Antara Yesus, Yudas, Petrus, dan Kita

Selasa, 7 April 2020

Pw. St. Yohanes Pembaptis de la Salle, Imam

Bacaan I          : Yes. 49: 1-6

Bacaan Injil     : Yoh. 15: 21-33.36-38

 

Film “300” buatan sutradara Zack Snyder ini mungkin adalah salah satu karyanya yang paling ciamik. Memiliki ciri khas yang edgy dan cukup dark, sentuhan Zack Snyder dalam film tersebut “kawin” dengan sempurna dengan cerita tokoh utamanya yang menusuk hati. Cerita tentang Raja Leonidas di abad 480 sebelum masehi ini membuatmu bersimpati pada mereka dan 300 tentara Spartan yang harus mati-matian bertarung melawan tentara Persia yang jumlahnya berkali lipat. Pengkhianatan yang dilakukan oleh salah seorang musuhnya tetapi justru mengakibatkan 300 tentara ini memenangkan perang tersebut. Peperangan yang seharusnya diharapkan kalah melalui pengkhianatan oleh musuhnya justru malah berdampak sebaliknya.

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini adalah kisah yang sangat sering kita dengar, yaitu kisah Yudas sang pengkhianat dan Petrus yang menyangkal Yesus. Tentu hal ini pasti membuat kita sebagai orang yang percaya sangat geram. Bahkan mungkin kita dapat menduga perasaan Yesus seperti apa. Pasti merasa kecewa dan sakit. Bagaimana tidak, murid-murid itu dipilihnya sendiri. Mereka diajarkan hal-hal baik. Akan tetapi, balasan yang Ia terima tidak setimpal, atau sebaliknya. Apakah benar perasaan Yesus seperti ini? Mungkin benar, mungkin juga tidak. Yesus mengetahui semuanya. Yesus mengetahui segalanya.  Tindakan Yudas justru diketahui olehNya. Demikian juga dengan Petrus. Yesus sudah siap akan segala hal yang sangat mengecewakan tersebut: pengkhianatan.

Ajaran dan tindakan tentang kasih ternyata tidak mengakar dalam diri para murid. Sebaliknya, mereka justru menyangkal dan menghianati-Nya. Parahnya, tindakan tersebut dilakukan di saat-saat penderitaan Yesus. Penderitaan adalah saat ketika kita membutuhkan kehadiran orang lain untuk menguatkan kita. Sebagai pertanyaan reflektif, apakah kita sanggup untuk tidak melakukan dua hal tersebut? Apakah kita sanggup untuk tidak menjadi Yudas dan Petrus yang menambah kesengsaraan dan penderitaan Yesus?

Yesus senantiasa mengajarkan kasih dan pengampunan. Bahkan, di saat   penderitaan-Nya, ia masih dapat menghibur orang yang berduka, mengampuni penjahat dan juga memberi peneguhan kepada ibunya, Bunda Maria. Marilah kita senantiasa menanamkan ajaran dan teladan Yesus untuk mengasihi dan mengampuni walaupun di saat-saat tersulit dengan tidak mengambil bagian sebagai Yudas ataupun Petrus. Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa

Allah Bapa yang Maha Baik, kami mengucap syukur karena Engkau telah menyertai kami semua. Kami memohon maaf atas apa yang telah kami perbuat. Mungkin kami sempat mengecewakan-Mu atau mungkin kami pernah membuat-Mu sedih dengan segala perbuatan kami. Ampuni kami Tuhan. Amin.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.