Dalami Seri Dokumen Gerejawi Maximum Illud, 23 Imam Muda Berkumpul Berdoa dan Belajar Bersama

Jakarta – keuskupanbogor.org : Abad 20 dipahami sebagai abad misi karena pada abad inilah misi menjadi hidup. Demikianlah Romo Habel memberikan penekanan terkait karya misi yang disampaikan kepada para rekan imam muda dalam temu imam muda di Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu – Jakarta (selasa, 17/9).

Para imam belajar bersama dokumen gerejawi Maximum Illud dalam pertemuan BIM (Bina Imam Muda) di Kepulauan Seribu, Jakarta (selasa,17/9). (Foto : RD David)

Kehadiran seri Dokumen Gerejawi No.108, Surat Apostolik Paus Benediktus XV, Maximum Illud, memberikan penekanan terkait jati diri gereja yaitu sebagai misionaris. Bermisi tidak identik dengan tugas ke tempat-tempat terpencil. Misi artinya membawa dan menghidupkan nilai-nilai Injili kepada setiap jiwa.

Romo Habel menjelaskan dokumen yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh KWI pada Juni 2019 ini dengan memberikan beberapa penekanan diantaranya :
1. Sukacita sebagai energi utama menjalankan misi,
2. Bahasa setempat sebagai pintu masuk bermisi,
3. Karya misi bukan hanya tertuju kepada orang katolik saja tetapi kepada seluruh jiwa,
4. Hindari motivasi mencari keuntungan diri dalam bermisi.

Masalah lain yang harus diwaspadai seorang misionaris adalah mencari keuntungan dan bukan keuntungan jiwa-jiwa.

Maximum Illud 21
http://www.dokpenkwi.org/wp-content/uploads/2019/07/Seri-Dokumen-Gerejawi-No-108-MAXIMUM-ILLUD.pdf
Perayaan Ekaristi mengawali pertemuan imam-imam muda. (Foto : RD David)

Belajar bersama menjadi sebuah kegiatan yang dilakukan para imam untuk menambahkan wawasan dan memperkaya semangat karya pastoral. Para imam muda (usia tahbisan di bawah 10 tahun) rutin melakukan pertemuan bersama. Pertemuan kali ini dihadiri 23 imam dari berbagai tempat tugasnya di wilayah Keuskupan Bogor.

Romo Tukiyo (Pendamping BIM) dan Romo Jeremias (Jemmy) Ketua BIM dalam sesi tanya jawab belajar bersama Maximum Illud di Jakarta. (Foto : RD David)

Belajar bersama juga menjadi media untuk semakin merefleksikan karya sebagai imam. “Apakah saya saat ini sudah menjadi seorang misionaris di tempat saya di tugaskan?”, tutur Romo Natet dalam sesi pendalaman materi.

Romo Endro menitikberatkan karya misi terkait pada OMK. “Ada sebuah keprihatinan melihat orang muda bahkan umat secara umum yang jangankan untuk dialog dengan agama lain, memimpin doa saja malu dan takut. Lalu bagaimakah akhirnya misi itu diterjemahkan?”, tuturnya memberikan kritisisasi.

Rekreasi bersama mengelilingi pulau menjadi salah satu bagian pertemuan. Manakah pastor yang bertugas di paroki anda? (Foto : RD David)

Temu imam muda ini dilangsungkan mulai hari ini hingga esok hari (rabu, 18/9). Doa bersama, Misa dan rekreasi bersama menjadi agenda kegiatan sepanjang pertemuan. Romo Tukiyo sebagai pastor pendamping imam-imam muda (BIM) pun turut hadir.

Mari kita dukung para imam muda untuk senantiasa semakin enerjik dan kreatif dalam karya pastoral. Mari juga kita sadari dan hidupi pribadi kita semua sebagai murid Kristus untuk selalu melakukan karya misi.
(RD David)

Berikan komentar Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: