Bahagiamu, Bahagiaku juga

Rabu, 21 Agustus 2019-08-17 PW St. Pius X, Paus

Bacaan I          : Hak. 9: 6-16

Mazmur           : Mzm. 21:2-3.4-5.6-7

Injil                  : Mat. 20:1-16

Hari ini kita memperingati Santo Pius X, seorang paus yang berkarya pada tahun 1903-1914. Nama aslinya adalah Giuseppe Melchiore Sarto. Walaupun sudah menjadi paus, Sarto tetap hidup sederhana dan ramah pada umat. Karyanya yang terkenal adalah mendirikan lembaga studi Kitab Suci dan memperbaharui Vulgata (Kitab Suci berbahasa Latin). Ia dinyatakan Santo pada 29 Mei 1954.

Setiap orang pasti menginginkan hal baik untuk dirinya, baik itu prestasi, pujian, pemberian materi, dsb. Untuk mendapatkan hal yang baik tersebut pun perlu usaha. Tak jarang, dikeluarkan tenaga atau biaya yang cukup banyak demi mendapatkan hal baik yang diinginkan. Injil hari ini mengisahkan bagaimana usaha orang-orang untuk mendapatkan penghasilan dengan cara bekerja di kebun anggur. Tak disangka, tuan pemilik kebun anggur memukul rata gaji para pekerja, yakni satu dinar. Semua pekerja mendapat gaji yang sama, baik itu yang masuk kerja dari pagi maupun  yang dari sore. Hal tersebut mengherankan bagi beberapa pekerja.

Ketika diri sendiri mendapat hal baik, pasti kita merasa bahagia dan bangga. Sementara itu, ketika ada teman kerja yang mendapat promosi, atau teman sekelas mendapat nilai bagus, atau tetangga membeli mobil baru, akankah kita turut berbahagia bersama dia? Kecenderungan yang terjadi adalah bertanya-tanya “mengapa dia juga mendapat yang sama seperti saya?” atau berkomentar “ah, hoki doang”. Secara tidak sadar muncul rasa iri hati karena orang lain mempunyai hal yang sama dengan saya. Kita tidak bahagia melihat orang lain berprestasi atau kehidupannya berkembang.  Iri hati semacam itu menumbuhkan mental kompetisi, yakni menganggap orang-orang disekitarnya adalah saingan dan harus berada di bawah kita.

Allah memberikan rahmat-Nya kepada semua orang tanpa terkecuali. Jika kita sendiri saja boleh mendapat rahmat yang baik, mengapa kita tidak suka ketika orang lain mendapat rahmat yang baik juga? Ketika kita turut bahagia bersama orang lain yang berprestasi atau berhasil, kita tidak akan kerugian apapun. Iri hati yang akan merugikan diri kita sendiri karena akan selalu berprasangka buruk. Semoga kita semakin dapat menyadari bahwa rahmat yang diterima orang lain pun merupakan rahmat bagi kita.  Fr. Ignatius Bahtiar Tumanggor

Santo Pius X, Bantulah kami untuk semakin mengenal Tuhan Yesus lewat pendalaman Kitab Suci. Sertailah kami dalam setiap pekerjaan kami. Semoga kami tidak hanya berkompetisi dalam bekerja, namun menghargai setiap manusia dengan segala kemampuan dan kelemahannya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.