Bukalah, Maka Tuhan Datang

Selasa, 17 September 2019
Pekan Biasa XXIV
Bacaan I     : Tim. 3: 1-13
Bacaan Injil : Luk. 7: 11-17

ADA seorang raja yang sudah terbaring sakit begitu lama. Segala macam obat dan metode penyembuhan sudah dilakukan, namun hasilnya tetap sama. Orang itu tidak sembuh juga. Dokter juga tabib dari berbagai macam tempat sudah memberikan resep, namun tidak kunjung sembuh juga. Bahkan mereka tidak mengetahui penyakit apa yang dideritanya.

Seorang pertapa tidak sengaja mendengar kabar bahwa ada raja terbaring sakit dan sudah begitu lama. Kemudian tanpa perbekalan dia menuju istana untuk bertemu raja. Pertapa melihat kondisi raja itu kemudian dia tersenyum. Semua orang di ruangan itu heran mengapa pertapa ini tersenyum melihat raja terbaring sakit. Pertapa bertanya kepada sang Raja, “Kapan terakhir kali kamu berdoa?”. Raja menjawab, “Aku pun tak tahu cara berdoa”. Pertapa berdiam sejenak lalu membalas, “Bila engkau ingin sembuh, suruhlah orang keluar dari ruangan ini”. Semua orang semakin bingung dengan pernyataan pertapa. “Kemudian bukalah hatimu, biarkan Tuhan mengunjungimu”, lanjut pertapa. Beberapa hari ke depan setelah mengikuti apa yang diperintahkan pertapa, keadaan sang raja semakin membaik.

Seringkali orang menutup dirinya akan kedatangan Allah. Padahal Allah sendiri bersedia untuk hadir bahkan tanpa diminta. Segala permohonan, segala apa yang kita minta kepda Allah, segala apa yang kita inginkan kepada Allah bila tidak disertai dengan hati yang terbuka, semua itu akan terasa sia-sia. Dan pada akhirnya kita yang akan merasa kecewa pada Allah. Kekecewaan yang kita timbulkan sendiri itu bermula dari tertutupnya diri kita terhadap Allah. Biarkanlah Allah mengunjungi kita.

Dalam bacaan Injil hari ini, seorang janda yang kehilangan anak satu-satunya merasa begitu sedih. Dengan peka Yesus langsung menyadari bahwa ia harus ditolong. Statusnya sebagai janda menjadi perhatian khusus. Apalagi anak tunggalnya adalah satu-satunya harta dalam hidup sang janda. Namun dua hal utama yang menggugah hati Yesus adalah keterbukaan dan kepasrahannya. Keterbukaan hati dan kepasrahan diri janda itu akan kedatangan Tuhan menyentuh hati Yesus. Yesus pun mengunjungi janda itu. Peristiwa ini pun menandakan bahwa Allah datang mengunjungi umat-Nya.

Sikap keterbukaan hati akan kedatangan Tuhan ini menjadi salah satu wujud iman kita terhadap-Nya. Sampai kapan pun, kesediaan Tuhan yang mau datang dan berkunjung kepada kita menjadi percuma bila kita tidak menanggapinya dengan keterbukaan. Hati yang tertutup tidak hanya membuat kita tidak peka terhadap sekitar, namun juga membuat kita merasa bahwa Tuhan tidak datang kepada kita. Karena itu, bukalah hati kita terhadap kedatangan-Nya, maka semuanya akan menjadi baru. (Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa)


Yesus yang murah hati, meski kadang sulit bagi kami untuk melihat hal-hal baik dalam hidup kami, kami percaya bahwa Engkau selalu menyertai dan berada di tengah kami. Ajarlah kami untuk selalu hidup dalam keterbukaan terhadap sapaanMu. Amin.

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: