Ajari Kami Berdoa!

Rabu, 9 Oktober 2019
Pekan Biasa XXVII
Bacaan I : Yun. 4: 1-11
Mazmur   : Mzm 86: 3-4.55-6.9-10
Injil    : Luk. 11: 1-4

DALAM suatu kesempatan pertemuan BKSN di sebuah lingkungan, seorang anak disuruh memimpin doa pembuka. Dengan penuh keberanian, si anak meminta agar Tuhan memberkati pertemuan tersebut dan orang-orang yang hadir dapat memetik makna bagi hidupnya. Doa tersebut dibawakan si anak dengan kepolosan dan kesederhanaan. Hal tersebut menunjukkan ketulusan si anak untuk berdoa.

Sering dalam berbagai kesempatan doa bersama atau doa pribadi, kita bingung harus berdoa seperti apa. Berbagai pertimbangan pun muncul, seperti permohonan mana yang harus didoakan, kata-kata macam apa yang indah, apakah durasinya terlalu pendek, dan sebagainya. Pertimbangan-pertimbangan seperti itu membuat kita tidak tenang, tulus dan sepenuh hati berdoa. Pertimbangan-pertimbangan seperti itu pun menjadi pergumulan para murid, bahkan seorang murid meminta secara langsung kepada Yesus agar diajarkan berdoa. Dalam Injil hari ini, Yesus menjawabnya dengan mengajarkan doa Bapa Kami.

Doa Bapa Kami hanya memuat lima permohonan. Dua permohonan bersifat pengharapan yang menyangkut relasi dengan Bapa, yakni menguduskan nama Bapa dan mengharapkan datangnya Kerajaan Surga. Di sisi lain, tiga permohonan selanjutnya bersifat permintaan akan kebutuhan hidup para murid, yakni meminta makanan yang cukup, pengampunan dari Bapa, dan perlindungan.

Lima permohonan yang termuat, menjadikan doa Bapa Kami menjadi doa yang mudah dan sederhana untuk didoakan tanpa melupakan poin-poin penting kehidupan yang harus diutamakan. Dalam terjemahan doa Bapa Kami yang biasa kita gunakan, kelima permohonan tersebut dapat dimaknai sebagai berikut:

  • Dimuliakanlah nama-Mu…” adalah tugas semua orang yang telah dibaptis. Permohonan untuk ini bukanlah sebuah pujian, namun pengharapan agar Bapa sendiri memancarkan kemuliaan-Nya kepada banyak orang.
  • Datanglah Kerajaan-Mu…” merupakan pengharapan agar Bapa menghadirkan Kerajaan Surga di dunia ini. Atau dengan kata lain agar Bapa menjadikan dunia ini (tempat kita tinggal) sesuai dengan kehendak-Nya, yakni dunia yang penuh kekudusan, kedamaian, dan cinta kasih.
  • Berilah kami rezeki pada hari ini…” adalah permohonan agar kebutuhan pokok yang bersifat jasmani dapat terpenuhi. Dalam doa Bapa Kami, rezeki yang dimohonkan tidaklah rezeki untuk jangka panjang, melainkan rezeki yang secukupnya. Yesus mengajarkan untuk tidak khawatir dengan hari yang akan datang dan percaya bahwa Bapa sendiri yang akan mencukupkan kebutuhan sesuai porsi.
  • Ampunilah dosa-dosa kami…” merupakan permohonan agar Allah mengampuni dosa-dosa kita karena kita sebagai pendosa pun sedang/telah mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita. Hal ini bukan sebagai tawar-menawar kepada Bapa, kita meminta Bapa mengampuni sebagai imbalan karena kita telah mengampuni orang lain. Akan tetapi, hal ini perlu dimaknai sebagai pengutusan untuk meneruskan pengampunan Allah kepada orang lain.
  • Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan…” adalah permohonan agar Bapa selalu melindungi kita dari segala hal-hal jahat yang dapat menganggu iman. Dalam doa ini, kita meminta Bapa membebaskan kita dari kecenderungan untuk berbuat doa dan dari pengaruh jahat si setan.

Bapa Kami merupakan jawaban ringkas, namun padat makna terhadap kebingungan kita bagaimana berdoa yang baik. Tidak ada aturan ketat bagaimana cara berdoa, dan sebenarnya kita tidak bisa berdoa, karena Roh Kudus-lah yang berdoa untuk kita kepada Allah seperti kata Santo Paulus (Roma 8:26). Yang diperlukan dalam doa adalah keterbukaan hati dan penyerahan diri akan segala penyelenggaran Ilahi, bukan banyaknya kata-kata indah bak puisi. Semoga doa Bapa Kami semakin membantu kita untuk hidup dalam hadirat Allah. (Fr. Ignatius Bahtiar)

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: