Surat Gembala Paskah 2018 Keuskupan Bogor

Seluruh umat Keuskupan Bogor terkasih!

Salam kasihku dari Keuskupan.

Pada Tri Hari Suci ini, pastilah kalian semua menyiapkan diri untuk berbondong-bondong ke gereja di parokimu. Aneka persiapan liturgi Tri Hari Suci (persiapan para rasul untuk pencucian kaki, Tuguran, Tablo, Passio dan Liturgi Api dan Lilin Paskah) menandai perhatian kita, di luar pekerjaan rutin harian anda di kantor, sekolah, pabrik, toko, kebun dan di rumah. Persiapan lahiriah berdasarkan pada tradisi sehat Gereja Katolik, perlu ditanamkan pada anggota keluarga, anak-anak di sekolah-sekolah. Ciptakanlah hal-hal lahiriah yang membantu penghayatan batin kita untuk memaknai peristiwa amat penting ini bagi hidup beriman kita, yang dirayakan pada Hari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci dan Minggu Paskah.

Sebagai orang Katolik dan sekaligus orang Indonesia (Saya Katolik-Saya Indonesia), saya mengajak Anda sekalian untuk merayakan Paskah sebagai peristiwa kebangkitan komitmen iman Katolik dan komitmen kebangsaan. Paskah adalah momentum untuk mempembaharui semangat hidup dalam lingkungan keluarga, sekolah, gereja, tempat kerja dan negara. Manusia Paskah adalah manusia yang mau mengalami kebangkitan semangat hidup. Jadilah manusia yang penuh semangat, antusias dan optimistis. Bangkitlah dari manusia yang ragu, takut dan putus asa menjadi manusia yang penuh kasih dan pengharapan dalam iman kepada Allah. Jadilah orang Katolik yang sungguh juga berperan aktif dalam upaya menjaga, merawat dan menyelamatkan tanah air (bangsa) Indonesia. Inilah ciri utama manusia Paskah.

Rasul Paulus berkata bila Kristus tidak bangkit, maka sia-sialah pewartaan dan kepercayaan kita. (bdk1 Kor 15:14). Kebangkitan Kristus menjadi peristiwa puncak iman katolik. Dengan demikian kekatolikan kita diukur dengan seberapa besar kebangkitan iman, harapan dan kasih kita dalam komitmen kekatolikan dan kebangsaan kita. Bila kita tidak bangkit maka sia-sialah iman kita.

Dunia kita sekarang ini ditandai oleh pesimisme, fatalisme, hoax, perjuangan dari kesulitan-kesulitan hidup dalam keluarga dan masyarakat. Kultur kematian seperti keraguan, putus asa, ketakutan, kebencian, dendam, pembunuhan hak dan kebebasan, primordialisme kesukuan, fanatisme agama, dan narkoba tengah menggerogoti kemanusiaan kita. Dalam situasi yang seolah gelap dan tak ada harapan seperti ini, peristiwa Paskah menjadi sebuah oase di tengah kegersangan pengharapan. Kebangkitan Paskah bukanlah peristiwa masa lalu, yang sudah lewat; peristiwa itu tetap mengandung kekuatan yang menghidupkan yang meresapi dunia hingga kini. Ketika segala hal tampak mati, tanda-tanda kebangkitan tiba-tiba muncul. Ini adalah daya kekuatan yang tidak dapat ditolak.

Paskah menjadi momentum untuk membangun kultur kehidupan; berbagi kasih, memberi kesempatan orang berkembang, menaruh perhatian terhadap orang sakit, mengajarkan kasih tulus, melindungi bayi dalam kandungan (tidak aborsi), membangun kembali relasi kasih antara suami istri, orang tua dengan anak, membina komunikasi dan perjumpaan, dialog, menjalin persaudaraan, mengembangkan masyarakat Indonesia lebih beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Paskah memberitakan kepada kita bahwa di tengah-tengah kegelapan, sesuatu yang baru selalu muncul dalam kehidupan dan cepat atau lambat menghasilkan buah. Betapapun gelapnya segala sesuatu, kebaikan selalu muncul kembali dan menyebar. Yang penting kita menyadari bahwa kita berjuang bersama dan mengikuti Kristus. Itulah optimisme manusia yang percaya pada kekuatan Terang Sejati, Tuhan kita Yesus Kristus. Kita mesti bisa mengalahkan egoisme atau penyembahan diri kita.

Iman berarti percaya akan Allah; percaya bahwa Dia sungguh mengasihi kita, bahwa Dia hidup, bahwa Dia secara tersembunyi mampu ikut campur tangan, bahwa Dia tidak meninggalkan kita dan bahwa Dia menghasilkan kebaikan dari kejahatan karena kuasa-Nya dan daya cipta-Nya yang tak terbatas. Iman berarti percaya bahwa Dia berjalan penuh kemenangan dalam sejarah bersama mereka yang “terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia” (Why 17:14).

Umatku terkasih, marilah kita percaya pada Injil yang mengatakan pada kita bahwa Kerajaan Allah sudah hadir di dunia ini dan sedang berkembang, di sana-sini, dan dalam berbagai cara: seperti benih kecil yang tumbuh menjadi pohon besar (bdk. Mat 13:31-32), seperti benih yang baik yang tumbuh di antara ilalang (Mat 13:24-30) dan selalu dapat memberi kejutan yang menyenangkan bagi kita. Kerajaan Allah itu ada di sini, datang lagi, berjuang untuk berkembang secara baru. Kebangkitan Kristus di manapun menumbuhkan tunas-tunas dunia baru, bahkan jika dipotong, tunas-tunas itu tumbuh kembali, karena kebangkitan Tuhan sudah menembus alur cerita yang tersembunyi ini, karena Yesus tidak bangkit sia-sia.

Marilah kita merayakan Paskah sebagai peneguh kita untuk tetap berkomitmen membangun hidup menggereja dan berbangsa dalam semangat optimistis. Jadilah manusia Paskah, manusia penuh antusiasme menatap kehidupan ini sebagai medan berbagi kasih, berbagi penghiburan dan berbagi semangat, mengalahkan segala pengaruh dari hal-hal yang memandulkan kasih dan mematikan semangat berjuang, ketamakan akan materi, yang mematikan semangat berbagi. Shalom Paskah.

 

Bogor, 27 Maret 2018

Mgr. Paskalis Bruno Syukur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.