“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang orang sakit.”

Jumat, 01 Juli 2022

Pekan Biasa XIII

Bacaan I: Am. 8:4-6, 9-12

Mazmur: 119: 2. 10.20.30.40; R: Mat. 4:4

Bacaan Injil: Mat. 9:9-13

Hari-hari ini kita disodorkan dengan berita-berita korupsi tentang bantuan sosial yang dilakukan oknum-oknum yang mempunyai kekuasaan. Mereka menyalahgunakan kekuasaannya demi kepentingan diri sendiri. Dampak dari praktik korupsi ini adalah merugikan berbagai pihak khususnya bagi orang-orang miskin dan tertindas karena kehilangan pekerjaan akibat Covid-19. Para pelaku hanya memikirkan kepentingan diri sehingga mengabaikan orang-orang yang memang membutuhkan bantuan.

Bacaan-bacaan hari ini mengecam praktik-praktik yang menindas sesama kita. Sebagaimana dalam bacaan pertama bahwa Nabi Amos mengecam keras praktik pengisapan terhadap orang kecil dan miskin melalui berbagai bentuk kecurangan dan manipulasi (bdk. Amos. 8:4). Tindakan kecurangan dan manipulatif ini seolah memandang orang-orang kecil dan miskin tidak mempunyai martabat. Sehingga layak mendapatkan perilaku demikian.  

Demikian juga dalam bacaan Injil, dimana Yesus mengecam orang-orang Farisi yang lebih senang menghakimi daripada berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Mereka melakukan hal itu karena menganggap diri paling benar. Mereka memang menguasai hukum Taurat. Namun mereka menyalahkangunakannya untuk menjatuhkan atau menindaskan ketimbang berbuat sesuatu demi memanusiakan sesamanya. Ketika melihat sikap orang-orang Farisi yang demikian, Yesus berkata kepada mereka; “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” dan “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan bukan persembahan karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan berdosa” (bdk. Mat. 9:12).

Sehingga pertanyaannya bagi kita sebagai orang yang mengaku beriman adalah bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita berada dalam pihak yang mana, menjadi orang yang mudah menghakimi sesama? Karena menganggap diri mempunyai kedudukan atau kekuasaan yang lebih tinggi sehingga orang lain tidak perlu dihargai sebagai pribadi yang memiliki martabat sama denganku. Atau menjadi orang yang melakukan tindakan kebaikan bagi sesama karena berkat belas kasih Allah yang telah kita terima sejak pembaptisan. Sehingga kita mempunyai tugas melakukan kasih kepada orang lain diriku yang lain.

Fr. Vabianus Louk – Skolastikat II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!