Bogor-Keuskupan : Dalam rangka mengisi Tahun Kerahiman Ilahi 2016, UNIO Keuskupan Bogor mengadakan kegiatan ziarah dan sekaligus kunjungan keluarga para Imam Keuskupan Bogor. Kegiatan ini dimulai pada tanggal 23 Oktober 2016 dengan berkumpulnya para Imam di halaman parkir Katedral Bogor sejak pukul 20.00 WIB. Tepat pukul 22.00 WIB rombongan uskup dan para Imam berangkat menuju Kediri, Jawa Timur, tepatnya berziarah ke Goa Maria Lourdes Poh Sarang. Dalam perjalanan,kami keluar tol sebentar di Cibubur menjemput 2 orang Imam yang bertugas di Cinere dan kemudian perjalanan dilanjutkan kembali. Sekitar pukul 07.00 WIB kami sudah tiba di kota Solo. Sesudah sarapan, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Kediri. Setibanya di Kediri pukul 13.00 WIB kami makan siang bersama kemudian istirahat sejenak. Pukul 14.30 WIB kami mengadakan perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh imam baru yaitu RD. Bartolomeus Wahyu Kurniadi. Dalam kotbahnya Romo Bertho – demikian panggilan akrab beliau – mengajak para Imam agar senantiasa memiliki rasa cinta dan persaudaraan. Cinta dan persaudaraan itu dapat terwujud dalam salah satu kegiatan contohnya ziarah rohani dan mengunjungi keluarga para Imam secara bersama. Dari Kediri, para Imam melanjutkan perjalanan ke Solo untuk makan malam bersama dan kemudian beristirahat.rumah-rd-antonius-garbito-pamboaji

Ada banyak kesan, banyak pengalaman, dan banyak cerita yang didapat oleh para Imam terutama dalam persaudaraan dan sukacita dalam kebersamaan.Hal yang menarik dari kegiatan ziarah dan kunjungan keluarga ini, Bapak Uskup dan para imam yang berjumlah 34 orang dan juga berbeda usia tahbisan terlihat sangat akrab dan dapat bercanda bersama.

Pada hari kedua tanggal 25 Oktober 2016, setelah sarapan di Hotel tepat pukul 09.00 WIB kami berangkat menuju Wonogiri ke rumah kediaman keluarga besar RD. Agustinus Herman Yoseph Sudarto tepatnya di Desa Tirtomoyo. Di rumah Romo Darto, kami makan siang bersama dan kemudian kami berangkat menuju Batu Retno tepatnya ke rumah keluarga RD. Nikasius Jatmiko. Dalam perjalanan yang cukup singkat ini, kami tetap merasakan sukacita dan kegembiraan. Yang kami lakukan di tempat Romo Jatmiko selain bercerita satu sama lain, tentu saja mengunjungi ibu dari Romo Jatmiko yang tinggal di rumah itu sendirian. Kemudian dari rumah Romo Jatmiko, kami melakukan perjalanan menuju Goa Maria Ratu Kenya. Di Goa Maria Ratu Kenya kami berdoa Rosario bersama dan diakhiri dengan foto bersama, karena berfoto bersama menjadi salah satu kegiatan wajib yang kami lakukan setelah selesai melakukan kegiatan di tempat yang kami kunjungi. Pukul 17.00 WIB kamiberangkat menuju ke  rumah kediaman keluarga RD. Stefanus Maria Sumardiyo Adipranoto di Desa Semanu Wonosari.rumah-rd-bartholomeus-wahyu-kurniadi

Perjalanan ditempuh selama satu setengah jam. Kami merasakan liak liuk jalan serta jalan yang menanjak dan menurun, tetapi karena bis yang kami gunakan cukup baik, maka rasanya nyaman. Sesampainya di desa Semanu, kami makan malam bersama dan bercerita satu sama lain serta mendapat kunjungan dari Pastor Paroki Bandung di Wonosari. Setelah kegiatan di rumah kediaman Romo Mardi selesai,kami segera beristirahat agar tenaga dapat kembali pulih untuk melanjutkan perjalanan yang masih berlangsung beberapa hari ke depan. Romo Jati, Pastor Paroki Bandung, berdasarkan perbincanganannya dengan RD. Christoforus Tri Harsono selaku Vikaris Jendral Keuskupan Bogor, merasa begitu terkesan dengan kebersamaan dalam persaudaraan Imam UNIO Keuskupan Bogor. UNIO Keuskupan Bogor mempunyai kegiatan rutin dan wajib diikuti oleh para Imam yang jumlahnya lebih dari 64 orang, seperti retret, temu imam, dan kunjungan keluarga. Secara pribadi Romo Tri kagum dengan acara-acara seperti ini yang bermanfaat untuk membuat para Imam merileksasikan pikiran dan hati dari rutinitas tugas dan kerja keras masing-masing.

Hari ketiga, di tanggal 26 Oktober 2016 kami melanjutkan perjalanan ke Goa Maria Tritis. Setelah mengikuti Misa yang dipersembahkan oleh  RD. Heribertus Wibowo Susanto, para Imam kembali berfoto bersama. Setelah foto bersama, maka perjalanan dilanjutkan menuju Klaten untuk belanja di Toko “Dharma Karya”, yang menyediakan berbagai macam sarana devosi dan perlengkapan Misa. Para Imam pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berbelanja baik untuk kepentingan parokinya masing-masing ataupun untuk kepentingan pribadinya. Perjalanan dilanjutkan ke Yogyakarta untuk memberi kesempatan bagi para imam menikmati suasana Yogya dan waktu pribadi untuk sekedar jalan-jalan ataupun wisata kuliner. Ada di antara para imam yang memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan, istirahat di hotel, berjumpa dengan keluarga, dll. Dari perjalanan ini para Imam merasakan kekuatan komunitas sebagai wadah persaudaraan yang saling mendukung dan menguatkan.gm-ratu-kenya

Hari keempat, pukul 07.30 WIB tepat di tanggal 27 Oktober 2016 para Imam melanjutkan perjalanan menuju Muntilan untuk berkunjung ke rumah kediaman RD. Bartolomeus Wahyu Kurniadi. Di Muntilan, para imam disuguhkan pertunjukan Tari daerahyang menurut RD. Agustinus Suyatno bahwa tarian itu merupakan tarian prajurit yang gerakannya ada lucunya tetapi ada juga seriusnya dan semuanya itu dimaknai sebagai sebuah persiapan untuk membangun kekuatan bagi kerajaan. Maka kegiatan para Imam ini melalui canda tawa, nyek-nyek’an dimaknai sebagai sebuah persiapan untuk membangun persatuan dan kesatuan dalam komunitas UNIO.Setelah berkunjung ke Muntilan, maka perjalanan dilanjutkan menuju Dusun Tingal Wanurejo, Borobudur ke rumah kediaman keluarga besar RD. Antonius Garbito Pamboaji. Di sana kami makan siang bersama dan sekaligus kami berpisah dengan rombongan Kuria, karena mereka akan melanjutkan perjalanan kembali ke Bogor untuk beberapa kegiatan lain. Sebelum berpisah, Bapak Uskup Mgr. Paskalis Bruno Syukur, menyampaikan beberapa kesan dari kegiatan ini, yaitu: pertama, kegiatan ini adalah salah satu usaha uskup dan para Imam untuk mewujudkan spirit dari visi misi keuskupan yang menegaskan pentingnya communio, bukan hanya bicara tapi juga mewujudkan communio yang diperluas melalui perjumpaan dengan keluarga para Imam. Kedua, kegiatan ini juga merupakan tanggapan uskup dan para Imam atas ajakan Paus Fransiskus untuk mewujudkan Gereja yang bergerak keluar untuk menjumpai keluarga dan realitas-realitas baru. Ketiga, secara khusus Bapak Uskup berterima kasih kepada keluarga para Imam, karena melalui keluarga yang berjuang menghayati hidup perkawinan, lahirlah para imam. Karena keluarga menjadi prioritas pastoral Keuskupan Bogor. Setelah rombongan Kuria pergi melanjutkan perjalanannya, maka para Imam juga melanjutkan perjalanan menuju Pertapaan Santa Maria Rowoseneng, Temanggung. Di sana, para imam mengadakan Misa yang dipersembahkan oleh RD. Alfonsus Sombolinggi. Kami juga berjumpa dengan Romo Abas Gonzaga sebagai pimpinan pertapaan, beliau menyampaikan kesan-kesannya sebagai alumni Seminari Menengah Stella Maris Bogor, karena ada beberapa Imam dalam rombongan juga mengenal beliau sebagai seminaris. Lalu setelah itu, para Imam melanjutkan perjalanan menuju rumah keluarga besar RD. Agustinus Deddy Budiawan di Desa Kapencar, Wonosobo. Di sana, para Imam menikmati wedangan anget dan makan malam bersama. Para imam mengakhiri perjalanan di Wonosobo dan selanjutnya para imam kembali menuju Bogor. Pukul 05.30 WIB para Imam tiba di Bogor. Terima kasih kepada Bapak Uskup dan para Imam atas kebersamaan yang “menggairahkan”.  (RD. A. Garbito. P)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg thisEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *