Bogor-Keuskupan : Pada tanggal 16- 18 desember 2016, PSE Regio Jawa mengadakan pertemuan di Wisma Pojok Indah, Jogja. Pertemuan se Regio Jawa ini dihadiri juga dari Keuskupan Weetebula. Peserta pertemuan PSE seRegio Jawa  terdiri dari Ketua Komisi PSE keuskupan dan para aktivis credit union. Perwakilan dari Keuskupan Bogor yaitu Pastor JM. Ridwan Amo sebagai ketua komisi PSE keuskupan, Fr. Gregorius Agus Edy cahyono, Ibu Agustina Nuryati dari CU Bina Mandiri, Sdri. Maria Carolina Dhasilfa dari CU Sejahtera dan Ibu Widya Resmi Purwanti dari CU Cemara Lestari.

Pembukaan retret PSE dan CU ini dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD. Luis. Setelah dibuka dengan perayaan Ekaristi oleh koordinator PSE Regio Jawa yaitu RD. Luis, Acara dilanjutkan dengan pertemuan perkenalan dan sesi I. Pertemuan pertama ini dipandu oleh RD. F.A. Teguh Santosa, beliau adalah sekretaris PSE KWI. Di dalam perkenalan, RD. Teguh mengajak setiap orang yang mewakili dari keuskupannya untuk menyatakan kebanggaannya. Kebanggaan yang pertama berkaitan dengan kebanggaannya atas keterlibatan diriku ke dalam credit union baik itu sebagai anggota atau sebagai pengurus “saya bangga mnejadi pengurus atau anggota di CU”. Sedangkan kebanggaan yang kedua berkaitan dengan, apa yang bisa saya banggakan dari Credit Union kami.

Dari kebanggaan-kebanggaan yang telah dinyatakan oleh para peserta, RD. Teguh memberikan kesimpulan bahwa kebanggaan itu berasal dari diri kita atau ke “aku” an. Sesuatu yang kita miliki. Kebanggaan juga berkaitan dengan sebuah peristiwa, pengalaman hidup atau sesuatu yang kita hidupi. Oleh karena itu menjadi sebuah pertanyaan, apa yanghidup atau kita dihidupi? Karena dalam pertemuan ini berkaitan dengan credit union, maka yang dihidupi adalah nilai-nilai credit union tersebut. Lebih lanjut beliau mengungkapkan bahwa, Ketika credit union itu menghidupi nilai-nilainya maka yang terjadi adalah credit union akan memberikan kehidupan. Misi CU berkaitan dengan tiga hal yaitu spiritual, moralitas dan materi, hal itu disebabkan karena Credit union dapat kita bahasakan sebagai komunitas murid-murid Yesus.

Pada hari kedua, perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Stef dari Purwokerto. Setelah Ekaristi, peserta sarapan dan dilanjutkan dengan pertemuan ke II. Pada pertemuan ke II ini dibuka oleh RD. Yansen. RD. Yansen mencoba memberikan pengantar dan kembali mengulas sesi I. RD. Yansen menjelaskan mengapa kita diminta untuk mengatakan bahwa saya bangga pada sesi I. Kita berbangga karena menjadi aktivis CU berarti kita menjadi penggerak, yakni orang yang terlibat, belajar, melayani, peduli, berbagi, bertumbuh kembang, berubah dan berbuah. Sebagai murid Yesus, kita harus mengabdi pada nilai inklusif, kolaboratif, tanpa diskriminasi dan dapat menjadi saluran berkat bagi yang lain. Peran aktivis CU sebagai director yaitu mengarahkan, membimbing dan mengendalikan dan atau manajemen yaitu menjalankan roda operasional atau pastoral.

Credit Union memang tidak lepas dari namanya uang. Tetapi, disini ditekankan bahwa pandangan uang harus seperti versi Yesus (uang bukan segala-galanya) Yoh 2: 14, 2: 15 dan bukan versi Musa (segala-galanya butuh uang) Ul 2: 6-7, Ul 2:28.  Sehingga di sinilah kita mulai bertanya kembali sebenarnya mana yang lebih penting, core Values atau core bisnis?

Setelah RD. Yansen mengajak peserta untuk mengulas kembali sesi I, sesi dilanjutkan oleh RD. Teguh. RD. Teguh memilah harta menjadi dua bagian yaitu harta duniawi dan harta surgawi. Apa harta duniawi itu? harta dunia atau harta di bumi itu seperti uang, jabatan, kekuasaan, kepemilikan, popularitas dll. Ciri harta duniawi adalah bisa habis. Sehingga kalau kita melihat ke CU sendiri berarti CU itu bergerak di dalam harta duniawi. Sedangkan harta surgawi adalah harta yang dibawa ke surga, seperti pelayanan, solidaritas dll. Maka ketika seseorang meninggal dan ia tetap dikenang baik, di situlah seseorang sudah menanamkan nilai atau sesuatu yang bersifat surgawi.

