Bagi Manusia ini Akhir, Bagi Allah ini Awal

Dalam pandangan manusia ada rasa kecewa saat Allah tidak segera bertindak. Sesuatu yang dianggap manusia sebagai akhir, bisa menjadi sebuah awal bagi karya Allah yang luar biasa.

RD David
Renungan Harian
Senin, 8 April 2019
Pekan Prapaskah V
Bacaan : Raja-raja 4:18b-21.32-37; Yohanes 11: 1-45

Kebangkitan Lazarus dari kematian; telah terkubur selama empat hari, dalam kisah Injil Yohanes memberikan penekanan akan kuasa Yesus. Para murid, Maria dan Martha saudara Lazarus tidak mudah memahami setiap kata dan maksud Yesus sampai akhirnya puncaknya mereka menyaksikan kuasa Yesus yang begitu dahsyat. Rasa duka, kehilangan anggota keluarga terkasih, serta kecewa karena Yesus tidak segera hadir bertindak saat Lazarus masih sakit dan akhirnya berujung kematian, tidak serta merta memudahkan pribadi-pribadi ini yakin akan kuasa Yesus.

Dalam hidup kita pun demikian. Pemikiran manusia dan harapan besar manusia tidak pernah bisa dipaksakan pada rencana dan karya Allah. Kita akan menjadi stress dan berbeban berat ketika memaksakan konsep kita dengan konsep Allah. Saat mengalami seolah Allah tidak sejalan dengan pemikiran dan harapan kita efeknya bisa marah, berontak dan mogok doa (percaya).

Perlu sebuah kekuatan ekstra untuk tetap mau yakin bahwa Allah tetap menyelamatkan. Keyakinan itu diuji lewat kekecewaan, kemarahan, kebingungan, kehilangan, duka, putus asa, tangisan dan air mata. Dalam pandangan manusia ada rasa kecewa saat Allah tidak segera bertindak. Sesuatu yang dianggap manusia sebagai akhir, bisa menjadi sebuah awal bagi karya Allah yang luar biasa.

Tuhan ajarlah aku tetap setia menantikan karya rancangan keselamatanMu dalam hidupku meski itu diuji lewat kecewa, derita, dan air mata. Amin

RD David

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.