Antara Aturan dan Martabat

Sabtu, 7 September 2019
Pekan Biasa XXII 
Bacaan I     : Kol 1: 21-23
Bacaan Injil : Luk 6: 1-5                                                  

BEBERAPA waktu yang lalu, media dihebohkan dengan kisah seorang bapak yang berjalan kaki sambil menggendong jenazah anaknya dari Puskesmas Cikokol ke rumahnya. Bapak tersebut terpaksa melakukannya karena pihak puskesmas tidak dapat meminjamkan ambulans dengan alasan prosedural. Ketika saya menonton berita tersebut, sepintas saya berpikir mengenai aturan yang dibuat manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Perasaan saya bercampur-aduk saat itu: kesal, kecewa, bingung, marah, sedih, dan kasihan. Di mana letak suara hati yang di tengah situasi itu?

Hidup itu penuh dengan pilihan. Memilih menjadi sifat dasar dan keistimewaan manusia. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, manusia tidak pernah lepas dari pilihan-pilihan itu. Apakah manusia di zaman sekarang lebih sulit merenungkan keputusan-keputusannya sebelum memilih? Pada bacaan hari ini, Tuhan kita Yesus Kristus memberikan kita pilihan. Dalam refleksi saya, kisah para murid Yesus di hari sabat ini ingin mengajak kita untuk membuka mata hati kita dan melihat lebih dalam (duc in altum). Apa sejatinya tujuan manusia? Mengapa hukum atau aturan dibuat? Mengapa ada keadilan?

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, mari sejenak kita melihat kisah pada bacaan hari ini. Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya,…(ay 1) Secara singkat, Sabat adalah hari istirahat, hari dimana orang berhenti bekerja dan mengkhususkan segalanya untuk beribadah. Sabat adalah sebuah aturan yang sudah sejak lama ada dalam dinamika hidup orang Yahudi. Tetapi Yesus ingin menegaskan bahwa aturan (hukum) dibuat bukan untuk meniadakan manusia. Maka dengan hukum, Yesus justru menaikkan derajat manusia, “Manusia adalah Tuhan atas hari sabat”(ay 5). Pilihan ada di tangan kita; baptisan yang kita terima menuntut kita mengikuti apa yang Tuhan Yesus Kristus ajarkan.

Indonesia adalah negara hukum. Kita sering sekali melihat kisah-kisah tragis-dilematis antara hukum dan hati nurani. Di pihak manakah Anda memilih untuk berada? Mari kita refleksikan bersama…

Tuhan memberkati.


Ya Bapa, aturan dan kebiasaan duniawi sering membutakan nurani kami. Arahkanlah kami hanya pada suara-Mu yang bersemayam dalam hati kami, agar tiap pilihan yang kami buat sungguh-sungguh sesuai dengan kehendak hati-Mu, dan membawa kebaikan bagi sesama. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.