Menjadi pertanyaan, apakah seseorang dapat hidup ketika hanya mengusahakan harta surgawi? Tentu tidak. Yesus selalu menekankan untuk mencari harta surgawi, tetapi itu bisa dicapai ketika bersebelahan dengan harta duniawi. Di sinilah kita harus melihat harta duniawi itu sebagai mana fungsinya. Harta duniawi berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Tujuaan yang ingin dicapai yaitu keselamatan dan dalam bahasa kita yaitu kesejahteraan. Sangat mungkin harta duniawi sebagai sarana ke yang rohani, akan tetapi harus ditekankan tentang spiritualitas. Sebagai sarana untuk mencapai tujuan juga perlu spiritualitas, termasuk CU itu sendiri. Uang atau CU bisa dilihat dan menjadi sarana. Sarana itu ketika dijiwai spiritualitas maka keselamatan atau kesejahteraaan bisa dirasakan oleh banyak orang. Spiritualitas menjadi pembeda antara saya sebagai sekaligus aktivis CU dan aktivis pastoral dengan sesama aktivis non Gereja atau murid Yesus. Spiritualitas juga harus menjadi doktrin yang dianut atau dihidupi dan filosofi yang membuat orang-orang yang duduk dalam jabatan CU dan anggota menghidupkan ‘core values’ dan bukan terutama mengabdi pada ‘ccore bisnis’ dan spiritualitas pada hakekatnya menghendaki aksi dengan metode –ala Yesus dan mengantar orang meng-ekspresi iman.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi per kelompok. Para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok besar. Bahan untuk diskusi tersebut berkaitan dengan spiritualitas apa yang ada di dalam CU masing-masing? Dari diskusi yang kemudian dipaparkan oleh setiap kelompok, mereka menghadirkan nilai-nilai itu seperti solidaritas, berbagi, bertanggungjawab, keterbukaan, kejujuran dan masih banyak lagi.

 

Setelah pemaparan setiap kelompok, RD. Teguh memaparkan bagaimana gaya atau cara berpastoral Yesus yang dapat menarik banyak orang untuk datang dan mengikutinya. RD. Teguh mengambil ayat dari Luk 5: 1-11, tentang penjala ikan menjadi penjala manusia. Di dalam gaya pastoral-Nya, Yesus berdiri, melihat, masuk, duduk, mengajar, aksi dan menghasilkan.

Berdiri Melihat Masuk  Duduk Mengajar Aksi Hasil
Siap siaga/ responsif Menangkap/ mengamati realitas dan memilih Mengalami peristiwa hidup Diterima, nyaman, memberi kesempatan dan memahami Obyek yang relevan dan subyek yang terbuka dan mendengar Mengajak bertolak ke dalam dan mendampingi

 

Ada hasil melimpah, berbagi ada perubahan hidup dari yang menyebut guru menjadi Tuhan.

 

Oleh karena komunitas CU adalah komunitas murid Yesus maka di dalam komunitas CU menunjukkan:

  1. Kumpulan orang-orang yang saling percaya, saling menolong untuk bertumbuh kembang dan berbuah.
  2. Komunitas yang menghidupi dan menghidupkan nilai sebagai doktrin dan filosofi hidup: berkomitmen pada janji, setia, berbelarasa, berkurban, percaya dan bertanggung jawab.
  3. Komunitas CU baik aktivis maupun anggota adalah saudara, bukan guru, bukan pemimpin, karena pemimpin sesungguhnya hanya satu yaitu Kristus.
  4. Mereka terlibat, belajar dan melakukan aksi untuk sejahtera dan selamat.

Menjadi pertanyaan adalah sejauh mana CU menjadi alat dan sarana agar anggota mengalami peristiwa Kerajaan Allah dan berusaha mencapai tujuan hidupnya?

Pada hari ketiga, bahasan retret berkaitan dengan rencana yang akan dilakukan setelah dari pertemuan retret tersebut. Banyak dari para aktivis CU sendiri yang akan membagikan sesuatu yang sudah di dapat dari retret kepada CU tempat mereka berkarya, ingin lebih mendekatkan diri kepada anggota, ingin melayani lebih baik lagi, ingin mengadakan retret serupa di tingkat keuskupan masing-masing dan masih banyak lagi, tentunya demi kemajuan dan perkembangan orang-orang supaya memperoleh kesejahteraan lebih lagi.

 

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *