“A New Way To Find Me”

                Dunia digital yang semakin mudah untuk diakses semua pihak menjadi salah satu alasan tema “A New Way To Find Me” diangkat dalam Paskah Mahasiswa 2021. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 17 April 2021 ini dibuka dengan Misa yang dipersembahkan oleh RD Habel Jadera, Formator Seminari Tinggi St. Petrus-Paulus Keuskupan Bogor sekaligus narasumber dalam kegiatan ini.

                Dalam homilinya, RD Habel menyampaikan bahwa kemudahan dalam dunia digital dan kebiasaan-kebiasan baru untuk merayakan Ekaristi, doa-doa justru tidak membuat kita mencari Tuhan. Kita, terutama orang muda, menutup diri untuk mencari Tuhan ditengah kemudahan digital. Sehingga a new way to find me menjadi sebuah cara bagi Tuhan untuk menemukan kita dengan membuka diri, membuka mata, membuka hati dan bertobat.

                Narasumber pada talkshow ini adalah Jennifer Odelia, seorang content creator rohani; RD Habel Jadera, formator Seminari Tinggi St. Petrus Paulus Keuskupan Bogor; dan Bapak Yoyok Susetyo, seorang Psikolog. Dengan moderator, Agatha Lydia, anggota Badan Penasihat Orang Muda Internasional, para narasumber berdialog mengenai pencarian jati diri di tengah dunia digitalisasi.

                Jennifer Odelia berpesan bahwa sebagai orang muda tentunya dan sebagai bagian dari saksi-saksi Kristus hendaknya mengambil langkah untuk keluar dari zona nyaman dan mewartakan Kristus melalui media-media yang ada. Kemudahan digital hendaknya disadari dan dimanfaatkan untuk dapat menjadi media pewartaan.

                RD Habel Jadera pada kesempatan kemarin, Sabtu (17/04/2021), banyak berbagi insight tentang katakese di ranah digital yang perlu digiatkan lagi mengingat peralihan kebiasaan penggunaan media sosial di hampir semua bidang, tidak terkecuali sebagai sarana pengembangan iman dan spiritualitas katolik. Bagaimana tanggapan gereja mengenai hate speech juga menjadi bahasan. “Gereja Katolik sendiri sebenarnya tidak menanggapi hate speech, internet dan media sosial adalah rahmat pemberian dari Allah sendiri yang harus kita gunakan untuk persatuan seluruh umat manusia”, terang RD Habel Jadera mengingatkan kembali tentang isi Dokumen Gerejawi No.11 (Curch & Internet). Dalam poinnya Romo beberapa kali mengulang ajakan terhadap orang muda untuk membiasakan diri terlibat aktif dalam katakese online. Mengutip dari buku Catholicism in the Time of Coronavirus karya Bishop Barron bahwa we are the creatures of habit, dimana saat suatu kebiasaan sekarat akan sulit untuk memulai kembali. Hal tersebut juga menjadi autokritik untuk kalangannya (romo, suster maupun para pendamping orang muda), untuk revive kembali semangat katakese secara online. Tidak ada lagi alasan, untuk tidak membangun kebiasaan katakese dalam dunia digital. “Because the harvest is online, masa penggunaan internet sebagai media pewartaan hanya di hari Minggu saja?”, ungkap RD Habel Jadera. Agar hal ini selaras seperti yang tertulis di Markus 16:15, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

                Bapak Yoyok Susetyo mengatakan bahwa kemudahan digital ini perlu disikapi dengan bijak, khususnya dalam usia pencarian jati diri. Mengenali kapasitas diri sendiri akan membantu kita memiliki perasaan positif akan diri sendiri, sehingga inferiority feeling dapat terhindarkan. Fenomena hate speech yang semakin sering ditemukan di abad 21 ini, sebenarnya lebih banyak mengungkapkan tentang keadaan psikologis pelaku hate speech  tersebut. Hal ini berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang menjadi concern seiring dengan pesatnya penggunaan media sosial, di masa pandemi ini. Menjawab salah satu pertanyaan peserta talkshow, tentang bagaimana menemukan bakat/potensi diri sendiri di tengah perkembangan teknologi yang erat dengan fenomena kecanduan/sulit lepas dari perangkat digital. Beliau menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia diberikan free will (kehendak bebas), untuk secara sadar bebas menentukan pilihannya, dalam hal ini tentang penggunaan media sosial. Sehingga kesadaran kita sebagai penggunalah yang menjadi kuncinya untuk menentukan tujuan kita dalam menggunakan sosial media, beliau juga menyampaikan bahwa penting untuk membiasakan diri menjadi pribadi yang apresiatif.

                Acara yang juga dimeriahkan dengan penampilan dari para mahasiswa di Keuskupan Bogor berjalan dengan lancar dan materi tersampaikan dengan baik. Dengan terselenggaranya kegiatan ini diharapkan mahasiswa menjadi semakin selektif dalam penggunaan media sosial serta semakin berani untuk dapat memanfaatkan media sosial sebagai media pewartaan dan pengembangan spiritualitas, iman katolik. (Jurnalis Tim Pelayanan Pastoral Mahasiswa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.