Nama / Pelindung : Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis)
Buku Paroki : Sejak tahun 1889.
Sebelum di Katedral Jakarta

Alamat :
Jalan Kapten Muslihat Nomor 22
Bogor 16122
Telepon (0251) 8321188 Fax. (0251) 8370211
Romo Paroki : RD. Dominikus Savio Tukiyo

Latar Belakang Sejarah

Awal sejarah berdirinya Gereja Katedral Bogor tidak bisa kita lepaskan dari peranan dua tokoh perintis umat kota Bogor, yaitu Mgr. AC. Claessens, Pr dan Pastor MYD Claessens, Pr.

Pada tahun 1881 Mgr. AC. Claessens membeli sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas (sekarang meliputi kompleks Gereja, Pastoran, Seminari, Sekolah, dan Bruderan Budi Mulia). Semula tempat itu digunakan sebagai tempat peristirahatan dan Misa Kudus para tamu dari Jakarta. Namun, dengan dimilikinya rumah tersebut, juga menjadi awal umat Katolik memisahkan diri dari penggunaan Gereja Simultan/ekumene sebelumnya. Pada tahun itu pula pastor MYD. Claessens mulai menetap di Bogor.

Pada tahun 1886 MYD. Claessens memulai karya pastoralnya untuk mendirikan Panti Asuhan untuk anak-anak. Saat itu bangunan rumah Panti Asuhan tersebut baru bisa menampung 6 orang anak. Usaha pastoral itu kemudian di kembangkan hingga menjadi yayasan Vincentius pada tahun 1887, sehingga pada tahun 1888 mendapat pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda.

Pada tahun 1889 Pemerintah Hindia Belanda secara resmi mengakui dan menyatakan bahwa Bogor menjadi Stasi misi tetap Batavia. Tahun 1896 (setahun setelah Mgr. AC. Claessens meninggal), MYD. Claessens mulai membangun sebuah gedung Gereja yang megah di atas tanah yang didiaminya. Gereja itu yang hingga sekarang kita kenal dengan Gereja Katedral.

Pada tahun 1907 Pastor MYD. Claessens kembali ke Nederland setelah selama 30 tahun beliau berkarya di Bogor Jawa Barat, 27 tahun kemudian, tepatnya tahun 1934, beliau dipanggil oleh yang Maha Kuasa dalam usia 82 tahun. Semenjak kepergian Pastor Claessens, Stasi misi tetap Bogor ditangani oleh Pastor Antonius Petrus Fransiskus van Velsen, SJ. Tetapi pada tahun 1924 Pastor Antonius Van Velsen diangkat menjadi Vikaris Apostolik Batavia, sehingga Bogor yang saat itu sudah menjadi Paroki diserahkan kepada Pastor OFM Conventual.

Pada bulan Nopember tahun 1957 Paroki Bogor dipisahkan dengan Vikariat Apostolik Batavia dan digabungkan dengan Prefektur Apostolik Sukabumi. Pada tahun 1961 Prefektur Apostolik Sukabumi ditingkatkan statusnya menjadi Keuskupan dengan nama Keuskupan Bogor. Gereja Paroki Bogorlah yang dijadikan sebagai Gereja Katedral Keuskupan Bogor. Dengan demikian, Paroki Bogor namanya berubah menjadi Paroki Katedral Bogor.

Pengembangan Umat

Jika kita amati perkembangan sejarah Paroki Katedral di atas, maka pada awal berdirinya Paroki Katedral mayoritas umatnya berkebangsaan Belanda. Namun jika kita lihat sekarang, maka umat Paroki Katedral terdiri dari berbagai suku seperti: Suku Tionghoa, Jawa, Batak, Flores dan lain-lainnya.

Menurut data permandian (sekarang sudah memasuki buku XX) jumlah perkembangan umat dari tahun ketahun menunjukan suatu peningkatan. Perkembangan drastis terjadi antara tahun 1960 sampai tahun 1975-an. Misalnya saja, sampai bulan Januari 1962 jumlah baptisan tercatat 387 orang dan awal tahun 1965 sudah tercatat 976 baptisan, demikian pula pengembangan tahun-tahun berikutnya.

Menurut data statistik terakhir, (Desember 1997), jumlah umat Paroki Katedral mencapai 11.907 umat, dan bulan Desember 1998 ini diperkirakan jumlahnya sudah mencapai 12.300 umat. Perkiraan perkembangan umat tahun demi tahun tersebut diatas agaknya sudah diprediksikan oleh para Pastor yang bertugas di Katedral, sehingga mereka juga dapat membina umat, menyiapkan tanah atau lokasi yang memungkinkan untuk mendirikan gereja-gereja Stasi dari Paroki Katedral.

Kapel pertama adalah Kapel St. Yohanes Rasul Ciampea yang mulai dibangun tahun 1974. Bangunan Kapel tersebut sangat sederhana dengan perlengkapan yang sederhana pula. Kapel tersebut direnovasi oleh swadaya umat pada bulan Maret 1991, yang kemudian pada tanggal 1 Maret 1992 diresmikan oleh Mgr. Ign. Harsono, Pr. Kapel yang direnovasi ini kemudian juga dilengkapi dengan segala fasilitas pengembangan iman. Hal tersebut bukan saja untuk umat setempat, tetapi juga untuk mengantisipasi perkembangan umat dari daerah Ciomas, Cigudeg sampai daerah sekitar Leuwiliang, bahkan Jasinga.

Kapel ke dua adalah Kapel Ekumenis di Semplak. Kapel ini berdiri diatas usaha Peter G.W.J. Ruijs, OFM. Pada tahun 1976 yang berusaha mencari bantuan dari sebuah yayasan Sosial Negeri Belanda. Selain mendapat bantuan dari yayasan tersebut, Kapel bersama antara umat Protestan dan Katolik ini dibangun di komleks AURI atas sumbangan dari komandan AURI dan swadaya umat. Hingga kini Kapel ini berkapasitas 350 orang dan tetap digunakan sebagai kegiatan bersama dengan Gereja Protestan yang tentunya dengan jadwal yang berbeda pula.

Kapel ke tiga adalah Kapel Pondok Rumput. Kapel ini didirikan pada tahun 1978 atas swadaya umat, para donatur serta bantuan Paroki. Kapel ini semula di gunakan sebagai wadah kegiatan dan perayaan iman umat di daerah sekitar jalan baru hingga CiIebut – Bojong Gede. Tetapi karena letaknta yang kurang strategis mengingat dari segi transportasi kurang menguntungkan, maka umat di sekitar jalan Baru sampai Bojong Gede Cilebut lebih memilih Katedral. Namun demikian, Kapel yang berkapasitas 200 orang ini sudah cukup padat di penuhi umat setempat.

Kapel ke empat adalah gedung serba guna Kedung Badak Baru, yang didirikan pada tahun 1987. Kapel ini juga digunakan sebagai sarana kegiatan iman umat wilayah jalan Baru mengingat Kedung Badak Baru adalah cikal bakal umat wilayah jalan Baru. Tetapi mengingat tempatnya juga dirasakan kurang strategis, maka penggunaannya hanya untuk umat setempat, meski juga tidak menutup kemungkinan di gunakan oleh lingkungan lain. Yang lebih mengherankan adalah warga setempat justru mayoritas non- Katolik.

Satu Kapel yang hingga kini belum mungkin di bangun adalah diatas sebidang tanah yang berlokasi di wilayah Ciomas. Sebetulnya baik umat maupun dana sudah siap untuk membangun Kapel tersebut, namun kendala yang hingga kini dihadapi adalah belum juga selesainya surat ijin membangun (IMB) yang sempat terhenti di pemerintah daerah setempat.

Sebagai antisipasi perkembangan umat di wilayah jalan Baru hingga Parung, kini Paroki Katedral telah menyiapkan dan membeli sebidang tanah seluas 4000 meter persegi di Kahuripan dan 3000 meter persegi di Taman Jasmin. Demikian pula untuk pengembangan umat kearah Cilebut – Bojong Gede hingga dengan perbatasan Cibinong serta Depok, Paroki Katedral sudah menyiapkan tanah seluas 3000 meter persegi di Bojong Gede. Kita berdoa agar harapan mulia itu senantiasa di beri jalan terang dari yang Maha Kuasa.

Sebagai wujud pelayanan gerejani Paroki Katedral memiliki segudang organisasi yang berkiprah di Paroki ini. Diantaranya:

  • Wanita Katolik (WK)
  • Santa Monica
  • Mudika
  • Kompak (Komunikasi Antar Pelajar Paroki Katedral)
  • Legio Marie
  • Warga Upadaya
  • Kemaki (Kelompok Mahasiswa Katolik IPB)
  • PMKRI
  • Bina Iman Anak (Sekolah Minggu)
  • Persekutuan Doa Karismatik Katolik
  • KKMK-Kelompok Doa Iman Maria (Senakel)
  • Pemuda Katolik
  • KSR (Kelompok Seni Remaja)
  • SSP (Seksi Sosial Paroki)
  • SSV (Serikat Santa Vincentius)
  • Paguyuban Usahawan dan Profesional Katolik
  • BKSG (Badan Kerjasama Antar Gereja)

Puluhan Gembala Paroki Para Pastor yang ikut berkarya di Paroki Katedral Bogor, baik yang menetap maupun yang tidak menetap, diantaranya adalah: – Mgr. AC. Claessens, Pr. – MYD. Claessens, Pr. – AP. Fransiskus van Velsen, SJ – Theodoor Alex van Angelbeek – W. Snyderx – RDB. Schmeitz – Krose – MS. Visser – A. Voltherius de Mon – ES. Snypen – H. Th. Landers, OFM – PA. Leunisen, OFM. – J. de Ridder, OFM – J. von Vhiet, OFM – A. Koorstens, OFM. – S. Horna, SJ. – Van der Hoogen, OFM. – J. Van der Veldt. – HT. Looymans OFM Conv. – L. Jennissen – J. Van Rykke Vossel – H. Stenberg – ES. Loypen – IVD. Leo, SJ. – J. Engbers – Th. Marteners, SJ. – A. Bevers, MSC. – H. Geurgen, MSC. – JJ. Boevernaas, MA. – A. Fisscher, SJ. – J. de Long, SJ. – Hugo Memuberg,SJ.(1936) – C.Verhar, SJ(1937) – Cor Dumans (1937) – Th. Leenders, OFM Cinv. (1938) – LD. Berg, OFM Conv. (1938) – H. Van Vliet, OFM Conv (1938) – D. De Ridder, OFM Conv. (1939) – CM. Lucas, SJ (1940) – B. Schneider (1940) – AAS. Cremers, OFM (1943) – B. Soemarno, SJ. (1943) – Col. Postma, OFM (1944) – Joh. Moningka, Pr. (1944) – C. Remmen, OFM (1946) – J. Bosman (1947) – H. Th. Leenders, OFM Conv (1959) – PA. Leuvisse, OFM Conv. (1959) – PF. Adi Kourtins, OFM. Conv. (1959) – Mgr. N. Geise, OFM (1959) – J. PDM. De Ridder OFM Conv. (1959) – CS. Tjipto Kusumo, Pr. (1959) – AG. Jacobs, OFM (1961) – J. Perpezak, OFM. (1961) – V. Kunrath, OFM (1962) – AJ. Schnijder, OFM. (1962) – W. Kohler, OFM. (1962) – BJ. Perpezak, OFM. (1962) – Selma Oey (1963) – Gr. V.d. Voort, OFM. (1963) – AS. Wiriosuwarno, OFM. (1963) – RJ. Koenen, OFM. (1963) – A. Wahjabawono, Pr. (1964) – ML. Schoots, MSF (1964) – H. Van Genuchten, OFM (1964) – Th. Koopman, OFM ( 1965) – Fulco Vugts, OFM (1966) – CJ. Van den Berg, OFM (1966) – J. Wybrands, OFM (1967) – GWJ. Ruijs, OFM (1968) – EY. Ryper, OFM (1970) – R. Broto Wiratmo, Pr. (1974) – Ign. Harsono, Pr. (1974) – Felix Teguh Suwarno, Pr. (1975) – J. Pruim, OFM. (1977) – Victor Solekase, Pr. (1978) – Frans Lory, Pr. (1982) – Tarsisius Suyoto, Pr. (1983) – Yuseph Hardjono, Pr. (1985) – Stefanus Akut, Pr. (1986) – Y. Demmers, OFM. (1986) – Paulus Haruno, Pr. (1987) – Christoporus Lamen Sani, Pr. (1989) – Ign. Heru Wihardono, Pr. (1989) – Pastor Paroki – Y. Driyanto, Pr. (1991) – B. Sudarto, Pr. (1993) – YM. Ridwan Amo, Pr. (1992) – Mgr. M.C. Angkur, OFM. (1994) – Agustinus Surianto, Pr. (1994) – F.X. Suyana, Pr. (1996) – A. Adi Indiantono, Pr. (1996) – Yohanes Suradi, Pr. (1997)

Komunitas dalam Paroki Para Pastor yang terlibat dalam pelayanan pastoral di Katedral saat ini menetap di 3 komunitas pastoran, yaitu Komunitas Pastoran Katedral, Komunitas Seminari Stella Maris, dan Komunitas Keuskupan Bogor.

Tugas-tugas pelayanan yang sedemikian banyak, tentu saja tak dapat dilayani hanya oleh para gembala Mereka yang turut membantu pelayanan antara lain: – Para Bruder Budi Mulia (sekolah, poliklinik, dan pastoral) – Para Suster Tarekat FMM (sekolah, kapel, dan pastoral) – Para Suster Tarekat RGS (sekolah SMKK dan pastoral) – Para Suster Rosa Mistika dan ALMA (poliklinik dan seminari) – Para Pro Diakon – Para pamong wilayah/stasi/lingkungan/ rukun dan para pengurus organisai/ lembaga.

Jadwal Perayaan Ekaristi Paroki “Santa Perawan Maria” (Katedral)
Harian : Pukul 06.00 WIB
Hari Rabu Novena Bunda Penolong Abadi Pukul 05.30 dan 17.00 dan Setiap Rabu Pertama dalam bulan, dilanjutkan dengan Adorasi Sakramen Maha Kudus
Jumat I :
– Pukul 06.00
– Pukul 11.00 (Sekolah BM)
– Pukul 17.00
Sabtu : Pukul 17.00 WIB
Minggu :
– Pukul 05.30
– Pukul 07.00
– Pukul 09.00
– Pukul 11.00
– Pukul 17.00
– Pukul 19.00

Pelajaran Katekumen
Jumat : Pukul 19.00
Sabtu : Pukul 09.00
di Gedung Paroki Katedral

Sabtu : Pukul 18.30
Minggu : Pukul 08.00
di Sekolah Budi Mulia

Kapel Ciampea
Jalan Pasar Ciampea Nomor 18
Ciampea, Bogor 16620
Telepon : d.a. Poliklinik Melania (0251) 621641
Jadwal Ekaristi :
Minggu : Pukul 17.00

Kapel Semplak
Komplek AURI Semplak
Jalan Raya Semplak Blok B IX A Atang Sanjaya
Jadwal Ekaristi :
Jumat I : Pukul 17.00
Sabtu: pukul 17.00
Minggu : Pukul 09.00

Kapel Susteran FMM (Regina Pacis)
Jalan Ir.H. Juanda Nomor 2 Bogor 16121
Telepon: (0251) 8321619
Jadwal Ekaristi:
Harian: Pukul 06.00

Kapel Susteran Gembala Baik
Jalan Pajajaran Nomor 6 Bogor 16143
Telepon: (0251) 8321270
Jadwal Ekaristi :
Harian : 06.00
Tiap Tanggal 13 dalam bulan: Pukul 17.00

Kapel Pondok Rumput
Gg. Gurame
Jadwal Ekaristi :
Jumat I : Pukul 18.00
Minggu: pukul 7.00

Kapel Bojonggede
Perumahan Pura Bojonggede
Minggu : Pukul 09.00

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *