“Menghidupi Kehidupan”

Kamis, 03 Maret 2022

Hari Kamis Sesudah Rabu Abu

Bac I. Ul 30:15-20

Mzm 1:1-2.3.4.6

Injil Luk 9:22-25

Dunia dalam panomara merupakan sebuah pemandangan yang begitu indah. Dunia sangat indah untuk dilihat, tetapi menjadi satu di antara mereka, itu soal yang sama sekali lain. Menjadi salah satu dari isi dunia berarti masuk dalam konflik tanpa henti. Penggambaran dunia sebagai hutan, masuk dalam teater dimana daun-daun dan batang tanaman saling berebut matahari, akar-akarnya saling berjulur berebut air dan tanah. Mereka saling membunuh untuk tetap mempertahankan eksistensi nya. Binatang herbivora memakan dedaunan tanaman sehingga menghancurkan tanaman. Kemudian kita lihat binatang herbivora nantinya akan diburu oleh binatang karnivora. Masing-masing secara egois berusaha berkembang biak sebanyak mungkin demi melestarikan diri mereka sendiri. Begitu pula manusia sebagai “eksekutor” akhir, sebut saja sang empunya sifat “egois” terbesar. Manusia dapat memakan segala tumbuhan, dan dapat memakan segala jenis hewan. Semua itu dilakukan untuk tetap mempertahankan perkembangan manusia.

Dalam bacaan pertama, kita semua diajak untuk memilih kehidupan agar tidak mati. Semua dilakukan untuk diri sendiri maupun generasi selanjutnya. Kita semua diajak untuk tetap hidup agar tetap terjadi proses regenerasi. Melalui hal ini kita semua menyadari tentang pentingnya mempertahankan eksistensi dalam kehidupan. Apakah hal ini dapat menjadi sebuah alasan kuat untuk mengimplementasikan gambaran dunia sebagai hutan? Semua yang dilakukan atas nama “mempertahankan” kehidupan dapat dilakukan. Nampaknya manusia telah mengalami kekliruan dalam hal mempertahankan kehidupan.

Sebagai manusia beriman katolik kita harus mampu untuk menyangkal diri dan memikul Salib. Mempertahankan hidup tidak cukup diartikan dalam bentuk paling sederhana. Manusia beriman “hidup” dalam seluruh pengyangkalan diri dan pemikulan salib. Dalam artian ini, manusia beriman hidup dalam perintah Kristus, dan menyangkal seluruh perintah di luar Kristus. Di tengah gempuran zaman sekuler, manusia beriman tetap berpegang teguh pada ajaran dan perintah Kristus. Mempertahankan kehidupan dan regenerasi bukan soal “hidup” di dunia saat ini. Sebagai manusia beriman masa kini, kita diajak untuk tetap hidup dan menghidupi ajaran dan perintah Kristus. Semua ini agar tetap bertahan dalam kehidupan dan terjadi sebuah proses regenerasi. “Hidup” yang tertuang dalam Bacaan Pertama maupun Injil pada hari ini bukan sebuah artian dalam pengaruh zaman sekuler. Sia-sialah seseorang memperoleh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri. Jadi, sebagai seorang Katolik, hendaknya kita mempertahankan ajaran dan perintah Yesus agar tetap “hidup” dan memberikan “kehidupan” pada generasi selanjutnya, agar tidak binasa dan tetap berpaut pada-Nya.

Mario Antonio Raja Patu Lewar (Tingkat II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!