Beriman dengan Cerdas

Renungan Harian
Rabu, 7 Agustus 2019
Pekan Biasa XVIII
Bacaan : Bilangan 13:1-2.25-33; 14:1. 26-30.34-35

Salah satu hal yang sulit kita lakukan adalah mempercayai seseorang secara penuh. Dengan siapapun kita bergaul dan sedekat apapun itu belum tentu kita akan percaya sepenuhnya orang tersebut. Kita seringkali berpikir ‘kamu menguntungkan bagi saya atau tidak, kamu membantu saya atau tidak’. Hal ini menjadi positif, mengingat terkadang kita selalu memikirkan dampak pertemanan itu bagi diri kita sendiri.  

Bacaan pertama pada hari ini menggambarkan situasi yang demikian. Suku Israel bersungut-sungut dan mencoba melawan Tuhan. Tuhan menjanjikan tanah Kanaan untuk bangsa Israel, tetapi mereka justru bersikap seperti bangsa yang tidak percaya, tidak tahu bersyukur bahkan menyalahkan Tuhan.

Dalam situasi seperti ini, Tuhan pun tidak tinggal diam. Ia memberikan peringatan keras bahwa suku bangsa ini tidaklah akan selamat dan bahkan akan musnah. Ternyata situasi ini belum cukup membuat bangsa Israel mengerti akan Allah sang Penyelamat. Mereka selalu ragu akan kekuatan dan kebesaran Allah. Allah memberikan segalanya tetapi mereka tetap bersungut-sungut. 

Sebaliknya, pada bacaan Injil menunjukkan bahwa iman wanita Kanaan yang begitu besar akan kebesaran Tuhan sehingga menghasilkan buah yang menjadi berkat. Dikisahkan bahwa anak perempuan wanita Kanaan yang kerasukan dan menderita ini disembuhkan oleh Yesus dan juga oleh karena iman wanita itu yang sungguh besar senantiasa memohon dan berharap anaknya disembuhkan oleh Yesus.

Oleh karena itu, saudara-saudari yang terkasih, melihat hal ini Tuhan ingin mengajak kita untuk beriman dengan cerdas. Tuhan berpesan kepada kita bahwa beriman itu ialah mengusahakan dan melakukan yang terbaik. Solusi yang terbaik itu bukan mengkhawatirkan akan apa yang terjadi nanti tetapi meyakini diri akan berhasil dan berjuang terus-menerus.

Lalu, tidak berhenti berharap dan memasrahkan segalanya pada Tuhan. Bagi siapa yang percaya padaNya, Tuhan punya jalan terbaik buat kita. Marilah kita membuka hati kita untuk menerima Tuhan hadir dan membantu diri kita. Sehingga kita tidak bersungut-sungut dan justru semakin merasakan bahwa Tuhan sungguh memiliki andil yang besar dalam hidup kita dan inilah berkat yang pantas kita dapatkan.

Frater Wolfgang Amadeus Mario Sara / RDHJ

*Seminari Tinggi Santo Petrus Paulus

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: