Tangkal Hoax Jaga Persatuan : Gereja Siap Hadapi Tahun Politik 2019

Sukatani – Komsos : “Katekismus Gereja Katolik menyebutkan bahwa informasi melalui media komunikasi adalah demi kesejahteraan umum. Namun demikian, perkembangan media komunikasi saat ini dapat membawa dampak positif maupun negatif,” demikian Vikjen Keuskupan Bogor RD Paulus Haruna melalui keynote speech-nya dalam kegiatan talkshow bertajuk “Menangkal Hoax, Menjaga Persatuan”. Kegiatan talkshow ini digelar oleh Kuasi Paroki Bunda Maria Ratu, Sukatani-Depok, bekerja sama dengan Sekolah Maria pada Minggu, 11 November 2018.

Sebanyak 110 peserta ini hadir dalam taklshow  yang mendatangkan dua pembicara, yaitu Alois Wisnuhardana (Staf Ahli Madya Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi pada Kantor Staf Presiden Republik Indonesia serta penulis buku “Anak Muda dan Media Sosial: Memahami Geliat Anak Muda, Media Sosial, dan Kepemimpinan Jokowi dalam Ekosistem Digital” dan J. Kristiadi  pakar politik nasional dan peneliti senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Wisnuhardana  menyampaikan bahwa segenap masyarakat termasuk didalamnya umat Katolik, perlu mewaspadai penyebaran berita-berita hoax yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menggiring opini serta persepsi publik untuk sampai pada kesimpulan tertentu. “Jangan sampai keragaman yang indah serta persatuan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia menjadi porak-poranda akibat konflik,” tutur mantan aktivis pers kampus di UGM pada era 1990-an ini. Wisnuhardana juga memberikan contoh bagaimana media sosial dalam waktu singkat dapat mempengaruhi seseorang untuk bertindak ekstrem melakukan tindakan kekerasan terhadap warga masyarakat ataupun aparat negara.

Alois Wisnuhardana (Staf Ahli Madya Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi pada Kantor Staf Presiden Republik Indonesia) memberikan penjelasan perihal Hoax .(Foto : Panitia Talkshow).

Lebih jauh, Wisnuhardana membagikan tips untuk menangkis hoax. Memeriksa kejelasan sumber informasi dan penulisnya, memeriksa isinya lebih dalam, serta memeriksa ulang tanggal, konteks, maupun jalan ceritanya  merupakan tiga langkah awal untuk menangkis hoax. Selanjutnya, para pemanfaat media sosial perlu menghindari bias informasi, memeriksa logika berpikir dalam berita, mencari rujukan yang sahih, serta aktif melakukan klarifikasi.

Pakar politik nasional J. Kristiadi menyambung presentasi Wisnuhardana dengan menyampaikan contoh-contoh kasus politik internasional yang dipengaruh oleh hoax. “Sebuah perang bisa terjadi karena ada informasi yang terus-menerus dikampanyekan dan akhirnya diyakini menjadi sebuah kebenaran,” papar Kristiadi memberikan contoh. Kristiadi menekankan bahwa dalam kontestasi politik 2019 dinamikanya akan meningkat. Ia mencontohkan Pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017 dimana pertarungan gagasan justru digantikan oleh ujaran kebencian, kemarahan, dan permusuhan bernuansa primordial di media sosial. Penyesatan informasi publik berjalan kencang di media sosial dan netizen cenderung menyukai kegaduhan politik bahkan ikut meramaikannya.

Kegiatan talkshow yang berlangsung di Sekolah Maria, Sukatani, Depok ini diselingi oleh kelompok pemusik akustik yang terdiri atas para anggota OMK Kuasi Paroki Bunda Maria Ratu Sukatani. Kegiatan ini diakhiri dengan pernyataan sikap bersama untuk menangkal hoax dan menjaga persatuan antar umat dan warga masyarakat umumnya. (Ditto Santoso)

 

 

One thought on “Tangkal Hoax Jaga Persatuan : Gereja Siap Hadapi Tahun Politik 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.