Budaya Kehidupan, bukan Budaya Kematian

Rabu, 03 Juni 2020, Rabu Pekan Biasa IX,

Pw. St. Karolus Lwanga, dkk

Bacaan I         : 2 Tim. 1: 1-3. 6-12

Mazmur           : Mzm. 123: 1-2d

Injil            : Mrk. 12: 18-27

 

Pada hari ini, Gereja merayakan peringatan wajib St. Karolus Lwanga, martir dari Uganda. Konteks zaman saat Karolus Lwanga hidup adalah banyaknya penganiayaan dan pembunuhan orang-orang Kristen di Afrika. Penganiayaan dan pembunuhan tersebut terjadi karena ajaran Kristen dianggap melawan ajaran tradisional dan primitif adat setempat. Adat istiadat setempat mendukung perbudakan, perdagangan manusia, poligami, dan animisme. Adat istiadat yang primitif ini membawa budaya kematian karena banyak merugikan orang. Karolus Lwanga menjaga anak-anak Kristen Uganda agar tidak tercemar oleh perbuatan bejat Muanga, raja Uganda. Alhasil, raja tersebut memenjarakan dan membunuh anak-anak Kristen, termasuk Karolus Lwanga. Sampai pada akhir hayatnya, Karolus Lwanga dan anak-anak Kristen tersebut tidak goyah imannya. Mereka dibunuh demi membela imannya karena yakin bahwa Allah akan memberikan kehidupan yang kekal sesudah kebangkitan.

Dalam Injil hari ini, orang-orang Saduki mempersoalkan mengenai kebangkitan kepada Yesus. Hal tersebut terjadi karena orang Saduki tidak mempercayai kebangkitan dengan alasan mereka tidak menemukan pengajaran tentang kebangkitan dalam PL  (Kitab Perjanjian Lama). Walaupun orang Saduki adalah orang Yahudi yang kaya dan berpendidikan, tak serta merta mengikuti tradisi percaya akan kebangkitan, seperti yang dipercaya oleh orang Farisi. Orang Saduki percaya bahwa ketika tubuh mati maka jiwa pun mati. Pertanyaan yang diajukan pada Yesus mengenai siapa suami perempuan yang selalu ditinggal mati pasangannya ketika pada hari kebangkitan merupakan pertanyaan olok-olok. Akan tetapi, Yesus malah mengatakan mereka sesat karena mereka tidak mengerti Kitab Suci maupun Kuasa Allah. Yesus menekankan bahwa pada hari kebangkitan, kehidupan tidak sama lagi seperti kehidupan di dunia. Kuasa Allah membangkitkan orang mati karena Allah sendiri adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati.

Topik mengenai akhir zaman, kiamat, dunia sesudah kematian, dan kebangkitan merupakan isu yang menarik dan mengundang banyak perhatian. Walaupun topik-topik tersebut merupakan misteri, tetap saja banyak orang berspekulasi mengenai bagaimana nanti hari kiamat itu; bagaimana rasanya masuk ke dunia orang mati; dll. Tak heran banyak buku-buku atau film yang menggambarkan seperti apa kelak kiamat datang dan bagaimana dunia orang mati. Dalam Injil hari ini, Yesus dengan jelas mengatakan bahwa Allah yang kita percayai adalah Allah orang yang hidup sehingga kebangkitan itu dimungkinkan karena kuasa Allah sendiri. Hal tersebut jauh dari spekulasi, melainkan kebenaran. Kebenaran yang ada di dalam Kitab Suci dan kuasa Allah, sehingga tak heran orang Saduki dikatakan sesat karena tidak percaya akan adanya kebangkitan.

Kehidupan sesudah kematian bukanlah urusan kita manusia karena kita tidak tahu seperti apa bentuknya dan bagaimana rasanya, yang jelas Yesus sudah memberitahukan bahwa akan ada kebangkitan karena kuasa Allah. Kebangkitan itu dimungkinkan karena Allah menginginkan manusia tetap hidup dalam naungan yang Ilahi, tidak lagi dalam naungan duniawi. Oleh karena itu, kehidupan sebelum kematian ini merupakan urusan kita manusia. Allah menghendaki agar manusia saling mendukung kehidupan sesama dan alam ciptaan, bukan malah membuat mati. Mari kita menciptakan budaya kehidupan, bukan budaya kematian.

[Fr. Ignatius Bahtiar]

“Ya, Allah, kami percaya bahwa Engkau adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati. Tuntunlah kami dengan Roh Kudus-Mu, agar kami dapat semakin percaya pada-Mu. Bimbinglah kami juga agar dapat menciptakan budaya kehidupan kepada sesama dan alam ciptaan”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.