Kemajuan teknologi komunikasi yang semakin canggih itu membuat kita dapat dengan mudah berkomunikasi antara satu dengan yang lain. Tetapi penggunaan media sosial ibarat pedang bermata dua, bisa membantu namun juga bisa membahayakan. Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada berita hoax yang menyebar secara masif di berbagai media sosial. Jika kita perhatikan penyebaran berita hoax itu sarat dengan berbagai kepentingan juga ujaran kebencian. Demi menghindari dampak buruk itu, maka setiap orang sudah seharusnya mempunyai filter di dalam dirinya sendiri supaya bisa menyaring semua informasi yang diterima dari media sosial. Ketika kita sedang membaca suatu berita di media sosial, misalnya, sebaiknya jangan langsung percaya dengan isi berita itu. Untuk itulah  Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemKomInfo) RI bekerjasama dengan Komisi Komunikasi Sosial (KomSos) KWI dan Komisi Kepemudaan (KomKep) KWI mengadakan Forum Dialog dan Workshop Literasi Media dengan mengangkat tema “Taat Agama, Bergaul Harmonis, Sopan Berkomunikasi Untuk Generasi Muda Katolik” pada Sabtu-Minggu (16-17/9/2017) di Civita Youth Camp, Jakarta.

Adapun kegiatan ini diikuti oleh 80 orang muda dari Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bogor dan berbagai ormas diantaranya ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia), Beda Itu Biasa, Temu Kebangsaan, dll. Dengan mengundang berbagai narasumber yang mumpuni, para kaum muda dibekali berbagai materi melalui berbagai sesi.

Sesi pertama oleh RD Kamilus Pantus selaku Ketua Komisi KomSos KWI dengan materi “Gereja dan Media Sosial” yang memaparkan bahwa dasar komunikasi antara Allah dengan manusia adalah doa. Gereja mengemban tugas misi pewartaan di tengah dunia ini. (Matius 28:19-20). Perkembangan itu membentuk “dunia baru” yaitu dunia maya/virtual yang memiliki dampak positif dan negatif sekaligus ladang pewartaan gereja, menciptakan generasi milenial bahkan pasca milenial. Gereja memandang positif perkembangan teknologi khususnya media komunikasi dan sejauh mungkin media itu bisa digunakan untuk pewartaan injil. Gereja menghimbau agar kritis terhadap media komunikasi, mengenal media, mempelajari lebih baik dan akhirnya menggunakan dengan cara yang tepat serta efektif dalam karya pewartaan. Gereja mengajak untuk mengembangkan media komunikasi modern sesuai kebutuhan tanpa melepas unsur media bahasa pada budaya setempat.

Sesi kedua oleh Brigjen Pol.  Marthinus Hukom, SIK dengan materi “Perkembangan Media Sosial, Terorisme dan Peran Generasi Muda Gereja dalam Menyikapinya”. Tidak hanya memaparkan materi, namun beliau juga menghimbau para kaum muda untuk memperhatikan dan waspada akan adanya aktifitas yang mencurigakan di lingkungan sekitarnya.

Sesi ketiga oleh Anthony Lee dengan materi “Media Sosial, Konten Positif dan Imajinasi Kebangsaan” yang memaparkan bahwa media hanya sebagai alat sehingga baik atau buruknya tergantung pada orang yang menggunakannya. Dalam sesi ini, para orang muda diajarkan untuk mampu membaca dan memahami pesan-pesan yang terdapat dalam konten-konten di media sosial. Pesan akan lebih diingat jika emosi pembaca tersentuh, misalnya cinta, haru, marah, dll.

Sesi keempat oleh Stefanus Dimas Ryan Saputro dengan materi “Membuat Konten Positif di Media Sosial”. Dalam sesi ini, para kaum muda diajak untuk langsung praktik membuat konten-konten yang mengandung pesan positif.

Sesi kelima oleh Margaretha Astaman dengan materi “Membentuk Opini Publik” yang mengajarkan kaum muda untuk mampu mendeteksi berita hoax juga membedakan konten positif dengan konten negatif. Kegiatan ini juga dihadiri oleh RD Antonius Haryanto selaku Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI. Rangkaian kegiatan ditutup dengan misa konselebrasi, selebran utama RD Kamilus Pantus.

Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini, para orang muda katolik dapat mendeteksi berita hoax, juga menjadi agen-agen perubahan yang dapat menangkal berita hoax dengan menyebarkan konten-konten positif yang berisi pesan-pesan cinta kasih dan perdamaian di media sosial. (Stephanie Annette Siagian)

 

 

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *