Cinere-Keuskupan : Setelah melalui berbagai persiapan, akhirnya rekoleksi Legio Mariae dapat dilaksanakan pada Sabtu (26/8/2017) di Aula Gereja St. Matias, Cinere. Rekoleksi diikuti oleh 12 presidium dari 6 paroki yaitu Paroki St. Matias-Cinere, Paroki St. Thomas-Kelapa Dua, Paroki St. Herkulanus-Depok Jaya, Paroki St. Paulus-Depok Tengah, Paroki St. Matheus-Depok dan Paroki St. Markus-Depok Timur serta 1 Kuasi yaitu Bunda Maria Ratu-Sukatani yang tergabung dalam Kuria Ratu Para Rasul se-Dekanat Utara.

Rangkaian acara diawali dengan mendaraskan Doa Tesera dan Rosario pada pukul 08.00 dipimpin oleh Perwira Kuria yaitu Thomas Kristyawan. Lalu dilanjutkan misa konselebrasi bersama RD Yulius Eko Priyambodo selaku Moderator Legio Mariae Dekanat Utara, dengan selebran utama RD Christophorus Tri Harsono selaku Vikjen Keuskupan Bogor.

Dalam homilinya, Romo Tri Harsono memaparkan bahwa Maria dan Yesus adalah suatu kesatuan yang konkret dan tak dapat dipisahkan. Meskipun banyak kelompok lain yang tidak menganggap Maria, namun umat Katolik senantiasa menghormati dan berdoa pada Maria. Umat Katolik khususnya para legioner hendaknya meneladani kerendahan hati  Maria.

Mengakhiri homilinya, Romo Tri Harsono menghimbau para legioner untuk tidak berkecil hati meskipun Legio Mariae kurang diminati dan hanya sedikit umat yang mengikutinya. Namun, hendaknya para legioner semakin meningkatkan doa, karya pelayanan dan keimanan.

Usai misa, langsung dilanjutkan dengan Sesi I oleh Romo Tri yang memaparkan “Maria Sumber Rahmat Bagi Semua Agama”. Adapun kedudukan Maria dalam gereja yaitu Maria adalah Hawa yang baru juga sebagai Thetokos (Bunda Allah). Maria adalah perantara sejati menuju Putra-nya, Yesus Kristus, maka dengan mengenal Yesus Kristus berarti mengenal Maria. Seorang yang katolik banget harus mengenal Maria. Konsili Vatikan II  menegaskan bahwa menempatkan kembali Maria pada baris depan umat manusia sebagai penerima dan kita akan semakin melihat Kristus sebagai pelaku aktif yang diutus Bapa dari Surga untuk menarik kita kembali kepada-Nya melalui gereja sebagai alat-Nya.

Selain itu Romo Tri juga menghimbau umat untuk tidak terjebak dalam “penyakit-penyakit” agama yaitu superstition (takhayul), fanatisme, fatalism, sinkretisme, kuantifikasi ritual, yang dapat melemahkan keimanan.

Setelah break untuk menikmati santap siang, dilanjutkan dengan Sesi II oleh Octavian Elang Diawan yang memaparkan “Presidiumku..Rumahku..” Rumah yang sehat merupakan tempat dimana para anggotanya  saling melakukan dan menerima tindakan saling asih, saling asah dan saling asuh. Presidiumku adalah rumahku sehingga diharapkan dari presidium dapat terpancar mukjizat terusan dari Keluarga Nazareth. Keberhasilan presidium secara psikologis terlihat dari kegembiraan para anggotanya untuk bertemu dan berkumpul. Legio Mariae mengandung setidaknya 3 unsur besar yang membentuk sebuah piramida meliputi persahabatan/kasih antar anggota, spiritualitas Maria dan system Legio Mariae.

Usai Sesi II, Mas Elang memberi waktu bagi para legioner untuk sharing yang terbagi dalam 5 kelompok.

Semoga rekoleksi ini dapat semakin mempererat dan mempersatukan para legioner juga meningkatkan doa dan karya pelayanan para legioner baik di paroki, Dekanat Utara maupun Keuskupan Bogor. (net)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *