pse bogorBogor – Keuskupan : Hari Minggu tanggal 29 Nopember merupakan hari bersejarah bagi PSE Dekanat tengah. Untuk pertama kalinya mereka duduk bersama di Paroki Ignatius Semplak, membicarakan hal yang sama. Setelah snack, kegiatan langsung dibuka pertemuan. Untuk kali ini kami membicarakan BPJS. Dengan tujuan bagaimana membantu umat untuk bisa berobat dikala mereka sakit.

Pernah terjadi disaat ekaristi berlangsung ada seorang ibu tua tidak sadarkan diri. Dokter yang ada saat itu menyarankan untuk langsung dibawa ke rumah sakit karena kondisi yang mengkawatirkan. Mulanya ibu ini bertahan mau pulang saja ke rumah. Setelah dibujuk harus dibawa segera ke rumah sakit, ibu ini berkata tentang biaya dan ia tidak memiliki kartu anggota BPJS.

Sakit tidak diundang dan diharap. Siapa pun tidak akan tahu datangnya penyakit. Bisa juga tiba-tiba yang kelihatannya sehat, ternyata sudah memiliki penyakit berat dalam dirinya. Maka tidak ada salahnya orang bersiap-siap dan caranya selain menjaga kesehatan juga mendaftar menjadi anggota BPJS.

Dari beberapa ‘sharing’, dikala sakit ada yang mudah dan tanpa bayar sedikit pun sewaktu mengunakan kartu BPJS, namun ada juga yang tidak mudah. Ada juga yang mengalami menjadi pasien nomor dua di rumah sakit, nomor satu adalah mereka-mereka yang membayar. Atau beberapa kali harus mengeluarkan uang untuk membeli obat tertentu.

Sebetulnya ada yang tidak perlu membayar dalam pembuatan dan membayar bulanan BPJS yakni mereka yang termasuk tidak mampu. Namun ternyata juga tak sama; Ada yang mudah, ada yang tidak mudah dan ditemukan juga kartunya lama jadinya.

Setelah mengadakan kegiatan di Dekanat Tengah, tanggal 5 Desember PSE Dekanat Utara berkumpul di Paroki Matias Cinere. Untuk kali ini yang hadir membagi pengalaman PSE di Paroki masing masing. Ada yang bercerita dengan bersemangat dan berapi-api namun ada pula yang dengan suara rendah bercerita kesulitan yang dihadapinya.

pse bogor 2Masalah-masalah yang muncul di sekitar bantuan anak sekolah, di mana dana yang didapat dari Paroki terbatas tidak mencukupi, apalagi ada kebutuhan yang mendadak dan besar. Ada pula yang harus menagih utang kepada mereka yang meminjam uang di masa yang lalu dan menjadi sulit bahwa mereka yang berutang merasa itu pemberian bukan pinjaman.

Ternyata di dalam persoalan yang dihadapi ada juga kekuatan yang menyatukan. Ada Paroki yang memiliki kelebihan bisa menularkan pengalamannya kepada yang masih dalam kesulitan mengelola. Karena itulah mereka berjanji dan berniat untuk duduk bersama lagi di lain waktu.

Bagaimana dengan PSE Dekanat Barat dan Dekanat Selatan?, kami merencanakan untuk berkumpul bersama awal dan minggu ketiga Pebruari dimulai dengan Dekanat Selatan. (RD. Ridwan).

 

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *