Bogor-Keuskupan : Para tim Komunikasi Sosial di Paroki se-Keuskupan Bogor (kami menyebutnya Komsoser KeBo) berkumpul pada 29 April s.d 1 Mei 2017. Bertempat di Wisma Bojong Gede, bakal Gereja Sta. Faustina Kowalska, Desa Tonjong, Tajurhalang Bojong Gede, Bogor, para komsoser belajar sekaligus mempraktikkan bagaimana membuat sebuah film pendek.

Selama 3 hari 2 malam sebanyak 37 komsoser dari 16 Paroki dan 1 Kuasi Paroki di Keuskupan Bogor (6 Paroki berhalangan hadir), belajar bersama Reno Permana. Para komsoser ini dibagi menjadi 3 kelompok setelah sebelumnya disuguhkan 2 buah film, serta sedikit teori bagaimana sebuah proses produksi film, dan sinematografi dasar.

Setelah itu, setiap kelompok diharapkan membuat sebuah film pendek dengan tema bebas, yang akan ditayangkan dengan durasi 5 – 10 menit. Meskipun tema yang diambil bebas, tetapi harus ada pesan yang disampaikan kepada penontonnya.

“Belajar membuat film itu tidak bisa hanya dengan duduk sambil mendengarkan teori saja. Tetapi harus langsung dipraktikkan. Sambil praktik, sambil belajar bagaimana mengambil sebuah gambar, yang bisa saja harus diambil berulang-ulang. Setelah itu digabung dalam sebuah proses editing,” papar mas Reno.

Ternyata tidak mudah menuangkan banyak ide dari teman-teman yang luar biasa ke dalam sebuah skenario. Penulis skenario pun bisa mengalami kebuntuan ketika cerita ternyata melebar ke mana-mana. Dari skenario inilah kami menuangkannya ke dalam visualisasi gambar bercerita.

Saat syuting pun diwarnai dengan berbagai gaya dari teman-teman cameramen. Ada komsoser yang harus naik ke meja pantry demi  mendapatkan angle  yang tepat, ada komsoser yang harus berulang kali mandi atau mencuci motor, ada yang berulang kali menyapu sampah-sampah daun, bahkan ada seorang  teman yang rela terpeleset kulit pisang, demi mendapatkan gambar yang bagus. Dan saat syuting pula, kami diarahkan oleh Reno bagaimana mengambil detil sebuah gambar agar maksud dari film tersebut bisa tersampaikan kepada penonton.

Di tengah-tengah pembelajaran kami, Perayaan Ekaristi pun tetap menjadi kerinduan kami untuk berkumpul. RD Yustinus Joned Saputra dalam homilinya menyampaikan bahwa komsoser harus menjadi corong pewartaan dari masing-masing Paroki. Kami diminta untuk terus menjadi penyampai kabar baik bagi umat di Paroki kami masing-masing bahkan di Keuskupan Bogor.

Kami pun dibimbing oleh Heri Hidayat bagaimana melakukan editing sebuah film. “Akan lebih mudah bagi editor film bila gambar yang diambil ada detail-detailnya,” jelasnya. Para editor film dari 3 kelompok didamping oleh Reno dan Heri dalam proses editingnya. Dengan demikian tidak hanya mendapatkan teori saja, tapi kami langsung mempraktikkannya.

Pada akhirnya tiga film pendek pun tersaji dari hasil belajar kami. Diharapkan setelah ini para komsoser bisa bergabung untuk membuat film-film pendek demi penunjang bahan AAP/APP dan berita-berita untuk Keuskupan Bogor.

Sampai jumpa di lain kesempatan, Komsoser. (Tatik)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *