Menjadi “Umat Paskah” yang mengalami “Sukacita Paskah”

RD Jeremias Uskono

KETIKA duduk termenung saat mempersiapkan homili untuk Minggu Paskah di Bojonggede, muncul satu pertanyaan dalam diri saya, pertanyaan itu adalah “Mengapa kita harus bersukacita saat Paskah?” atau dengan kalimat lain “Apa alasan kita untuk tetap bersukacita dalam Paskah?” Jelas sekali jawabannya adalah karena Kristus Bangkit! Namun, yang bagaimana?

Maka, sekurang-kurangnya saya menemukan ada dua alasan:

1. Karena kita telah menghadapi penderitaan dan menang. Bahkan, tidak hanya menderita, kita pernah mengalami titik nol dalam hidup kita yakni saat kita benar-benar down, tidak tahu harus melakukan apa, tidak tahu harus bergerak ke mana.

Orang yang mengalami penderitaan terus menerus tentunya mengalami satu kerinduan yakni kegembiraan untuk lepas dari penderitaan itu. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk melewati penderitaan itu dengan cara menghadapinya. Contoh lain yang lebih konkret: Orang yang terlalu lama menderita penyakit tentunya merindukan kesembuhan. Ketika ia mengetahui bahwa penyakitnya akan hilang, baru mengetahuinya saja ia sudah bersukacita dan tentunya akan menaati proses kesembuhannya itu agar ia sungguh mengalami kesembuhan yang dirindukannya.

Peristiwa Minggu Palma yang telah kita alami bersama menyadarkan kita bahwa Kristus harus masuk ke Yerusalem kendati Ia menyadari bahwa di Yerusalem Ia harus menderita dan wafat di Salib. Tetapi penderitaan itu berlangsung sementara dan kita harus mengakui “Ya, Kristus disalibkan”, namun nyatanya Kristus bangkit dan kebangkitan-Nya berlangsung abadi dan selalu kita rasakan. Maka, kebangkitan ada setelah mengalami Salib, Sukacita dirasakan setelah penderitaan dihadapi dan dilewati.

2. Karena sukacita adalah sifat dan watak Allah. St. Thomas Aquinas pernah berkata bahwa dalam Allah ada dua hal yang tidak pernah berubah yakni kasih dan sukacita-Nya. Allah Bapa adalah sukacita seperti halnya Ia adalah terang dan kehidupan. Ia suka membagikan sukacita dan membuat orang bahagia dengan menarik mereka dalam suasana sukacita-Nya sendiri. Jika Bapa mempunyai wajah yang bersinar, wajah itu tentunya wajah yang penuh sukacita.

Bapa tidak dapat bertahan lama dengan wajah yang susah dan sedih karena kesedihan sama sekali tidak sesuai dengan sifat-Nya. Sukacita merupakan hakikat-Nya. Maka, penderitaan Kristus dan penderitaan kita terbatas jangka waktunya. Justru, kebangkitan Kristus itu abadi dan kita menikmati Paskah yang abadi. Dengan kata lain, kita menikmati sukacita Paskah yang abadi. Apa yang membuat kita mengalami hal itu? Menurut saya, kita yang selalu memiliki harapan.

Kita menemukan Sukacita Paskah pada tiga sumber utama, yakni:

1. Kehadiran Ekaristi-Nya

Ekaristi yang kita rayakan bukan hanya berkaitan dengan kehadiran Kristus dalam bentuk roti dan anggur, tetapi terutama sungguh berkaitan dengan kehadirannya dalam keadaan yang dimuliakan. Kristus yang bersinar dengan kecemerlangan Paskahlah yang kita jumpai dalam setiap Ekaristi yang kita rayakan.

2. Kehadiran Roh Kudus-Nya yang diam dalam diri kita

Karena Roh Kudus adalah Roh Sukacita yang menjadikan kita terus menerus memiliki, dalam diri kita, secara tetap, Sumber Sukacita.

3. Tujuan akhir Surgawi

Kita digambarkan sebagai para peziarah yang berjalan menuju cahaya. Kita tidak lupa dengan apa yang dikatakan oleh Paulus bahwa “penderitaan sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya” (2 Kor 4:17).

Setiap hari kita menjadi tua dan mendekati akhir, maka setiap harinya penderitaan kita akan tertelan dalam sukacita seperti kegelapan yang diusir oleh sinar terang kebangkitan Kristus. Sukacita itu menjadi penuh saat kita menghadap dan bertemu Allah “muka dengan muka”.

Maka, kita semua, umat beriman Katolik, berhak mendapat sukacita Paskah, karena Kristus yang bangkit mengubah iman kita menjadi iman akan kebangkitan Kristus.

Meskipun puasa dan pantang kita gagal, ada bolongnya.

Meskipun situasi negara sedang dilanda kekuatiran akan “serangan fajar”, Allah tetap memberikan sukacita Paskah kepada kita.

Rayakanlah Paskah! Bersukacitalah! Selamat Paskah!

*Renungan ini juga terinspirasi dari buku “Makam Kosong” karya Luis M. Bermejo SJ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.