Berhenti Menghakimi

Sabtu, 14 Desember 2019
Pekan Adven II 
PW Santo Yohanes dari Salib, Imam dan Pujangga Gereja  
Bacaan I     : Sir 48: 1-4.9-11
Bacaan Injil : Mat 17: 10-13                                                                          

SAUDARA-saudariku yang terkasih dalam Yesus Kristus, Alkisah pada suatu hari, hiduplah sekelompok kera di sebuah hutan yang luas. Dari sekelompok kera itu ada yang bernama Mikun. Ia masih muda dan gagah, tetapi Mikun seringkali tidak percaya diri karena ia berasal dari status sosial bawah, dan sering kali dijuluki sebagai klenik atau peramal palsu.

Pagi hari, Mikun melakukan perjalanan ke gunung untuk mencari persediaan makan di rumah. Jarak gunung dari hutan cukup jauh dan Mikun harus kembali sebelum matahari tenggelam. Tetapi sesampainya di sana, Mikun menyaksikan para penebang liar memangkas habis pohon-pohon besar yang ada di sekitar gunung menggunakan ‘traktor’. Sambil terus mengamati, Mikun merasa tempat tinggal kelompoknya terancam. Akhirnya Mikun dengan cepat kembali menuju ke rumah. Lalu ia berteriak dengan keras kepada kelompok kera disana “SEMUANYAAA…. CEPAT KITA PERGI DARI SINI, POHON KITA AKAN DIROBOHKAN!’ semua kera di desa itu keluar dan berdiri depan rumah mereka masing-masing dan melihat si Mikun berteriak-teriak. Seketika itu juga mereka kembali masuk ke rumah masing-masing, karena melihat yang berkata adalah Si Mikun. Mikun berusaha meyakinkan semua kera di desanya, tetapi tidak ada satupun yang percaya. Beberapa jam kemudian, tiba-tiba kendaraan besar dengan mesin yang berisik menabrak pohon itu dan seketika tumbanglah tempat tinggal para kera itu.

Sepenggal kisah yang saya sampaikan di atas memiliki keserupaan dengan konteks bacaan hari ini. Kehadiran nabi Elia yang senatiasa membuat mukjizat, memberikan peringatan, berkhotbah dan lain sebagainya tidak digubris orang-orang. Begitu juga maksud Injil hari ini yang mengisahkan tentang Yohanes Pembaptis. Keseluruhan hidup Yohanes dipersembahkan untuk kedatangan sang Mesias. Yohanes mempersiapkan dirinya menjadi orang eseni, yakni salah satu sekte Yahudi yang hidup dan berkembang di tepi Laut Mati sejak tahun 65 SM. Kelompok ini membaktikan seluruh hidupnya di padang gurun dengan melakukan tapa, bermeditasi, pantang dan puasa. Usaha yang dilakukan Yohanes dan Elia dalam bacaan Injil hari ini seolah dianggap gagal, karena tawaran mereka tidak meluluhkan hati bangsa Israel pada masa itu.

Hari ini kita memperingati Santo Yohanes dari Salib, yang kisah hidupnya sangat erat hubungannya dengan bacaan hari ini. Santo Yohanes dari Salib dihukum dan dikucilkan dalam penjara biara, karena ada beberapa teman ordonya yang tidak suka akan kebijakannya.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, kadang kita pun bertindak seperti orang-orang Israel atau teman-teman dari Santo Yohanes Salib itu. Kita cepat membuat judgment, menilai buruk akan seseorang yang ingin menyampaikan kabar sukacita dari Allah. Masa penantian adalah masa untuk mengesampingkan judgment semacam itu, maka masa ini disebut juga masa pemutihan. Kita memutihkan kembali motivasi dan hati kita untuk menyambut kedatangan Sang Juru Selamat.

Lalu apa yang harus dilakukan pada masa penantian ini? Sama seperti masa prapaskah, dengan pantang (menilai buruk orang lain), puasa (gossip) dan senantiasa berdoa. Tuhan Memberkati.

[Fr. Petrus Damianus Kuntoro]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.