Agama Harus Terasa Sebagai Rahmat : Sarasehan Bintal TNI AD 2019

Agama tidak boleh membuat kita takut. Agama harus memberikan rasa aman. Agama sebagai sesuatu yang suci jangan sampai menjadi barang dagangan yang menghasut. Agama harus dirasakan sebagai rahmat.

Romo Franz Magnis Suseno
Para Kabintalkodam berfoto bersama kadisbintalad. (Foto : RD David)

Jakarta – keuskupanbogor.org: “Toleransi ternoda. Apa yang akan kita wariskan pada anak cucu kita kelak?”, demikian Brigjen TNI Asep Syarifudin (Kadisbintalad) menyampaikan pernyataan ini dihadapan para tokoh agama, para Kabintaldam se-Indonesia, tokoh-tokoh penting dan akademisi dalam sambutan pembukaan Sarasehan Bintal TNI AD TA 2019 (Rabu, 27/03/2019). Bertempat di Aula Pinaka Wiratama Sapta Marga – Disbintalad,  sarasehan ini bertujuan untuk memperkokoh toleransi antar umat beragama guna meningkatkan kemantapan idiologi Pancasila untuk menangkal idiologi radikal dalam rangka terwujudnya kehidupan yang rukun, damai dan sejahtera.

Para peserta sarasehan tengah mendengarkan paparan para nara sumber. (Foto : RD David)

Acara yang dimulai Pkl. 08.00 ini diisi dengan paparan dari para tokoh agama terkait tema toleransi yang saat-saat ini mengalami guncangan terlebih dalam masa pemilu ini : Dr. Yusnar Yusuf M.Sc, Phd (MUI – Islam), Romo Franz Magnis Suseno (Katolik), Pendeta Dr. Albertus Patty MA (Protestan – Ketua PGI), M.St, Mayjen (Purn) Wisnu Bawatanaya (Ketua Parisadha Hindu),  Pandita Ruby Santamoko S.Ag, M.Pd (Walubi). Para tokoh agama sepaham dan sepakat bahwa ternodanya toleransi berasal dari gagalnya toleransi dalam tubuh internal agama itu sendiri. “Jangan sampai kita dipecah demi kepentingan 5 tahunan. Tidak boleh mati sebelum menjadi musim yang sejati. Toleransi harus ditegakkan”, papar Dr Yusuf. Sementara Romo Franz Magnis Suseno memberikan penekanan perihal peran agama. “Agama tidak boleh membuat kita takut tetapi membuat aman. Jangan memberi ruang pada radikalisme eksklusif. Agama sebagai sesuatu yang suci jangan sampai menjadi barang dagangan yang mengahasut. Agama harus dirasakan sebagai rahmat”, papar Pastor yang menjadi guru besar di STFT Driyarkara ini.

Para tokoh agama berfoto bersama seusai sarasehan. (Foto : RD David)

Pendeta Patty menyampaikan bahwa Indonesia masih bisa bertahan sampai saat ini salah satunya karena peran besar TNI. “Pendekatan TNI yang solidaritas dan penuh cinta perlu dilakukan”, ajaknya. Pandita Ruby memberikan sebuah refleksi perihal Pancasila agar lebih dijadikan bahan refleksi ke dalam dari pada keluar. “Sila pertama berbicara Tuhan maka jadikanlah permenungan bagaimana hubungan saya dengan Tuhan bukan membandingkan Tuhan di agama lain. Demikian seterusnya sampai sila ke-5. Mayjen (Purn) Wisnu Bawatenaya menjelaskan secara komprehensif menurut bahasa keseharian prajurit langkah-langkah untuk menegakkan kebajikan dengan menggarisbawahi pentingnya memperbaiki etika moral. Beliau mengapresiasi acara sarasehan ini yang dilaksanakan di Disbintalad yang disebutnya sebagai dapurnya untuk pembinaan daya juang mental dan tempur. 

Salah satu tantangan dalam kegiatan yang sungguh baik ini adalah bagaimana membawa pengaruh lebih luas terlebih dalam dunia media sosial. “Toleransi yang sudah dibangun bertahun tahun sejak masa perjuangan mohon diviralkan untuk mengingatkan semua orang yang mulai terkooptasi dalam masa pemilu”, ajak salah seorang peserta. Turut hadir dalam acara ini putera Bung Tomo, Bapak Bambang Sulistomo (Ketua Yasayan Universitas Tujuhbelas Agustus 1945 Jakarta)  yang sungguh mengapresiasi kegiatan ini dan mengajak semua orang untuk menyebarkan pesan-pesan damai dan toleransi. 

Penandatanganan akta kesepahaman dalam Sarasehan Bintal TA 2019. (Foto : RD David)

Acara ditutup dengan penandatangan akta kesepahaman oleh para tokoh agama. Mari kita tebarkan nilai-nilai damai dan merajut kembali toleransi yang menjadi nafas hidup identitas orang Indonesia. Salam Pancasila.

Penulis : RD David


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.