telah disediakan beberapa barang pendukung acara seperti lilin, Rosario dan Lembaran doa yang khusus di bawa serta di hadiahkan oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur bagi umat Gunungputri tercinta, seperti yang biasa beliau lakukan dimana saja Beliau berkunjung ke setiap Gereja di Keuskupan Bogor ini.

Acara sore itu dimulai pukul 17.30, dengan doa Rosario bersama yang dipimping oleh Mas Aji Kristianto sebagai Protokol acara yang sebelumnya telah membacakan susunan acara sore itu.

Peristiwa terang adalah peristiwa yang menjadi tema dari doa Rosario sore itu dan setelah usai doa Rosario, langsung disusul dengan perayaan Ekaristi yang di pimpin oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur didampingi Romo Agustinus Suyatno dan Romo Monang Damanik. Sungguh anugerah yang teramat indah yang bisa dirasakan oleh umat Stasi ini, mengikuti Misa Selebran oleh pimpinan Gereja tertinggi di Keuskupan Bogor ini. Puji Tuhan, Alleluya !!

Dalam Homilinya yang berdurasi sekitar 20 menit, Bapa Uskup mengawali dengan mengatakan “HABEMUS MATRE MARIAM” (kita memiliki Ibu Maria). Ibu kita Bunda Maria dan lebih Khusus lagi diberi Gelar Bunda Maria Penolong Abadi, dan umat diajak untuk bersama berdoa Salam Maria. Beliau mengatakan bahwa hari ini adalah hari yang penting untuk dicatat oleh Stasi sebagai hari yang bersejarah, setelah mencatat tentang pemberesan pernikahan massal yang juga terjadi di Kapel St. Vincentius ini, kini tambah satu lagi catatan sejarah tentang Peresmian Gua Maria yang merupakan upaya mempertahankan ajaran yang benar dalam Gereja Katolik, sehingga Gereja Katolik bisa hidup dan tumbuh berkembang. Beliau mengungkapkan tentang permenungannya dalam doa saat mencari nama bagi Gua Maria ini, hingga didapatkan nama Bunda Maria Penolong Abadi. Tradisi yang sehat, baik dan berkembang tergantung dari umat yang menghidupkannya, sehingga nantinya dapat diwariskan bagi dirinya sendiri dan anak-anak serta orang lain. Dengan begitu kehidupan Gereja pun akan bertumbuh dan berkembang. Peristiwa ini menghidupkan sesuatu yang khas dalam Gereja Katolik yakni berdevosi, menghormati Bunda Maria. Bunda Maria Penolong Abadi dipilih agar Bunda Maria menolong Stasi ini agar nantinya bisa menjadi Paroki. Diharapkan agar setiap umat berdoa dan memohon agar iman dalam keluarga-keluarga bertumbuh dan berkembang menjadi kuat serta menjadi anak-anak Katolik yang kuat dalam iman, sehingga dapat memenuhi persyaratan menjadi Paroki. Kita memohon pertolongan Bunda Maria agar keluarga-keluarga di Stasi ini dilimpahi kedamaian, kebahagiaan, kesejahteraan dimana ada pengampunan dan belas kasih satu sama lain sehingga keluarga di Stasi ini menjadi oase kedamaian bagi suami, istri dan anak-anak.

Bapa Uskup mengungkapkan kegembiraannya bahwa Bunda Maria melindungi umat di Stasi ini, sehingga umatnya mau bekerjasama, baik antar sesama umat dan juga bersama Bapa Uskup dan para Pastor. Hanya dengan bekerja bersama, Gereja kita akan berkembang. Umat diajak agar senantiasa bersukacita dan bergembira karena kita memiliki Bunda Maria yang selalu menolong. Jika kita berdoa melalui Bunda Maria doa kita tidak akan sia-sia, dan Devosi kita kepada Maria akan menjadi nyata jika kita benar-benar percaya kepada Yesus. Diakhir homili Bapa Uskup mengajak umat semua berdevosi kepada Maria dan bersama saling mendoakan satu sama lain, dan memberikan bunga-bunga hati kita kepada Yesus melalui Bunda Maria yang pastinya menghantar doa-doa kita kepada putranya Yesus.

Pada saat doa Syukur Agung akan berakhir ada peristiwa dengan padamnya lampu Kapel, yang membuat suasana menjadi sangat sakral dan agung. Setelah doa Komuni ada sambutan dari ketua Stasi Bapak Roni yang secara garis besar bahwa memang Bunda Maria menolong Stasi St. Vincentius selama stasi ini berjalan, dan Yesus benar-benar hadir di Stasi. Harapan ketua Stasi agar Stasi ini menjadi Paroki agar segera terwujud. Dan sambutan dilanjutkan oleh Bapa Uskup dengan harapan pula agar umat Stasi mau membantu dan bekerja sama satu sama lain.

Menginjak acara yang ketiga adalah prosesi peresmian Gua Maria, dalam acara ini seluruh umat menyalakan lilin-lilin yang mereka bawa dan berjalan berarak dengan mantap sambil berdoa kepada Bunda yang selalu menolong dan seruan-seruan yang dibacakan bergantian, serta mengiringi arak-arakan dengan doa salam Maria sampai di depan Gua Maria. Setelah memerciki Gua dan memberi wewangian Bapa Uskup berdoa untuk segala harapan bagi Stasi dan keluarga-keluarga di Stasi St. Vincentius Gunungputri dan secara resmi menanda-tangani prasasti sebagai tanda dan kenangan bagi peresmian Gua Maria di Kapel ini. Dan juga beliau memberi hadiah kepada umat Stasi ini dengan sebuah Lukisan Bunda Maria Penolong Abadi yang sangat indah. Diakhir prosesi Bapa Uskup mengatakan:

DENGAN KUASA DAN BERKAT TRITUNGGAL MAHAKUDUS DAN BANTUAN BUNDA MARIA, GUA MARIA DI STASI GUNUNGPUTRI INI DINAMAI ;“BUNDA MARIA PENOLONG ABADI

Dan lampu di dalam Gua Maria dinyalakan sebagai tanda bahwa Gua ini secara resmi dinamai “Bunda Maria Penolong Abadi” diiringi oleh tepuk tangan dan sukacita seluruh umat yang hadir dan meletakkan lilin-lilin yang menyala serta doa didepan Gua Maria sebagai persembahan hati umat.

( Agustinus Suryanto )

 

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

2 thoughts on “Peresmian Gua Maria Stasi Santo Vincentius, Gunung Putri – Bogor

  • October 14, 2015 at 15:40
    Permalink

    Kiranya umat semakin menyadari bahwa dengan kerja sama yang baik disertai doa-doa kepada Allah dan memohon pertolongan Bunda Maria, kerukunan hidup berkeluarga tercipta, dan harapan menjadi paroki dapat terwujud dengan baik.

    Reply
    • July 15, 2016 at 21:24
      Permalink

      Amin amin amin…
      Trims bu Ayu…
      Gbu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *