Senin, 11 Juli 2016, BIM kembali mengadakan pertemuan. Sebanyak 19 imam Keuskupan Bogor dan 2 orang frater hadir dalam pertemuan kali ini. Agenda kegiatan yang direncanakan dan dijalankan dalam pertemua ini adalah kunjungan ke Panti Werda Gracelil di Gunung Geulis dan Panti Rehabilitasi Kedhaton Parahita di kawasan Sentul.
KFC Sentul menjadi meeting point agar rombongan para imam bisa menuju lokasi bersama –sama. Pkl. 10.15 setelah semua berkumpul akhirnya rombongan BIM pun melaju menuju Panti Werda Gracelil terlebih dahulu. Lokasi Panti Werda Gracelil yang terletak di Gunung Geulis ditempuh sekitar 20 menit. Udara yang segar dan hijaunya kawasan perbukitan menjadi pemandangan indah selama perjalanan. Sesampainya di Gracelil, para oma dan opa sudah duduk rapi menyambut kedatangan kami. Dengan penuh senyum sambil bersalaman mereka menyambut kami.

Romo Eko memberikan komuni kepada oma dan opa

Romo Eko memberikan komuni kepada oma dan opa

Di Panti Werda Gracelil ini kami merayakan Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Romo Eko, salah satu imam yang baru ditahbiskan sebulan yang lalu. Dalam homilinya Romo Eko mengajak para oma dan opa berbahagia sambil mengajarkan Tepuk Salut. Usai Perayaan Ekaristi, Ketua BIM, Romo Andre memberikan sambutan singkatnya. Kunjungan ini merupakan ungkapan iman dalam merayakan Tahun Kerahiman Ilahi.Demikian pesan yang disampaikannya. Akhirnya kami pun mengakhiri pertemuan di tempat ini dengan makan siang bersama oma dan opa di tempat ini. Suasana dan ruangan makan di Gracelil mengingatkan kami dengan suasana Seminari Tinggi St. Petrus Paulus tempo dulu. Dua Meja makan yang panjang di sisi kanan dan kiri, sementara makanan dihidangkan di meja makan panjang yang diletakkan di tengah.

Para Romo BIM beserta para Suster Panti Werda Gracelil

Perjalanan di lanjutkan ke Panti Rehabilitasi Kedathon Parahita di kawasan Sentul. Kedatangan kami disambut hangat oleh Pastor Edo beserta staff dan jajarannya. Memasuki gedung ini, kami tidak diperkenankan membawa Hand Phone. Bro Edi (Brother, panggilan kepada laki-laki di tempat ini) beserta dengan para suster, staf, dan juga dua orang pastor yang berkarya pastoral narkoba di tempat ini, memaparkan mengenai Kedhaton Parahita (Istana Kasih) dan misinya. Di tempat ini para korban narkoba diberikan harapan kembali untuk meraih masa depan yang lebih baik. Selama 6-9 bulan mereka dirawat secara mental, spiritual, sosial dan fisik. Usai diberi penjelasan, kami pun diberi kesempatan untuk “tour building”. Tidak beda jauh dengan Seminari, di tempat ini pun para residence (sebutan untuk penghuni panti rehabilitasi” memiliki kedisiplinan hidup dengan belajar bekerja sama melalui pembagian tugas bulanan (mirip jadwal opera). Mereka pun ada kegiatan semacam corectio fraterna, doa bersama, makan bersama dan olahraga bersama. Didampingi oleh psikiater para residence ini (pria dipanggil dengan bro (brother), wanita dipanggil dengan sis (sister)) setiap harinya dirawat dan dilatih untuk bangkit dari dunia kelamnya.

Siap olahraga bersama

Siap olahraga bersama

Acara di Panti Rehabilitasi Kedhaton Parahita ditutup dengan berolahraga bersama di Sport Hall. Para pastor dan juga para residence lebur dalam sebuah permainan sepak bola. Pengalaman dan perjumpaan hari ini dengan para oma-opa dan juga para residence membuahkan semangat dan sukacita pelayanan terlebih dalam Tahun Kerahiman Ilahi ini.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *