Rumah yang Nyaman untuk Kita Semua

Pembuka:

Para imam, umat sekalian, suster, bruder! Kita, Gereja Allah dipanggil ke Sinode. Sebuah perjalanan bertema “Untuk Gereja sinodal: Persekutuan, Partisipasi dan Misi”. Telah dibuka di Roma tanggal 10 Oktober, Minggu yang lalu dan Minggu ini, 17 Oktober, Sinode serentak dibuka di seluruh keuskupan di dunia ini. Suatu tanda kesatuan – kekatolikan Gereja dengan ketaatan pada seruan Roh Kudus yang disampaikan melalui Bapak Suci Paus Fransiskus.

Kita berdoa dalam Ekaristi ini. Kita mohon karunia Roh Tuhan agar mengisi relung-relung batin kita; menggerakan tangan kaki kita untuk membangun Persekutuan, Partisiapsi dan Misi kita.

HOMILI: BACAAN I: YES 53:10-11; IBR 4:14-16; INJIL MRK.10;35-45

            Dalam dokumen Persiapan Sinode “For a synodal Church: Communion, Paticipation and Mission”, ada 2 pernyataan menarik bagi saya:

            1. Panitia mengutip pernyataan Paus Fransiskus berkenaan dengan Tragedi global Pandemi COVID 19: “Pandemi covid 19 untuk sementara waktu telah membangkitkan kesadaran bahwa kita adalah suatu komunitas global yang berlayar di perahu yang sama, di mana kemalangan seseorang membawa kerugian bagi semua. Kita diingatkan bahwa tidak ada yang diselamatkan sendirian, bahwa kita hanya dapat diselamatkan secara bersama-sama” (Fratelli Tutti no.32). Pointnya: “Kita berada di perahu yang sama; Nakodanya ialah Tuhan sendiri; perjuangan untuk keselamatan mesti diusahakan bersama dan untuk semua.

            2. Pernyataan lugas dan penuh keyakinan Paus Fransiskus dikatakannya dalam LS no.13: “Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan kita; Ia tidak pernah mengabaikan rencana kasihNya atau menyesal telah menciptakan kita”. Pernyataan ini mengandung tiga pilar keutamaan kristiani: tiang iman akan Allah maha kasih, pengharapan: tidak pernah putus asa dihadapan kegelapan hidup; tidak pernah berhenti “bermimpi” untuk berbuat baik; merencanakan kehidupan lebih baik dan kasih yang terwujud dalam tindakan belarasa kita, pelayanan.

Saudara-saudariku!

            Keyakinan kita ini mendapat peneguhannya dalam keyakinan penulis Surat kepada orang Ibrani. Dia memberitakan kepada kita:  “Kita mempunyai seorang Imam Agung, Yesus Putera Allah”. Keistimewaan Imam Agung ini ialah “Dia menjadi manusia seperti kita; Dia Allah dan karena “KasihNya” kepada kita manusia, Dia merasakan kelemahan-kelamahan kita; mengalami suka duka, derita kehidupan kita manusia; tetapi Dia tidak berbuat dosa. Dia hadir di dunia ini. Tidak pernah meninggalkan kita sebatang kara mengarungi kerasnya lika liku kehidupan ini. “Jangan takut, Aku ini”, sabdaNya dan sekaligus hadir tatkala para rasul berteriak ketakutan karena merasa hampir tenggelam.  Tantangannya untuk kita: maukah kita menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan pada masa kini? Apakah kita bisa berkata kepada teman seperjalanan kita: sahabatku, aku ini, jangan takut. Kita maju bersama?

            Yesus imam Agung itu adalah Dia yang melaksanakan karya penyelamatan dengan cara yang khusus dan unik. Dia membangun suatu persekutuan orang-orang hidup bersamaNya. Dia memilih sendiri orang-orang yang menjadi rasul-rasulnya, bukan karena keistimewaan mereka; tetapi semata-mata karunia panggilanNya. Misalnya: Petrus – nelayan/penjala ikan; pernah menyangkal Dia; Yakobus dan Yohanes – Mateus – pemungut cukai – ; Maria Magdalena;

            Jalan keselamatan yang dibawanya adalah jalan sinodal: jalan bersama. Dalam bahasa sederhanya, saya ungkapkan: “Aku mau kamu selamat, mari ikuti jalanku. Aku ini jalan, kebenaran dan kehidupan”. Yesus tidak menghendaki ada yang tertinggal sendirian, kesepian. Karena itulah “grand design” penyelamatan Allah. 

            Dalam perjalanan bersama itu terjadilah formation berkelanjutan. Pembentukan (Formasi) pribadi: Yakobus dan Yohanes. Ada dialog dari hati ke hati antara Yakobus dan Yohanes dengan Yesus: “Guru Kami harap supaya engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami”. Yesus menaruh perhatian: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?”. Yesus menghargai mereka. Yesus hadir bukan sebagai pemimpin yang otoriter, tetapi siap mendengarkan dan mengarahkan mereka ke jalan benar. Suatu bagian dari proses berjalan bersama; saling mendengarkan dan siap melakukan yang terbaik bagi sesamanya.

            Dia juga melakukan pembinaan/Formasi bersama: para rasul masih membangun persekutuan dalam semangat menguasai dan saling mempersalahkan; Yesus membaharui mereka dengan pengajaran dan tindakan nyata untuk siap menjadi pemimpin yang melayani (servant leader): Dia sendiri melakukannya. Yesus tidak melarang orang menjadi pemimpin. Tetapi Yesus membekali setiap orang yang memimpin, mesti memiliki semangat, roh “melayani”, roh mengutamakan kepentingan orang lain, kesejahteraan bersama, keselamatan bersama.  “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi semua orang”.

Saudara-saudariku terkasih!

            Dalam bimbingan Yesus itulah, kita berjuang untuk suatu gereja yang sinodal; berjuang agar persekutuan kita di keuskupan Bogor ini menjadi persekutuan sinodal: berjalan bersama; mengusahakan keselamatan semua. Pemimpin gereja sinodal itu ialah Yesus Kristus sendiri; Roh Kudusnya. Kita mesti mendengarkan tuntunan dia melalui Roh Kudusnya. Kita, Uskup dan imam mesti memimpin dalam semangat melayani; janganlah memimpin dengan cara amat birokratis, kaku dan legalistis; berusahalah pastor-pastor paroki menjadi pastor yang mudah dijumpai, mudah mendengarkan; bukan pejabat yang sulit dijumpai umat. Umat juga jangan mengatur seturut kehendak pribadimu para pastor. Gereja sinodal adalah persekutuan orang yang saling bergandengan tangan, menolong satu sama lain, UNTUK siap BERGERAK KELUAR GEREJA KE TENGAH MASYARAKAT (MISSIO).

            Kita digabungkan dalam Gereja sinodal ini karena kemurahan Tuhan; karena panggilan Tuhan; kita dibaptis dan dari kita ada komitmen untuk berpartisipasi dengan cara membarui diri; membarui cara hidup dan cara bertindak kita. Partisipasi kita adalah karena iman, karena panggilan Tuhan. Tidak ada satupun yang dikecualikan oleh Tuhan untuk berpartisipasi dalam mewartakan karya kasihNya di dunia ini. Inilah martabat yang sama kita semua. Jenis pelaksanaan tugas itu yang membedakan kita; bukan martabat dasariah kita. Dewan Pastoral Paroki dan Dewan Keuangan Paroki salah satu cara berjalan bersama, bahkan bagian “konstitutif” cara hidup  (modus vivendi) dan cara bekerja (modus operandi) Gereja.

Kita semua dipanggil untuk menjadikan persekutuan kita “RUMAH KITA BERSAMA”: RUMAH YANG NYAMAN UNTUK SEMUA. Keuskupan dan Paroki, stasi mestilah menjadi RUMAH YANG NYAMAN UNTUK KITA SEMUA. Semoga kita tidak saling mengeliminir atau menyingkirkan orang lain, karena kesombongan kita; kesok-sucian kita; Semoga semua mendapat perhatian kita, seperti Yesus memperhatikan kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.