Antara Kenyamanan dan Kebenaran

Jumat, 11 Oktober 2019
Pekan Biasa XXVII
Bacaan I : Yl. 1:13-15;2:1-2
Mazmur   : Mzm 9:2-3,6,16,8-9
Injil    : Lukas 11:15-26

SAUDARA-saudari terkasih dalam Yesus Kristus, dalam kehidupan sehari-hari kita tentu sering mengalami saat di mana kita begitu menginginkan sesuatu. Segala cara terlintas di pikiran kita untuk mendapatkan hal tersebut. Kadang bahkan kita mempertimbangkan cara yang tidak baik demi mencapai tujuan itu. Kita luput memikirkan bagaimana hal itu berdampak bagi orang lain. Di benak kita, yang terpenting ialah “rencana dan tujuanku dapat terlaksana”.

Pemikiran egois ini membuat kita tidak waspada dengan berbagai jerat yang bisa menjerumuskan kita ke dalam dosa. Dalam beberapa saat, kita mungkin merasa nyaman dan senang karena berhasil mendapatkan keinginan kita, meski kita tahu cara yang kita tempuh tidak berkenan bagi Tuhan. Lalu setelah kesenangan semu itu membawa konsekuensi berupa persoalan atau masalah, barulah kita terpuruk dalam penyesalan.

Dalam bacaan Injil hari ini, digambarkan bahwa pengaruh jahat memang akan terus berdatangan. Si jahat tidak akan berhenti untuk mengganggu iman orang yang percaya kepada Tuhan. Gangguan ini menjadi sumber ujian yang perlu kita tempuh agar iman kita semakin bertumbuh. Godaan si jahat dapat datang dalam berbagai bentuk, termasuk berupa kesenangan dan kenyamanan duniawi yang instan. Hal-hal ini memanjakan kita dan justru menjauhkan kita dari Allah.

Kadang kita juga bersikap seperti orang-orang yang hendak mencobai Yesus. Jika kita punya suatu keinginan yang kuat, kita menuntut Tuhan untuk mengabulkannya bagi kita. Kita menuntut tanda-tanda, keajaiban-keajaiban yang mengagumkan; seolah Ia membutuhkan pembuktian-pembuktian itu untuk menunjukkan kuasa-Nya. Untuk itu, Yesus memperingatkan kita: “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku” (ay 23).

Tuhan kita adalah Allah yang penuh kasih sekaligus Allah yang adil. Ia tentu tidak akan memberi ular pada kita yang minta ikan (bdk. Luk 11:11). Meski kita tidak selalu dapat memahami cara kerja-Nya yang penuh misteri, kita percaya bahwa Ia juga tahu apa yang baik bagi kita (bdk. Luk. 11:13). Seraya menanti dengan harapan akan jawaban Tuhan atas doa-doa yang kita panjatkan, kita diajak untuk tetap bersukacita dan mewartakan kebenaran; tidak tergoda dengan cara-cara pintas yang ditawarkan si jahat. Maka, di antara segala kesenangan instan yang ditawarkan dunia, mari kita bertanya pada diri kita sendiri: maukah kita tetap berdiri bersama Yesus dan membiarkan kuasa-Nya yang bekerja?

(Frater Wolfgang Amadeus Mario Sara/RDHJ)


Tuhan Allah kami, tiada satu hal pun yang menandingi kuasa-Mu. Dalam masa yang penuh cobaan dan tantangan, semoga kami mampu bertahan dengan berpegang pada Firman-Mu, agar Kerajaan-Mu pun sungguh terwujud di bumi ini. Amin.

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: