Tuntas sudah karya penggembalaan Uskup Bogor keempat, Mgr Emeritus (Purnakarya) Michael Cosmas Angkur OFM, di Keuskupan Bogor. Dalam misa perpisahan yang berlangsung di Gereja Katedral Bogor, Jumat (25/4), Monsinyur Michael secara resmi meng- umumkan perihal kepergiannya ke Labuan Bajo, Manggarai, NTT, Senin (28/4),, sekaligus mengucapkan salam perpisahan kepada seluruh umat di Keuskupan Bogor.

“Saya bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada Uskup Bogor Mgr Paskalis, para imam, bruder, suster, dan seluruh umat selama 20 tahun saya menjadi gembala di Keuskupan Bogor. Segala hal dalam hidup ini ada waktunya. Ada waktu menabur, ada waktu menuai. Ada waktu datang, ada waktu berpisah. Semua itu sudah diatur Tuhan karena hal itu indah pada waktunya,” kata Mgr Michael seusai mengadakan misa perpisahan.
Misa dipersembahkan langsung oleh Mgr Michael didampingi Uskup Bogor Paskalis Bruno Syukur OFM, Pastor Paroki Katedral Bogor Benyamin Sudarto Pr, dan Sekretaris Keuskupan Bogor Pastor Stefanus Haryono Putro Pr.

Mgr Michael pensiun dan telah digantikan Mgr Paskalis pada 22 Februari lalu. Di Labuan Bajo nantinya Monsinyur Michael akan berkarya di sebuah biara Fransiskan yang baru dibukanya.
“Saya akan tinggal di sebuah biara yang tidak jauh letaknya dari Pulau Komodo,” tuturnya.
Pria yang hobi bercocok tanam ini juga telah menyiapkan satu dus benih tanaman padi di sana. Michael Angkur memang teramat cinta pada tanaman, hingga tak heran bila di sekitar keuskupan dihiasi oleh aneka tanaman, seperti kaktus, antorium, dan bunga bangkai.

Tak hanya pada tanaman, Mgr Michael yang terlihat serius ini sangat peduli pada kaum lemah, terutama pada anak-anak panti asuhan. “Beliau sangat peduli dan penuh perhatian pada anak-anak di panti kami. Saat ke- naikan kelas, Monsinyur selalu bertanya satu-persatu tentang rapor mereka. Ia juga memikirkan masa depan mereka,” ujar Pimpinan Panti Awam Bina Amal Sejati (ABAS), Maria Rosa.
Panti ABAS yang terletak di Tonjong, Parung, wilayah Keuskupan Bogor merupakan tempat anak-anak yang tidak diinginkan oleh orangtuanya mendapat pendidikan dan binaan. “Banyak bayi yang dibuang di tempat ini. Monsinyur di sela aktivitasnya selalu berkunjung ke tempat ini, untuk sekadar bercanda dengan anak-anak dan menanyakan kabar mereka,” ucap Rosa. Selain Panti ABAS, Monsinyur juga kerap mengunjungi Panti Asuhan Sindanglaya, Cipanas.

Dari kesan dituangkan sejumlah tokoh. Mgr Paskalis mengatakan, Uskup Michael memiliki semangat spritualitas yang tangguh se- perti halnya Santo Petrus. “Seperti semboyan yang ia pilih, In Verbo Tuo dalam karya penggembalaannya, Monsinyur telah menebarkan jala supaya banyak orang percaya pada Tuhan. Seperti Santo Petrus karena Allah yang menyuruhnya, maka ia mau menjadi penjala manusia. Beliau telah banyak berbuat untuk ke- majuan Keuskupan Bogor,” ujar Paskalis.
Sekitar 400 undangan yang terdiri dari imam, biarawan, biarawati, dan umat di 21 paroki yang ada di Keuskupan Bogor larut dalam misa yang dilanjutkan dengan acara ramah-tamah di Aula Pusat Pastoral Bogor. Hadir pula Tokoh Lintas Iman Kota Bogor. Ketua Umum Badan Sosial Lintas Agama (Basolia) Bogor, KH Zaenal Abidin mengenang Mgr Michael sebagai salah satu deklarator berdirinya Basolia.

Jaga Pluralisme
“Bersama dengan lima tokoh lintas iman lainnya pada 2007 Monsinyur ikut mendeklarasikan dan menandatangani Piagam Basolia untuk menjaga pluralisme dan kerukunan antarumat beragama di Bogor,” tuturnya.
Mgr Michael Cosmas Angkur OFM dilahirkan di Lewur Ndoso, Manggarai, Flores-NTT, pada 4 Januari 1937. Anak kelima dari delapan bersaudara ini memulai pendidikannya di SDK Lewur (1945-1948), kemudian di Standard School (1948-1951) di Ranggu, Manggarai. Pendidikan menengah di Seminari Mataloko, Flores, dijalaninya sejak tahun 1951 hingga 1960, dan dilanjutkan dengan masuk novisiat OFM di Cicurug Sukabumi. Sementara itu, studi filsafat dan teologi dilaksanakan di dua tempat, yaitu di Cicurug dan Yogyakarta.
Pada 14 Juli 1967, Pater Michael menerima tahbisan imam dari Mgr Nicolaus Geise OFM di Gereja Santa Perawan Maria Katedral Bogor. Setelah menjadi Klerus, Pater Michael bertugas secara berpindah-pindah di antaranya di Flores dan Wamena.
Jiwa misionaris Pater Michael semakin dimatangkan di tanah Papua. Di pedalaman Lembah Baliem, ia membidani lahirnya Paroki Hepuba. Paroki tersebut bukan hanya sebagai cikal bakal pertumbuhan iman Katolik, tetapi juga benteng pertahanan terhadap upaya penghancuran adat istiadat setempat yang dilakukan oleh kelompok lain.
Tugas lain yang pernah diembannya antara lain menjadi Ketua Komisi Keluarga KWI (1994-2000), Ketua Komisi Pendidikan dan Ketua MNPK (2000-2003), Direktur Panti Asuhan Vincentius Jakarta, serta gerakan lain yang besar manfaatnya dan kedamaian bagi komunitas dan sesama. [SJM/S-26]

kiriman: Ign. Herjanjam
Suara Pembaruan tgl. 26/27 April 2014

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *